Tata Kelola Buruk: Masyarakat Adat Terdampak Bencana Asap

Lebih dari empat bulan lamanya wilayah Indonesia dikepung oleh asap, akibat pembakaran hutan dan lahan gambut. Musim kemarau yang berkepanjangan melipatgandakan dampak dari bencana asap Indonesia. Peristiwa ini seperti mengulang kejadian pada tahun 1982-1983 dan 1997-98, dimana El Nino selalu dijadikan “kambing hitam” sebagai faktor tunggal kejadian ini. Padahal salah urus pengelolaan hutan (selama 45 tahun terakhir) yang harus menjadi penyebab utama meningkatnya frekuensi dan intensitas pembakaran hutan dan lahan, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera . Dampak yang sama telah dirasakan seperti kejadian sebelumnya, selain kerusakan hutan dan lahan, bencana ekologi dan kerugian negara , bencana asap 2015 ini juga telah memakan korban jiwa sebanyak 10 orang meninggal dunia akibat polusi asap yang ditimbulkan.

Pembakaran hutan dan lahan (gambut) merupakan kejahatan kehutanan yang tiada pernah berhenti dari tahun ke tahun. Memang asap secara perlahan telah menghilang seiring dengan datangnya musim hujan. Namun, kita tidak bisa melupakan kejadian ini dengan begitu saja. Perlu tindakan tegas bagi para pelaku yang secara sengaja mencari keuntungan ekonomi dari kejadian pembakaran hutan dan lahan. Pemerintah juga harus bisa menemukan solusi bagi permasalahan ini sehingga tidak terulang kembali.

Pembakaran hutan dan lahan seakan tidak pernah berhenti mengancam kehidupan masyarakat di Indonesia. Jumlah polutan asap di Sumatera dan Kalimantan telah melewati ambang batas aman. Di propinsi Riau, pada bulan september 2015, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) terus anjlok sampai diatas angka 750 Psi (Polutan Standar Index). Padahal, berdasarkan Surat Keputusan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, Kategori ISPU yang masuk dalam kategori berbahaya pada kisaran 300-500 Psi. Fakta ini memperlihatkan bencana asap jelas mengancam peradaban hidup manusia akibat potensi kehilangan generasi (loss generation) mendatang. Terutama bagi kaum perempuan dan anak bayi yang sangat rentan terjangkit ISPA yang akan menyerang sistem jaringan otak.

Cerita dari Marga Benakat, Muara Enim, Sumatera Selatan
Meskipun terdampak langsung kebakaran hutan dan lahan gambut, Komunitas Adat Marga Benakat di Muara Enim, Sumatera Selatan tetap bertahan dan menjaga wilayah / hutan adatnya dari kobaran api. Mereka lebih memilih berusaha memadamkan api dan menjaga kebun-kebun agar tidak terbakar. Selain itu, alasan paling kuat adalah mereka takut jika meninggalkan wilayah adat, khawatir akan dirampas oleh pihak-pihak tertentu.Bukan tanpa alasan, Rimbo Sekampung (hutan adat) milik Marga Benakat saat ini sebagian telah menjadi konsesi milik PT Musi Hutan Persada (PT MHP) lewat izin yang diberikan pemerintah pada 1996. Banyak warga yang dikriminalisasi pada waktu itu saat berusaha mempertahankan Rimbo Sekampung. Hingga saat ini, Marga Benakat masih berkonflik dengan PT MHP karena warga merasa wilayah adat mereka sebagian dirampas dan dijadikan konsesi hutan tanaman industri.

Dulunya marga Benakat mengklaim luas hutan adat tersebut sekitar 6.000 hektar, tapi setelah masuknya sejumlah perusahaan perkebunan sawit dan PT. Musi Hutan Persada (MHP), sebuah perusahaan HTI, yang memiliki konsensi di Kabupaten Muara Enim, Ogan Komering Ulu (OKU), Lahat dan Musirawas, hutan adat tersebut ditetapkan Pemerintah Kabupaten Muara Enim seluas 3.000 hektar (dimuat dalam http://www.mongabay.co.id/2015/08/24/rimbo-sekampung-hutan-adat-marga-benakat-yang-terancam-perkebunan-sawit-bagian-1/).

Berdasarkan pemetaan partisipatif yang difasilitasi oleh AMAN Muara Enim, luas total wilayah adat Marga Benakat 57.886 Ha, dengan pembagian penggunaan lahan secara umum sebagai berikut; 16.929 Ha hutan adat, 39.991 Ha lahan budidaya dan 956 Ha untuk pemukiman. Selain PT MHP, AMAN Muara Enim mencatat saat ini ada beberapa konsesi perusahaan yang ada di wilayah adat Marga Benakat yaitu PT. Surya Bumi Agro Langgeng (PT SBAL) dan PT Citra Futura.

'' ) ); ?>


Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>