Ambon, 17 September 2026 – Setelah dua bulan mengikuti kegiatan magang di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, dua Masyarakat Adat Desa Lorang, Sipora Badidi atau yang akrab disapa Mama Apo dan Frans Ganobal atau Bapak Frans, mempresentasikan hasil pembelajaran mereka dalam seminar hasil sekaligus pelepasan peserta magang. Keduanya merupakan masyarakat dampingan Forest Watch Indonesia (FWI) yang mengikuti program magang untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan di bidang perikanan dan budidaya laut. Kelancaran kegiatan ini tidak lepas dari koordinasi yang baik antara BPBL Ambon dan FWI, dengan dukungan Bapak Vincent (Plt Kasubag Umum) dan Bapak Umar dari pihak balai.
Kegiatan yang berlangsung pada pukul 14.00 WIT di salah satu ruang BPBL Ambon tersebut diawali dengan pembukaan dari pihak balai, kemudian dilanjutkan dengan presentasi seminar hasil oleh Bapak Frans dan Mama Apo. Dalam presentasinya, keduanya menceritakan berbagai pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti kegiatan magang di BPBL Ambon. Mulai dari pemberian pakan ikan dengan ukuran yang berbeda, perawatan ikan yang sakit, perawatan keramba, hingga proses pemanenan. Salah satu pengetahuan yang mereka dapatkan adalah cara menangani ikan yang terserang parasit. Ikan yang menunjukkan gejala penyakit perlu dipisahkan terlebih dahulu dari ikan yang sehat untuk mencegah penularan.
“Kita jadi tau cara grading dengan misahin ikan berdasarkan ukuran, kemudian ikan yang sakit atau ditemukan ada parasit itu dipisahkan dari ikan yang sehat untuk ditangani. Kita juga belajar membersihkan jaring, memberikan pakan sesuai jenis dan ukuran ikan, dan jadi tau waktu panen. Misalnya, kakap putih dipanen sekitar tujuh bulan, kerapu sekitar sepuluh bulan, dan bawal bintang sekitar enam bulan,” ujar Bapak Frans saat memaparkan pengalaman magangnya.
Selain budidaya ikan, Bapak Frans dan Mama Apo juga mendapatkan pengalaman dalam budidaya rumput laut. Pembelajaran tersebut mencakup proses penyiapan bibit, pemanenan, hingga penanganan dan pengemasan rumput laut sebelum dikirim ke luar daerah. Bagi Mama Apo, salah satu pengetahuan baru yang diperoleh selama mengikuti magang adalah teknik menjaga kualitas rumput laut selama proses pengiriman antarpulau. Pengetahuan tersebut menjadi penting mengingat hasil budidaya dari komunitas di wilayah kepulauan membutuhkan proses distribusi yang dapat menempuh jarak cukup jauh.
“Saya awalnya tidak tahu cara mengemas rumput laut agar tahan lama dan masih bagus hingga sampai di luar pulau seperti NTB. Ternyata ada cara pengemasannya sendiri, di mana kita harus kasih bersih rumput laut dan kasih es rumput laut dengan menggunakan air asin,” ungkap Mama Apo.
Pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan baru bagi peserta magang. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat dibawa kembali ke Desa Lorang dan dikembangkan bersama komunitas.
Bagi FWI, kegiatan magang ini merupakan salah satu upaya untuk membuka akses pembelajaran bagi Masyarakat Adat Lorang agar dapat mengembangkan potensi sumber daya perikanan secara lebih baik di wilayahnya.
“Kami berterima kasih kepada BPBL Ambon yang telah memberikan kesempatan kepada Mama Apo dan Bapak Frans untuk belajar langsung tentang budidaya perikanan. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh selama magang dapat dikembangkan bersama masyarakat di Desa Lorang. Kami juga berharap pembelajaran ini dapat menjadi awal dari kerja sama lanjutan antara FWI, BPBL, dan masyarakat,” ujar Awan, perwakilan Forest Watch Indonesia.
Nurmadiah dari Forest Watch Indonesia juga menyampaikan: “Melalui program magang ini, kedepannya masyarakat adat Desa Lorang dapat mengembangkan budidaya ikan air laut, khususnya ikan kerapu, dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui praktik langsung selama mengikuti program magang di BPBL Ambon. Pengetahuan tersebut nantinya tidak hanya dapat meningkatkan kualitas budidaya, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi dan menjadi salah satu alternatif penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat adat Desa Lorang.”
Pengetahuan yang diperoleh selama magang diharapkan tidak hanya berhenti pada dua peserta. Keduanya diharapkan dapat membagikan pengalaman tersebut kepada masyarakat di Lorang sehingga pengetahuan mengenai budidaya ikan dan rumput laut dapat menjadi bagian dari penguatan kapasitas komunitas.
Setelah seluruh rangkaian seminar hasil selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan peserta magang oleh pihak BPBL Ambon. Dalam sambutannya, Pak Vincent selaku Plt Kasubag Umum BPBL Ambon menyampaikan apresiasi kepada Mama Apo dan Bapak Frans yang telah mengikuti proses magang selama hampir dua bulan.
“Terima kasih. Hari ini kita akan melakukan pelepasan peserta magang dari Forest Watch Indonesia, yakni Pak Frans dan Mama Apo yang kurang lebih dua bulan sudah melakukan magang di sini. Kami berharap hal-hal yang sudah dipelajari itu dipraktikkan. Kami juga meminta maaf jika ada yang kurang dari fasilitas atau apa pun yang kurang berkenan,” ujar Pak Vincent.
Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada FWI yang telah menjembatani kedua peserta untuk mengikuti pembelajaran di BPBL Ambon, khususnya dalam rangka mendukung pengembangan perikanan ke depan.
“Terima kasih FWI sudah menjembatani Pak Frans dan Mama Apo ke sini untuk kepentingan perikanan ke depan. Saya kira itu yang bisa saya sampaikan. Untuk itu, kami nyatakan peserta magang dari FWI sudah selesai,” lanjutnya.
Berakhirnya masa magang Mama Apo dan Bapak Frans di BPBL Ambon bukan menjadi akhir dari proses belajar. Pengetahuan mengenai budidaya ikan, penanganan kesehatan ikan, serta budidaya dan pengemasan rumput laut menjadi bekal yang diharapkan dapat dibawa pulang dan dipraktikkan di Lorang.
Bagi masyarakat kepulauan seperti Desa Lorang, penguatan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan sumber daya laut menjadi bagian penting dalam membangun pilihan-pilihan penghidupan yang sesuai dengan kondisi wilayah dan kebutuhan komunitas. Melalui proses belajar, berbagi pengetahuan, dan kolaborasi antara masyarakat, lembaga pendamping, dan instansi pemerintah, pengalaman dari Ambon diharapkan dapat tumbuh menjadi praktik yang bermanfaat bagi komunitas di Lorang.
