Mari kita bayangkan terbang jauh ke timur Indonesia dan mendarat di Bandara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara. Tapi perjalanan belum selesai. Dari Ternate, kita menyeberang sedikit lebih jauh ke timur menuju Sofifi menggunakan speedboat. Dengan ongkos sekitar Rp 60 ribu per orang dan waktu tempuh kurang lebih 40 menit, kita sudah sampai di ibu kota Provinsi Maluku Utara itu.
Berbeda dengan kebanyakan ibu kota provinsi lain di Indonesia, Sofifi masih terus berkembang. Suasana kotanya relatif sepi, tetapi hampir seluruh pusat pemerintahan Maluku Utara berada di sini.
Namun, perjalanan menuju cerita utama masih berlanjut. Sekitar 151 kilometer dari Sofifi, kita tiba di Sagea. Menariknya, suasana di sana justru terasa lebih ramai. Kehadiran PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), kawasan industri pertambangan nikel dan komponen baterai kendaraan listrik di Kabupaten Halmahera Tengah, membawa perubahan besar di wilayah ini. Kawasan industri tersebut kini telah beroperasi hingga mencapai sekitar 4.000 hektare.
Di tengah geliat industri itu, terdapat bentang alam karst Sagea seluas 5.174 hektare di sebelah timur Teluk Weda. Kawasan ini menyimpan ekosistem unik yang belum banyak terungkap. Hutan tropis, sungai bawah tanah, hingga gua-gua karst menjadi bagian penting dari lanskap Sagea sekaligus sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Kekhawatiran terhadap ancaman kerusakan lingkungan akibat aktivitas ekstraktif mulai disuarakan oleh komunitas lokal. Melalui perkumpulan Fakawele, berbagai upaya dilakukan untuk mendorong perlindungan dan pengelolaan kawasan karst Sagea. Salah satunya melalui seminar dan lokakarya bertajuk “Mendorong Perlindungan Serta Pengelolaan Kawasan Karst & Daerah Sungai Sagea” yang dilaksanakan pada Kamis, 30 April 2026, di Sofifi.
Dalam sesi seminar, salah satu narasumber, Adlun dari gerakan #SaveSagea atau perkumpulan Fakawele, menyampaikan bahwa komunitas lokal memiliki peran penting dalam menjaga kawasan karst Sagea dari ancaman kerusakan lingkungan, terutama akibat pertambangan. Menurutnya, Fakawele hadir sebagai wadah pelestarian lingkungan dan budaya yang fokus membangun kesadaran masyarakat, memperkuat kapasitas warga, serta mendorong keterlibatan anak muda dalam perlindungan ekosistem Sagea.
Karst Sagea sendiri merupakan kawasan hutan tropis dan karst di Teluk Weda yang memiliki nilai ekologis tinggi. Kawasan ini memiliki sungai, gua karst, dan hutan yang menjadi sumber air, ruang hidup, sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Salah satu kekayaan alam pentingnya adalah Sungai Sagea yang berasal dari sistem sungai bawah tanah Goa Bokimaruru. Namun, kawasan ini menghadapi ancaman serius dari aktivitas pertambangan dan deforestasi yang berpotensi merusak ekosistem, sumber air, dan ruang hidup masyarakat. Melalui pendidikan lingkungan, monitoring kawasan, dan kampanye #SaveSagea, Fakawele terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam upaya perlindungan kawasan karst secara berkelanjutan.
Lalu disambut kembali dengan penjelasan dari Balai Pengelolaan DAS Ake Malamo. Ia menekankan pentingnya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara terpadu untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi risiko bencana di Maluku Utara, khususnya di DAS Ake Sagea. Menurutnya, DAS memiliki fungsi penting sebagai penampung, penyimpan, dan pengalir air. Kerusakan tutupan lahan dapat meningkatkan ancaman banjir, erosi, dan sedimentasi.
Kondisi DAS Ake Sagea yang berada di kawasan karst dengan sistem sungai bawah tanah dinilai memiliki kerentanan erosi yang cukup tinggi. Selain itu, kawasan ini juga mengalami perubahan tutupan lahan dari waktu ke waktu. Karena itu, diperlukan rehabilitasi hutan dan lahan, konservasi tanah dan air, serta penguatan pengelolaan lintas sektor yang melibatkan masyarakat agar fungsi ekologis kawasan tetap terjaga.
Sementara itu, Dinas Pariwisata menyoroti potensi Goa Bokimaruru sebagai kawasan geoheritage yang memiliki nilai penting dari sisi geologi, sejarah, budaya, dan pariwisata. Goa ini disebut sebagai “benteng terakhir” yang menjadi saksi perubahan peradaban sekaligus bagian penting dari ekosistem karst Sagea.
Selain menawarkan panorama gua karst, sungai bawah tanah, dan tebing batu kapur, kawasan ini juga dinilai memiliki potensi besar untuk wisata petualangan, penelitian, hingga pengembangan ekonomi masyarakat melalui jasa wisata dan UMKM lokal. Meski demikian, pengembangan kawasan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari infrastruktur, perlindungan lingkungan, validitas kajian ilmiah, hingga perlunya dukungan lintas pihak agar perlindungan kawasan dan manfaat ekonomi masyarakat dapat berjalan seimbang.
Seminar kemudian ditutup dengan pemaparan dari Dr. Cahyo Rahmadi, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang pernah masuk langsung ke dalam Goa Bokimaruru. Ia menjelaskan bahwa kawasan karst Sagea memiliki nilai ilmiah yang sangat penting karena terbentuk melalui proses geologi selama jutaan tahun dan berfungsi sebagai sistem penyimpan sekaligus pengatur air alami.
Karst Sagea memiliki sungai bawah tanah, gua, dan akuifer yang menjadi sumber air utama bagi lingkungan sekitarnya. Namun, sistem karst juga sangat rentan terhadap kerusakan. Air maupun pencemaran dapat langsung masuk melalui rekahan batuan tanpa proses penyaringan alami. Karena itu, perlindungan kawasan karst Sagea menjadi penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, sumber air, dan keberlanjutan lingkungan di wilayah tersebut.
Setelah sesi seminar selesai, kegiatan dilanjutkan dengan lokakarya yang membagi peserta ke dalam dua kelompok, yakni masyarakat sipil dan pemerintah. Masing-masing kelompok mendiskusikan berbagai langkah dan rencana yang dapat dilakukan untuk menjaga dan melindungi kawasan karst Sagea beserta daerah sungainya.
Di tengah pesatnya ekspansi industri ekstraktif di Maluku Utara, diskusi seperti ini menjadi penting. Sebab, Sagea bukan hanya tentang bentang karst dan sungai bawah tanah, tetapi juga tentang ruang hidup, sumber air, dan masa depan masyarakat yang bergantung pada kawasan tersebut.
Dokumentasi kegiatan Lokakarya Karst dapat diunduh pada tautan berikut: LOKAKARYA KARST
Power point Pemateri dapat diunduh pada tautan berikut: PPT Pemateri
Berita Acara Pelaksanaan Seminar & Lokarkarya Tentang Perlindungan serta Pengelolaan Kawasan Karst dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sagea dapat diunduh pada tautan berikut: Berita Acara Pelaksanaan Seminar & Lokakarya Sagea
Catatan Forest Watcher dapat diunduh pada tautan dibawah ini:
