Selama beberapa dekade, pembangunan sering dimaknai sebagai pertumbuhan ekonomi yang cepat, dengan mengandalkan pengambilan sumber daya alam secara besar-besaran. Tambang dibuka, hutan ditebang, dan lahan diubah menjadi perkebunan monokultur atas nama kemajuan. Model ekonomi ekstraktif ini memang menjanjikan keuntungan dalam waktu singkat, namun meninggalkan jejak panjang berupa degradasi lingkungan, ketimpangan sosial, dan hilangnya ruang hidup masyarakat lokal dan adat. Alam diperlakukan sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai sistem kehidupan yang memiliki batas dan daya pulih.
Di sisi lain, krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta ancaman terhadap ketahanan pangan dan air menunjukkan bahwa pendekatan lama tidak lagi memadai. Kerusakan tanah, pencemaran air, dan konflik lahan menjadi pengingat bahwa keuntungan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kesehatan ekosistem dan keadilan sosial. Di tengah tantangan inilah, muncul kebutuhan mendesak untuk melakukan transisi menuju model ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Ekonomi restoratif hadir sebagai alternatif yang menawarkan arah berbeda. Alih-alih mengeksploitasi, pendekatan ini berfokus pada pemulihan ekosistem, penguatan peran komunitas lokal, dan kesejahteraan jangka panjang lintas generasi. Hutan dipulihkan melalui agroforestri, sumber daya dikelola secara lestari, dan nilai tambah ekonomi dibangun dari pengetahuan serta praktik masyarakat adat.
Infografis ini mengajak kita untuk membandingkan dua jalan pembangunan: industri ekstraktif yang bertumpu pada eksploitasi dan konsentrasi keuntungan, serta ekonomi restoratif yang menempatkan alam dan manusia sebagai satu kesatuan.
