MEMBONGKAR FAKTA : Terobosan Teknologi Co-Firing PLN Tidak Sepenuhnya Mampu Tekan Emisi Karbon

Tahun 2023 menjadi tahun terpanas dalam sejarah, menurut analisis Copernicus Climate Change Service suhu rata-rata global bulan Juli 2023 mencapai 1,4°C lebih tinggi dari suhu rata-rata pra-industri. 

Angka ini lebih tinggi 0,32°C dibandingkan bulan terpanas sebelumnya, yaitu Juli 2019. Kenaikan suhu global yang signifikan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan perubahan penggunaan lahan.

Berdasarkan riset Trendasia.org, Indonesia dinyatakan telah memproyeksikan sektor energi sebagai penyumbang terbesar emisi, yakni 60 persen, disusul sektor kehutanan dan pertanian 27 persen, sektor limbah 11 persen, dan sektor industri 2 persen. Oleh karena itu, pemerintah memfokuskan aksi mitigasi emisi gas rumah kaca ke sektor energi.

Dalam Konferensi Perubahan Iklim Ke-28 di Dubai, Uni Emirat Arab, Indonesia menegaskan komitmen menurunkan emisi jadi nol tahun 2060 atau lebih awal. Realisasi janji ini penting untuk memitigasi krisis iklim mengingat Indonesia termasuk penghasil emisi terbesar dunia. Presiden RI Joko Widodo menyampaikan upaya RI mencapai target net carbon sink atau penyerapan karbon bersih sektor kehutanan dan lahan tahun 2030.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai bagian dari sektor energi yang menyumbang emisi terbesar ikut mendukung komitmen pemerintah dengan empat strategi yang diandalkan PLN untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, yaitu memprioritaskan pengembangan energi baru dan terbarukan, pengalihan bahan bakar dan pemanfaatan gas buang, pemanfaatan bahan bakar berbasis biomassa sebagai sumber energi, dan penggunaan teknologi rendah karbon dan efisien untuk pembangkit baru.

Bagi PLN, biomassa adalah peluang emas untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sub sektor pembangkitan energi secara instan dan murah. Caranya dengan teknologi Co-firing atau pembakaran bersama biomassa dengan batu bara pada sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berumur tua maupun yang masih dalam tahap rencana.

Co-firing adalah pembakaran dua jenis bahan bakar berbeda secara bersamaan. PLTU yang biasanya sepenuhnya berbahan bakar batubara, dengan Co-firing dilakukan penambahan bahan bakar lain, seperti biomassa yang dibuat dari sampah atau limbah.

Skema Co-firing biomassa secara praktik dipahami sebagai mencampur atau “mengoplos” batu bara dengan biomassa cangkang sawit, sekam padi, dan pelet kayu 5-10 persen. Metode ini diklaim sebagai salah satu strategi pemerintah untuk transisi energi dan metode netral  karbon.

PLN Mengaku Tekan Konsumsi Batubara Melalui Co-Firing

Dikutip dari Kompas.com, “Melalui pemanfaatan biomassa dalam teknologi Co-firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), PT PLN (Persero) mengaku berhasil mereduksi emisi hingga 1,05 Juta ton CO2e dan memproduksi energi bersih sebesar 1,04 terawatt hour (TWh) sepanjang 2023.”

Direktur Eksekutif WALHI Jabar, Wahyudin, memberikan tanggapan akan hal ini, menurutnya “Klaim PLN bahwa Co-firing biomassa di PLTU Batubara dapat mengurangi emisi karbon sebesar 1.05 Juta Ton hanya bohong belaka,  salah satu faktanya terjadi di Jawa Barat pada dua PLTU yaitu PLTU I Indramayu dan PLTU Pelabuhan Ratu, trend peningkatan pencemaran udara dari aktivitas cerobong PLTU semakin kuat dan pekat. Situasi tersebut semakin memperburuk kondisi terhadap kualitas udara, jauh lebih dari itu, memberikan pula kontribusi buruk terhadap gangguan kesehatan warga di sekitar PLTU.”

co-firing
potret Tanaman Biomassa Jenis gamal di kph indramayu, jawa barat.

