Suksesi Ekologi di Krakatau

Beliau adalah Tukirin Partomihardjo, profesor botani dari LIPI yang telah mendedikasikan setengah perjalanan hidupnya untuk meneliti perkembangan suksesi di kepulauan krakatau (rakata, sertung, panjang dan anak krakatau). Suatu kesempatan yang tidak bisa ditolak bisa ikut bersama rombongan Prof Tukirin, satu-satunya ahli suksesi ekologi Indonesia yang telah melakukan penelitian suksesi ekologi di Kepulauan Krakatau sejak tahun 1981. Empat hari saya habiskan untuk mengikuti kegiatan beliau di Pulau Anak Krakatau dan Pulau Rakata.

Prof Tukirin Partomihardjo (pakai topi dan rompi)
Prof Tukirin Partomihardjo (pakai topi dan rompi)

Meski usianya sudah 64 tahun serta perawakan yang kurus dengan tinggi sekitar 160 cm, beliau masih sangat tangguh untuk mendaki puncak gunung anak krakatau dan juga menyusuri lebatnya hutan di Pulau Rakata. Bahkan saya sangat kesulitan untuk mengikuti sigap dan cepatnya sepak terjang beliau, tidak salah jika beliau dijuluki “King of Krakatau” oleh para koleganya.

Krakatau_23Mei2016_2

Menurut Prof Tukirin, “Proses suksesi diawali dengan tumbuhnya jenis lumut. Lumut-lumut inilah yang menimbulkan kelembaban dan memungkinkan jenis paku-pakuan untuk tumbuh setelahnya. Barulah setelah ini rumput-rumputan mulai tumbuh dan membentuk semak-semak. Adanya semak-semak ini kemudian memungkinkan burung untuk hinggap dan menyebarkan biji-biji tumbuhan lain. Ada pula penyebaran melalui air laut yang mendominasi vegetasi pantai, seperti jenis cemara laut, waru laut, ketapang dan nyamplung. Perlahan-lahan, terciptalah tanah hutan muda yang berkelanjutan. Pada periode ini, tanaman jenis ficus (beringin) yang merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan fauna dan juga serangga di sekitarnya tumbuh dan berkembang menempati dataran rendah berumput bersama dengan tanaman hutan sekunder lainnya”.

“Terdapat 25 jenis ficus yang ada di Krakatau, dimana masing-masing jenis ficus berasosiasi secara spesifik dengan jenis serangga tertentu. Dari ke empat pulau-pulau kecil yang ada di gugusan Krakatau, hanya Pulau Rakata (Krakatau Besar) yang memiliki perkembangan vegetasi paling matang tanpa banyak terganggu aktivitas Gunung Anak Krakatau “ imbuh sang profesor.

Krakatau merupakan laboratorium alami, dan satu-satunya pulau yang terdata suksesi ekologinya sejak dari kondisi steril setelah letusan 1883. Butuh waktu 133 tahun bagi krakatau untuk mengembalikan kondisi ekologisnya hingga seperti saat ini. Bukan waktu yang singkat memang, tapi kejadian ini bisa kita jadikan contoh untuk melihat betapa lamanya waktu yang dibutuhkan sebuah pulau-pulau kecil untuk mengembalikan kondisinya sendiri. Karena terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi cepat lambatnya proses suksesi di suatu pulau. Faktor yang paling berpengaruh yaitu laut. Pulau-pulau kecil dipisahkan oleh laut yang terkadang berjarak hingga ratusan kilometer. Berbeda dengan pulau besar atau bahkan benua yang lebih memungkinkan terjadinya suksesi akibat tersebarnya biji-biji tumbuhan oleh faktor angin, binatang dan juga manusia.

Tautan:
http://lipi.go.id/berita/single/Krakatau-Laboratorium-Alam-Hutan-Tropik/4408
https://id.wikipedia.org/wiki/Krakatau

Thank you for your vote!
Post rating: 0 from 5 (according 0 votes)

Add Comment

Dapatkan berita terbaru melalui email

Good Forest Governance Needs Good Forest Information.
Using and sharing site content | RSS / Web Feeds

Photos and graphics © FWI or used with permission. Text available under a Creative Commons licence.

© Copyright 2020 FWI.
All Rights Reserved.

to top