Entah bagaimana nasib kami, jika tertinggal oleh dua orang tersebut. Hutan dataran rendah yang dipenuhi pepohonan besar dan tidak cukup dipeluk oleh dua orang. Pohon-pohon besar seakan menjadi tanda jalan mereka.Seperti sudah mengenal setiap pohon demi pohon yang ada di hutan ini. Setiap langkah, setiap belokan, setiap pohon, dan setiap suara burung, mereka seakan sudah hafal dimana posisi mereka.Berbeda dengan kami yang selalufokus menatap ke arah monitor GPS yang kami bawa. Sungguh tak bisa kami banyangkan jika tidak ada mereka berdua.

Intip_hutan_sep-des_2015_Artikel5_gmb5Isi rimba perlahan mulai menghitam,matahari sudah tidak menampakkan tajinya. Irama langkah kaki kami yang tertinggal satu langkah dari mereka membuat kami terjebak ditengah gelapnya rimba Jargaria. Mereka berdua dengan terpaksa mengikuti irama langkah kaki kami yang tidak pernah memasuki hutan ini. “Masih ada waktu, kita potong jalan” terlontar ucapan dari salah satu kakek yang menemani kami. Parang ala pahlawan nasional Pattimura akhirnya dikeluarkan dari sangkurnya. Berbelok 90 derajat ke kanan, tidak ada lagi jalan setapak.Semak-semak langsung ditebas membuka jalan untuk kami semua. Tidak banyak kata dari sang kakek hanya ada satu kalimat,“hati-hati jalannya, banyak trap untuk binatang”. Saya hanya terdiam dan kagum, mereka sampai hafal secara detail dimana saja tempat-tempat mereka memasang perangkap untuk binatang buruan. Ya,dihutan ini masih banyak sekali dihuni oleh binatang liar seperti kasuari, kanguru, rusa, dan masih banyak hewan lainnya. Mereka menggantungkan hidup dari berburu.Bukan untuk mencari kekayaan, mereka semua berburu dengan arif sesuai dengan kebutuhan hidup mereka.

Dari tengah pulau, kami menuju tepian pulau. Lima menit sebelum rimba ini benar-benar gelap, kami tiba di camp yang dibuat oleh salah seorang dari kakek ini. Sebuah gubuk yang berada tepat diperbatasan antara mangrove dan hutan dataran rendah. Disekelilingnya berdiri tegak pohon-pohon kelapa,kebundan pohon-pohon sagu.Gubuknya tidak terlalu besar sehingga kami harus mendirikan tenda dome agar semua tim kami dapat beristirahat dengan nyaman. Hari sudah gelap, kamipun beristirahat sambil bercengkrama dan menyantap hidangan makan malam. Esok hari kami akan bersiap-siap untuk beraktifitas kembalidi rimba Jargaria.

Bagaikan surga dikala sang fajar terbit suara-suara merdu para bidadari Jargaria mulai terdengar. Cahaya mentari yang masuk dari celah-celah rimbunya hutan semakin indah dengan bercampurnya embun dipagi hari. Para bidadari rimba bersaut-sautan seakan memanggil kami semua untuk segera menyaksikan pertunjukkan tari mereka.Suara-suara ini ada disegala penjuru. Semuanya terasa dekat dan kami seperti sedang terhipnotis oleh suara-suara rimba dikala fajar tiba. Sebelum rimba ini berubah dari gelap menjadi terang, kami sudah tiba tepat dibawah Sang Pangeran Jargaria bermain. Menunggu Sang Pangeran tiba, kamipun mengintip di celah-celah tempat persembunyian yang sudah ada. Lubang kecil ditempat persembunyian kami gunakan untuk meletakkan mulut lensa kamere kami. Kami mencoba peruntungan menyaksikan Sang Pangeran menari dikala memasuki akhir musimnya.

Add Comment

Dapatkan berita terbaru melalui email

Good Forest Governance Needs Good Forest Information.

Using and sharing site content | RSS / Web Feeds

Photos and graphics © FWI or used with permission. Text available under a Creative Commons licence.

© Copyright 2020 FWI.
All Rights Reserved.

to top