Tujuh Belas Tahun Memantau Hutan Indonesia Silang Sengkarut Pengelolaan Hutan Indonesia

BOGOR, 9 Desember 2017. Indonesian Forest Expo 2017 sebuah acara yang menjadi panggung bagi Forest Watch Indonesia (FWI) untuk menceritakan potret keadaan hutan Indonesia. Tujuh belas tahun FWI melakukan pemantauan terhadap kondisi hutan Indonesia, permasalahan sektor kehutanan yang tidak kunjung usai menyebabkan kualitas dan kuantitas hutan Indonesia terus mengalami kemerosotan. Melalui Forexpo 2017, FWI menyajikan permasalahan yang tidak kunjung usai tersebut melalui pertunjukan eksplorasi musik, teater, tari, dan film.

Di acara tersebut, FWI merilis portal pemantauan independen kehutanan, serta kajian dan film silang sengkarut pengelolaan hutan Indonesia. FWI hendak menceritakan potret hutan Indonesia selama 17 tahun ke belakang, serta menyampaikan pesan-pesan kampanye bagi para pihak terkait pentingnya menjaga hutan Indonesia yang tersisa, melalui Forexpo 2017.

“Lahirnya Forest Watch Indonesia dilatarbelakangi oleh adanya ketidakadilan atas distribusi informasi, kerusakan hutan dan banyaknya konflik yang timbul dalam pengelolaan sumberdaya hutan yang berlangsung di Indonesia. Dalam perjalanannya, FWI telah menerbitkan beberapa produk yang berisi informasi terkait kehutanan, seperti buku Potret Keadaan Hutan Indonesia (PKHI), Lembar Fakta, Film, dan banyak produk lainnya. Penyelenggaraan Indonesian Forest Expo 2017 adalah satu cara FWI mengampanyekan kondisi terkini hutan Indonesia” terang Soelthon Gussetya Nanggara, Direktur Eksekutif FWI.

Acara Forexpo 2017 mengangkat isu silang sengkarut pengelolaan hutan Indonesia di delapan Provinsi yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Aceh, Sumatera Barat, Riau dan Sumatera Selatan. Diketahui ada 9 juta hektare area tumpang tindih antara konsesi IUPHHK HT, HPH, Perkebunan, dan Pertambangan. Sementara tumpang tindih keempat konsesi dengan wilayah adat yaitu 1,5 juta hektare.

Kasus silang sengkarut perizinan di kawasan hutan telah mengakibatkan meningkatnya deforestasi, konflik agraria yang berkepanjangan, dan berbagai dampak lanjutan seperti krisis sosial-ekologi, kriminalisasi, pelanggaran HAM, serta pengusiran paksa masyarakat lokal dan atau adat dari ruang hidupnya sendiri. FWI merasa penting untuk menyuarakan permasalahan tersebut kepada pemerintah agar segera menyelesaikan persoalan silang sengkarut yang terjadi, serta menarik partisipasi publik dalam penyelesaian permasalahan sektor kehutanan.

Linda Rosalina, pengkampanye FWI menjabarkan pentingnya mengurai silang sengkarut pengelolaan hutan Indonesia. “Ada rezim perusahaan HTI, pemegang izin HPH, perkebunan sawit, dan rezim pertambangan yang merupakan aktor penyebab silang sengkarut pengelolaan hutan dan lahan. Padahal untuk perbaikan tata kelola hutan di Indonesia, pengelolaan hutan harus terbebas dari semua jenis kegiatan eksploitasi hutan. Tapi hingga saat ini, kita masih terus mengabaikan daya dukung sumberdaya hutan dan keberlanjutannya.”

Acara Forexpo 2017 ditutup dengan pertunjukan Gema Suara Rimba yang mengajak masyarakat turut berpartisipasi dalam kampanye mewujudkan pengelolaan hutan yang adil dan berkelanjutan di Indonesia. FWI berharap, Forexpo 2017 dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan Indonesia, sebelum terlambat. Serta menjadi pengingat pemerintah untuk mempercepat penyelesaian konflik supaya tidak berlarut-larut.

Catatan Editor :

Forest Watch Indonesia (FWI) merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan.
Buku Potret Keadaan Hutan Indonesia atau PKHI adalah buku yang berisi gambaran kondisi dan perubahan tutupan hutan Indonesia yang diproduksi oleh Forest Watch Indonesia. Memuat laju dan proyeksi kehilangan hutan di masa depan, serta kinerja pelaku sektor kehutanan dalam pengelolaan hutan beserta dampaknya terhadap kehilangan hutan. FWI telah menerbitkan 3 seri buku PKHI, yaitu PKHI periode 1985-2000, 2000-2009, dan 2009-2013.
Silang sengkarut diartikan sebagai kekacauan atau ketidakberesan. Dalam tulisan ini, silang sengkarut berarti tumpang tindih atau ketidakberesan dalam perizinan pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia.

Kontak Untuk Media :
Soelthon Gussetya Nanggara, Direktur Eksekutif FWI. Email: sulton @ fwi.or.id; telp: +6285649638037
Linda Rosalina, Juru Kampanye FWI. Email: linda @ fwi.or.id; telp: +6285710886024



Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>