Tata Kelola Buruk: Masyarakat Adat Terdampak Bencana Asap

Bencana asap selalu menimbulkan korban jiwa. Dampak kesehatan yang sangat nyata adalah semakin bertambahnya penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Sumatera dan Kalimantan. Data BNPB mencatat ada 503.874 jiwa yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)? di 6 provinsi sejak 1 Juli-23 Oktober 2015. Sejauh ini, penderita ISPA terbanyak ada di Provinsi Jambi dengan 129.229, lalu di Sumatera Selatan dengan 101.333, di Kalimantan Selatan ada 97.430 penderita ISPA, 80.263 penderita di Riau, 52.142 di Kalimantan Tengah, dan 43.477 di Kalimantan Barat.

Dampak bencana asap juga dirasakan oleh komunitas-komunitas adat. Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat ada sekitar 600 komunitas adat terdampak langsung dari kebakaran lahan dan hutan tersebut. Beberapa dari komunitas tersebut kemudian terpaksa meninggalkan wilayah adat mereka untuk menyelamatkan diri dari kepungan asap dan api.

Kejadian berpindahnya Suku Anak Dalam dari wilayah adat merupakan salah satu contoh bagaimana dampak asap tersebut mempengaruhi kehidupan mereka. Dalam beberapa media, diberitakan Suku Anak Dalam terpaksa keluar dari wilayah adatnya dan ditemukan mengungsi di beberapa lokasi yaitu; Pekanbaru, Pekanbaru – Riau (jalan lintas timur, Riau menuju Jambi), Paya Kumbuh – Sumatera Barat, dan ditemukan di kawasan Hutan Lindung di Desa Tanjung Hera, Kecamatan Toba Penanjung, Bengkulu Tengah.

Masyarakat Adat, Sang Penjaga Hutan terbaik di Indonesia
Masyarakat adat salah satu garda terdepan yang menjaga dan mempertahankan hutan di Indonesia. Dengan pengetahuan yang dimiliki, masyarakat adat telah mampu mengelola hutan secara lestari. Hal ini dibuktikan dari hasil analisis, menunjukkan 65,1 % atau 4,4 juta Ha wilayah adat masih berupa hutan alam.

Pada kebakaran hutan dan lahan gambut 1997 yang lalu, wilayah adat Marga Benakat juga menjadi sasaran api. Pada saat itu, warga banyak yang datang ke lokasi untuk memadamkan api. Warga adat Marga Benakat pada waktu itu belum mengetahui siapa yang membakar Rimbo Sekampung. Satu tahun kemudian, atas gugatan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan, Pengadilan Negeri Palembang membuktikan PT MHP telah terbukti sebagai penyebab kebakaran hutan di Sumatera Selatan pada akhir 1997, termasuk kebakaran yang terjadi di Rimbo Sekampung Marga Benakat.

Tahun ini (2015) kembali Rimbo Sekampung terbakar. Menurut pengamatan AMAN Muara Enim, Hutan adat yang berbatasan dengan konsesi PT MHP ini sebagian besar atau sekitar 75% terbakar habis. Kebakaran menyebabkan hewan-hewan menghilang dan mengusir lebah-lebah yang menyebabkan warga tidak bisa memanen madu hutan. Warga adat belum menemukan siapa pelaku pembakaran yang juga merambat ke kebun-kebun mereka. Api sempat menjalar dan menghanguskan sekitar 10 Ha kebun-kebun milik warga. “Justru masyarakat adat disini yang duluan mengetahui titik api dan memadamkannya. Tidak diketahui sumber api dari mana datangnya, dugaan kami itu sengaja dibakar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab”, Kata Nopiansyah Pengurus Daerah AMAN Muara Enim.

Hingga saat ini, PD AMAN Muara Enim dan komunitas adat Marga Benakat masih berupaya untuk memadamkan api di wilayah adat mereka dengan cara-cara tradisional. Sejumlah titik api di Rimbo Sekampung sudah bisa dipadamkan oleh warga. Meskipun kebakaran belum bisa teratasi, warga komunitas adat Marga Benakat masih memilih bertahan dan belum berencana untuk menggungsi. Untuk antisipasi, PD AMAN Muara Enim menyiapkan tempat (posko) penampungan jika kabut asap bertambah tebal dan mengganggu kesehatan masyarakat. PD AMAN Muara Enim juga terus melakukan idenfifikasi terhadap warga yang terdampak dan membutuhkan penanganan, atau jika perlu untuk dievakuasi ke tempat yang lebih aman.



Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>