Kesaksian warga di sekitar PLTU Indramayu dan PLTU Pelabuhan Ratu bahwa aktivitas PLTU di masing-masing daerah tersebut yang sudah menjalankan Co-firing malah menambah dampak buruk, selain dari aktivitas pembakarannya hilir mudik truk pengangkut wood pellet atau serbuk kayu ikut serta memberikan kontribusi terhadap pencemaran debu yang masuk pada pemukiman warga, tambahnya menjelasnya.

Hanya dengan membakar biomassa dalam jumlah sepersepuluh total bahan bakar PLTU batu bara, PLN mengklaim telah melakukan transisi energi dari sumber energi tak bersih ke sumber energi terbarukan.

Manager Kampanye, Advokasi, dan Media Forest Watch Indonesia, Anggi Putra Prayoga, juga menilai bahwa skema co firing dalam membakar biomassa masih akan menghasilkan pencemaran lingkungan.

“Segala sesuatu yang dibakar pasti menghasilkan emisi. Jika transisi energi dari energi fosil ke energi biomassa dengan tetap membakar berkurangnya dari mana? bukan kah menghasilkan dampak lain seperti polusi udara dan pencemaran lingkungan untuk limbahnya. Dengan tetap bakar membakar, ini belum bisa dibilang transisi energi” Kata Anggi Putra Prayoga saat dimintai tanggapan mengenai co firing.

Dilansir dari voaindonesia, PLN menyatakan Co-firing sebagai strategi utama perusahaan untuk integrasi bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan ke dalam proses produksi energi, PLN juga mengklaim bahwa 100 persen penggunaan biomassa ini adalah bentuk konsistensi PLN Group dalam menghadirkan energi bersih untuk Indonesia yang lebih baik.

Fakta Co-firing Solusi Palsu Energi Terbarukan

Dengan peningkatan implementasi Co-firing yang semakin pesat, PLN menghadapi kebutuhan besar dan berkelanjutan akan pasokan biomassa. Terutama, target PLN untuk menerapkan Co-firing di 52 lokasi atau 107 unit PLTU di seluruh Indonesia hingga tahun 2025 menunjukkan perlunya pasokan biomassa yang signifikan.

Berdasarkan perhitungan dari Trend Asia, dengan asumsi penggunaan pelet kayu dan tingkat Co-firing sebesar 10 persen, kebutuhan biomassa untuk 107 PLTU dengan kapasitas total 18,8 gigawatt mencapai 10,23 juta ton per tahun. 

Berdasarkan hasil wawancara dengan Manager Bioenergy Trend Asia, Amalya Reza, dijelaskan bahwa mereka melakukan perhitungan yang mengatakan bahwa biomassa yang digunakan PLN adalah limbah dari wood atau pelet kayu, yang kemudian dibakar 1 juta ton, tapi nyatanya alih-alih dia mengurangi emisi justru pembakaran tersebut menghasilkan emisi 1.7 ton, yang mana lebih tinggi.

Sulit untuk memenuhi jumlah bahan baku biomassa sebesar itu, kemungkinan besar harus didapatkan dari perkebunan kayu berskala besar, seperti hutan tanaman energi (HTE). Membangun HTE yang ekstensif berpotensi menimbulkan deforestasi. Pembangunan hutan tanaman industri (HTI) selama ini menunjukkan kecenderungan tersebut.

Kecenderungan ini sudah terlihat dalam pembangunan hutan tanaman industri (HTI), di mana data dari MapBiomas Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2019, 38 persen dari total tutupan lahan HTI berasal dari pembukaan hutan alam.

Selain itu, program Co-firing biomassa di 52 lokasi PLTU di Indonesia, seperti yang diungkapkan oleh Trend Asia, membawa resiko besar bagi warga, lingkungan, dan iklim. Untuk mendukung “transisi energi palsu,” pemerintah diharuskan menyediakan lahan seluas 2,33 juta hektar, setara dengan 35 kali luas daratan DKI Jakarta, untuk pembangunan Hutan Tanaman Energi (HTE). Jika itu terjadi, maka diantisipasi bahwa rantai pasok biomassa ini akan menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca Indonesia hingga mencapai 26,48 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) setiap tahun.

potret Deforestasi didalam kawasan PT. Hijau Artha Nusa

Amalya Reza juga menjelaskan bahwa “Terdapat point penting dalam permasalahan co firing ini, pertama PLN telah mengklaim telah menekan 1,05 Juta Ton CO2 Emisi Karbon di 2023, namun, tidak memberikan kepada publik metode perhitungannya seperti apa dan bagaimana, kedua ketika mereka mengklaim perihal tersebut, informasinya mengenai PLTU dan jenis biomassa nya apa aja tidak diberikan, dan terakhir sejujurnya PLN tidak sesuai target mereka, 2025 mereka mengatakan akan 52 PLTU terapkan Co-firing dengan 10,2 juta ton biomassa. Buktinya hingga 2024 baru 1 juta ton, yang dapat kita simpulkan bahwa seharusnya mereka sadar bahwa co firing belum possible dilakukan.”

