Intip_hutan_sep-des_2015_Artikel5_gmb6Ya,waktu itu adalah hari-hari dimana bumi Jargaria akan memasuki musim angin barat. Musim dimana Sang Pangeranakan menjatuhkan ekor kuningnya yang indah ke daratan. Pertanda bahwa musim Sang Pangeran menari akan segera berakhir. Harap-harap cemas sempat hinggap di benak kami khawatir tidak bisa menyaksikan momen ini. Namun, akhirnya Sang Pangeran tiba ditempatnya bermain. Menari dan bernyayi dengan merdunya berharap Sang Ratu menghampirinya. Sang Pangeran mengembangkan sayap-sayap indahnya, berputar dan melompat sambil mengeluarkan suara merdunya. Kami semua terpesona menyaksikan pertunjukkan ini.Sampai-sampai beberapa menit terlewat, ternyatatutup lensa kameralupa Saya bukaBeruntung, pertunjukkan belum berakhirmasih banyak momen-momen indah dikala Sang Pangeran menunjukkan aksinya di rimba Jargaria. Tapi sungguh disayangkan, Sang Ratu tak kunjung datang sampai Sang Pangeran mengakhiri pertunjukkannya.

Pertunjukkan telah usai, seakan tidak ingin ini semua berakhir kami semua tidak mau keluar dari tempat persembunyian. Padahal Sang Pangeran sudah tidak ada lagi di panggungnya.Berharap Sang Pangeran datang lagi untuk menari dan bernyanyi. Lima menit kami menunggu Sang Pangeran tidak lagi kembali dankami keluar dari tempat persembunyian. Tepat dibawah panggung Sang Pangeran beraksi, kami menemukan ekor kuning pangeran yang dilepaskan,pertanda sang pangeran tidak akan lagi menari dan bernyanyi sampai tiba kembali waktunya pada musim angin barat. Kami kembali ke camp, menyantap sarapan pagi yang didapat dari hasil buruan dan mempersiapkan untuk aktifitas selanjutnya disiang hari.

Tidak puas rasanya menyaksikan gagahnya rimba Jargaria jika hanya berada didasar hutan.Tidak ada bukit atau tempat yang tinggi yang bisa dijangkau untuk melihat indahnya rimba di bumi Jargaria. Hanya pohon-pohon besar yang tinggi yang harus kami panjat jika ingin melihat itu semua.“Bagaimana bisa kalian memanjat pohon disini..?” ucap Sang Kakek yang mendampingi kami.Tentu kakek itu tidak tau jika kami membawa peralatan dan tali panjang untuk memanjat pohon besar disini. Sambil berjalan ke camp, kami mencari pohon yang paling tinggi di hutan ini.Tentu saja tinggi pohonnya tidak melebihi tali yang kami bawa. Tidak sulit mencari pohon tinggi disini, yang sulit adalah mencari pohon-pohon tinggi yang sesuai dengan kemampuan kami untuk bisa memanjat pohon tersebut. . Berjarak 200 meter dari camp, kamipun menemukan pohon yang cocok. “Kita pasang tali disini setelah makan siang” ucap Saya kepada 4 orang teman Saya.

Sebuah bandul yang biasa dijadikan pemberat alat pancing kami lemparkan menggunakan ketapel kecelah-celah cabang pohon besar.Bandul tersebut kami ikatkan dengan tali pancing yang panjang.Tali pancing menyeberangi celah batang pohon, kamipun menarik tali tambang dengan tali pancing tersebut. Setelah tali tambang menyebrang, dilanjutkan dengan menarik tali kernmantle yang biasa digunakan kalangan pecinta alam untuk mendaki gunung dan memanjat tebing.Tali kernmantle berhasil disebrangkan kemudian kami memasang lintasan di pohon yang besar.Tentu ini bukanlah hal yang mudah,entah setelah percobaan yang keberapa kali ini semua baru berhasil. Bahkan kami sempat putus asa ketika bandul yang kami gunakan sempat hilang karena tali pancing yang kami gunakan putus. Hari sudah sore, tak terasa ternyata membutuhkan waktu hampir 3 jam untuk memasang lintasan di pohon besar ini. Matahari sudah hampir tenggelam, tidak mungkin kami memanjat saat itu juga. Jadi kami putuskan untuk memanjat besok pagi.

Add Comment

Dapatkan berita terbaru melalui email

Good Forest Governance Needs Good Forest Information.

Using and sharing site content | RSS / Web Feeds

Photos and graphics © FWI or used with permission. Text available under a Creative Commons licence.

© Copyright 2020 FWI.
All Rights Reserved.

to top