Kepiting Bakau, Sumber Ekonomi Masyarakat Lorang, Kepulauan Aru

  • Kepiting bakau menjadi sumber ekonomi penting bagi masyarakat di Desa Lorang, Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Hutan mangrove yang masih terjaga mendukung populasi kepiting bakau di alam.
  • Di Lorang, penangkap kepiting dilarang mengambil kepiting betina yang sedang membawa telur, demikian juga menangkap kepiting yang berukuran di bawah 300 gram.
  • Namun dari hasil wawancara dengan masyarakat, kepiting ukuran besar makin sulit diperoleh. Berbeda dengan 3-5 tahun tahun lalu.
  • Sebagai pertimbangan, perlu ada suaka perlindungan biota yang dapat menjamin keberlangsungan populasi alami kepiting bakau.

Sore itu sekitar pukul 16.00 WIT, Natanel Ginobal (67) melaju di perahu motornya. Dia hendak memeriksa hasil tangkapan kepiting bakau yang dipasang di pagi hari itu. Dia punya 15 bubu atau alat perangkap kepiting yang tersebar di sela-sela akar tumbuhan bakau (Rhizophora sp.).

Setelah sekitar setengah jam menyusuri perairan selat, perahunya berbelok masuk ke celah ceruk sungai yang lebih sempit. Dia lalu berpindah ke kedo-kedo, semacam sampan kecil yang dia sengaja simpan di lokasi itu.

“Kalau kedo-kedo saya taruh di sini, tidak hilang,” sebutnya. Sampan kayu itu digunakannya untuk bermanuver di celah-celah bakau. Natanael harus mengejar air, sebelum datang surut.

Natanel sendiri satu dari pencari kepiting senior di Lorang. Sebuah desa yang yang terletak di Kecamatan Aru Tengah, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku.

Perangkap kepiting bubu yang dipakai Natanel berbentuk setengah lingkaran dengan jaring yang didesain sedemikian rupa sehingga saat kepiting makan umpan potongan ikan, ia tidak bisa keluar lagi. Bubu sendiri biasanya diletakkan 30-50 cm di bawah permukaan air.

Satu persatu bubu dia periksa. Dari semua perangkat yang dia pasang, ada 7 bubu yang berisi kepiting. Ada tiga yang diantaranya ditaksir beratnya di atas satu kilogram.

Sambil tersenym dia berkata, “Hasil tangkapan karaka (kepiting) bagus. Saya taksir total harga di atas Rp1 juta.” Hari ini rupanya jadi hari baik buat Natanel.

Sumber Ekonomi Warga

Kepiting bakau (Scylla serrata) atau mud crab adalah biota yang hidup dan tinggal di habitat mangrove berlumpur. Dengan kawasan mangrove di Kepulauan Aru yang sangat luas, -sekitar 156.524 hektar (FWI, 2018), menjadikannya punya potensi kepiting bakau yang amat besar di Maluku.

Mengacu kepada aturan Kementerian Kelautan Perikanan, potensi sumber daya kepiting di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP-RI) sumberdaya di WPP/718 Laut Arafura adalah 1.498 ton dengan jumlah tangkapan yang diizinkan (TAC) sebesar 1.198 ton.

Kepiting bakau pun menggerakkan ekonomi warga. Di Lorang misalnya, nelayan setempat tidak perlu jauh-jauh menjual. Di desa sudah ada pembeli yang datang dari Benjina mapun Dobo, ibukota Kabupaten Aru.

Kepiting berukuran antara 300-700 gram dijual Rp90 ribu. Ukuran antara 700 gram- 1 kilogram dihargai Rp180 ribu, dan yang melebihi 1 kilogram dapat mencapai Rp250-300 ribu.

Sadar bahwa kepiting bakau menjadi aset penting ekonomi, orang Lorang jadi amat menjaga kelestarian habitat mangrove yang ada.

Karaka itu hidupnya di akar-akar bakau, kita jaga hutannya,” sebut Zakarias Gaetedi (75), Ketua adat Lorang.

Di dalam kebiasaan orang di Lorang, para pencari kepiting dilarang mengambil kepiting betina yang sedang membawa telur, demikian juga menangkap kepiting yang berukuran di bawah 300 gram. Jika terperangkap bubu, kepiting bakal dikembalikan ke perairan.

Mangrove dan Indikasi Menipisnya Populasi Kepiting

Sejak diberlakukannya aturan moratorium beberapa komoditas perikanan oleh pemerintah di tahun 2014, para nelayan di Aru yang sebelumnya menangkap udang dan ikan, mulai melirik dan beralih ke kepiting bakau. Sebelumnya hanya segelintir orang yang mencari kepiting.

“Akhir 1990-an orang Lorang mulai coba-coba tangkap kepiting di mangrove,” sebut Natanael, yang juga jadi salah satu generasi pertama penangkap kepiting di Lorang. “Tapi [penangkapan] mulai ramai sejak 2015 sampai sekarang.”