Klaim PLN mengenai Co-firing sebagai akselerator pengurangan emisi karbon menjadi semakin tidak beralasan, demikian seperti yang terungkap dalam pemodelan matematika oleh Trend Asia. Menurut perhitungan tersebut, penggunaan Co-firing dengan 10 persen biomassa pada 107 unit PLTU berpotensi menghasilkan total emisi mencapai 26,48 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) setiap tahun.

Emisi ini berasal dari berbagai faktor, mulai dari deforestasi, pengelolaan Hutan Tanaman Energi (HTE) hingga produksi pelet kayu. Sebaliknya, daripada mengurangi, penggabungan biomassa dengan batu bara justru meningkatkan emisi dari PLTU yang, dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, diproyeksikan untuk terus meningkat hingga mencapai 298,9 juta ton CO2e pada tahun 2030.

Anggi Putra Prayoga, Manager Kampanye, Advokasi, dan Media Forest Watch Indonesia menjelaskan “Dengan adanya komodifikasi sumber daya alam berupa biomassa kayu, hal ini justru akan meningkatkan permintaan terhadap pasokan biomassa kayu. Dampaknya akan berkonsekuensi pada ketersediaan hutan dan lahan di Indonesia.”

“Kedepannya, jika Co-firing diimplementasikan di 52 PLTU di Indonesia, maka hutan alam akan menjadi korban, karena pemenuhan pasokan biomasa memerlukan lahan yang sangat luas. Oleh karena itu, hal ini akan berdampak pada ketersediaan hutan dan lahan di Indonesia.” tambahnya.

Dalam temuan lain, Co-firing biomassa ternyata tidak mengurangi ketergantungan pada penggunaan batubara di PLTU. Berdasarkan data Statistik PLN tahun 2021, penggunaan biomassa mencapai 282.628 ton, mengalami peningkatan signifikan dari 9.731 ton pada tahun 2020. Sementara itu, penggunaan batubara juga mengalami peningkatan, mencapai 68,47 juta ton dibandingkan dengan 66,68 juta ton pada tahun 2020.

Faktanya, alih-alih memensiunkan pembangkit tua, PLN menjadikan Co-firing biomassa sebagai langkah untuk menurunkan emisi karbon dalam rangka memperpanjang usia operasional PLTU.

Sumber

Mumu Muhajir, dll. (2022). Adu Klaim Menurunkan Emisi. https://www.mongabay.co.id/wp-content/uploads/2022/09/Kajian-Trend-Asia-soal-emisi-karbon-dari-co-firing-biomassa-PLTU.pdf

Nurhadi Sucahyo. (2022). Strategi PLN Tekan Konsumsi Batubara Melalui Co-Firing PLTU Dinilai Tepat. https://www.voaindonesia.com/a/strategi-pln-tekan-konsumsi-batubara-melalui-co-firing-pltu-dinilai-tepat/6862971.html

Ichsan Emrald. (2023). Program Co Firing PLTU PLN Mampu Tekan Emisi Karbon Hingga 717.616 Ton CO2. https://ekonomi.republika.co.id/berita/s2rnvw349/program-co-firing-pltu-pln-mampu-tekan-emisi-karbon-hingga-717616-ton-co2

Annisa Rahayu. (2024). 2023 Menjadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah di Dunia!. https://goodstats.id/article/2023-jadi-tahun-terpanas-suhu-rata-rata-global-mencapai-15-1-c-jghh7

Thank you for your vote!
Post rating: 0 from 5 (according 0 votes)

Add Comment

Dapatkan berita terbaru melalui email

Good Forest Governance Needs Good Forest Information.

Using and sharing site content | RSS / Web Feeds

Photos and graphics © FWI or used with permission. Text available under a Creative Commons licence.

© Copyright 2020 FWI.
All Rights Reserved.

to top