Hutan mangrove memang jadi kunci kelestarian bagi ketahanan hidup warga lokal di Aru. Dengan geografisnya yang berupa daerah kepulauan dengan delapan ratusan pulau-pulau kecil, hutan mangrove menjadi sumber kehidupan ekonomi penting.

menangkap kepiting bakau di lorang

Desa Lorang terletak di Pulau Maekor, yang hanya dapat dicapai lewat jalur laut, dan tidak terhubung dengan jalan darat. Untuk menuju ke desa ini, kapal harus melalui selat-selat sempit yang di kiri kanannya ditumbuhi mangrove yang lebat.

Berdasakan hasil pemetaan tata ruang wilayah komunitas adat yang dikerjakan oleh Forest Watch Indonesia (FWI), luas pola dan struktur Lorang mencapai 40 ribu hektar, yang mayoritas wilayah perairannya ditumbuhi pohon-pohon mangrove yang lebat alami, masih ideal untuk hidup kepiting. Data Sensus tahun 2016, Desa Lorang sendiri dihuni oleh sekitar 233 jiwa.

“Di Lorang, rata-rata tiap kepala keluarga punya 15-20 bubu,” jelas Natanel. Indikasi ini menunjukkan kepiting jadi salah satu sumber mencari nafkah penting keluarga.

Kepiting bakau memang menjanjikan. Penelitian William dan Ediyanto (2017), marjin keuntungan nelayan penangkap kepiting di Aru mencapai Rp11.845.000-Rp12.455.000. Tentu saja ini membawa kesejahteraan warga lokal.

“Kepiting dari nelayan ditampung pedagang di Dobo, lalu dikirim ke kota lain. Bahkan ada yang lanjut di ekspor,” jelas Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Aru, ALO Tabela.

Namun, seberapa dapat diandalkannya kepiting bakau dalam jangka panjang?

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Pane et al (2020), untuk jenis kepiting bakau oranye (Scylla olivacea) di Kepulauan Aru, ukuran cangkang (kerapas) kepiting di Aru lebih besar dari yang ada di Thailand, Malaysia, India, bahkan jika dibandingkan dengan di wilayah lain Indonesia seperti wilayah Tapanuli, Semarang, dan Merauke. Di Aru mencapai 110-185 mm, dengan rata-rata 135 mm.

Adapun, untuk jenis kepiting bakau besar (Scylla serrata) belum ada studi khusus untuk ini.

“Hasil observasi, ada indikasi penipisan (deplesi) kelimpahan kepiting bakau,” jelas Mustaghfirin, peneliti sosial ekonomi sekaligus penggerak Sekolah Pemberdayaan Rakyat (SPR) IPB University yang melakukan rapid assessment potensi sosial ekonomi di Desa Lorang November 2023 lalu.

Dari wawancara dengan masyarakat, mereka menyebut kepiting ukuran besar makin sulit diperoleh. Berbeda dengan 3-5 tahun tahun lalu. Kepiting pun makin sulit diperangkap masuk ke bubu. Padahal perairan mangrove di Lorang dan sekitarnya tidak ada kerusakan mangrove.

Penjelasan yang paling masuk akal, di lapangan terjadi tingkat laju penangkapan kepiting yang lebih cepat dari laju regenerasi alaminya.

“Dulu cukup beri potongan kelapa atau ikan asin. Sekarang beda, dipancing masuk pakai potongan ikan segar seperti kerapu atau kakap juga belum tentu dapat,” ungkap Mustaghfirin mengulang pernyataan narasumber nelayan.

Suaka Kepiting

Regenerasi kepiting bakau memang perlu dijaga. Selain praktek budidaya yang telah dilakukan di beberapa tempat lain di Indonesia, maka penggunaan alat tangkap menjadi kunci. Seperti bubu, perangkap tradisional ini turut menjaga tingkat populasi kepiting.

“Sebenarnya nelayan akan lebih untung dan dapat harga beli tinggi jika dapat kepiting yang bobotnya di atas satu kilogram,” jelas Mustaghfirin.

Ukuran jaring bubu memungkinkan juvenile kepiting dapat keluar dari perangkap.  Tapi hal ini saja belum cukup.

Dia menyarankan perlu ada kawasan suaka perlindungan biota yang dapat menjamin keberlangsungan populasi alaminya.  Di Lorang yang hutan mangrovenya berbatasan dengan wilayah tetangga seperti Desa Irlay, Manjau, dan Algadang, maka perlu ada suatu kesepakatan bersama.

Persoalannya, belum pernah ada contoh suaka perlindungan kepiting. Umumnya yang dipraktekkan di Maluku dan wilayah sekitarnya baru mencakup komoditas seperti teripang, lobster dan lola lewat praktek tradisional jeda tangkap yang disebut sasi. Untuk kepiting belum pernah ada.

“Dari sisi sosiologi budaya, ini jadi tantangan. Perlu ada kesepakatan untuk mencari dan membangun lokasi suaka kepiting yang kedepannya dapat disepakati  jadi ‘bank kepiting’ sehingga populasinya terjamin di alam,” pungkas Mustaghfirin.

Sumber tulisan ini berasal dari Mongabay.co.id

Thank you for your vote!
Post rating: 0 from 5 (according 0 votes)

Add Comment

Dapatkan berita terbaru melalui email

Good Forest Governance Needs Good Forest Information.

Using and sharing site content | RSS / Web Feeds

Photos and graphics © FWI or used with permission. Text available under a Creative Commons licence.

© Copyright 2020 FWI.
All Rights Reserved.

to top