Status Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil di Nusa Tenggara Barat : Sudah Efektifkah Terkelola?

TWP Gili Matra secara adminitrasi terletak di Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara dengan luas kawasan 2.954 hektar. Pengelolaan TWP Gili Matra mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2 tahun 2009 yang hanya mengelola wilayah perairannya tanpa daratan pulau kecil. TWP ini sudah memiliki sistem zonasi yang disepakati oleh pemangku kepentingan yaitu, nelayan, operator selam, pengelola resort dan hotel, dan SKPD Lombok Utara. Zonasi terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, zona pelabuhan, zona perikanan berkelanjutan, zona perlindungan, dan Zona Rehabilitasi. Sistem zonasi sangat bermanfaat bagi seluruh pemanfaat dan pengelola mengingat pemanfaatan kawasan di TWP Gili Matra sudah mencapai optimum.

Target konservasi di TWP Gili Matra yaitu, ekosistem terumbu karang dan mangrove, Penyu, Hiu, dan Pari Manta. Sedangkan di daratannya terdapat ekosistem menggenang berupa danau air asin. Banyak resort, hotel, homestay, restaurant, dan operator selam di TWP Gili Matra yang mendukung pemanfaatan kawasan konservasi TWP Gili Matra. Saat ini sudah ada Forum Komunikasi dan Koordinasi Masyarakat (FKKM) sebagai wadah aspirasi dan partisipasi antar pemangku kepentingan. Pendanaan berkelanjutan sudah berjalan melalui sumber dana dari operator selam yang digunakan untuk operasional pengawasan. Sementara itu permasalahan bersama di TWP Gili Matra yaitu sampah. Namun Sudah ada sistem pengelolaan sampah yang dilakukan pemuda desa melalui pemungutan-pemungutan dan pengumpulan sampah dari pemanfaat kawasan.

Saat ini, tingkat efektivitas pengelolaan kawasan konservasi TWP Gili Matra berada pada level kuning. Upaya yang telah dilakukan adalah dilakukan strategi penguatan kelembagaan, strategi penguatan pengelolaan sumber daya kawasan, strategi penguatan sosial ekonomi dan budaya. Meningkatnya tingkat efektivitas pengelolaan menjadi level hijau dengan membuat SOP pengelolaan (penguatan kelembagaan, patroli bersama, pengelolaan sumber daya kawasan, dan penguatan sosial ekonomi budaya). TWP Gili Matra menjadi acuan dalam pengelolaan kawasan konservasi di NTB.

Kabupaten Lombok Timur
Lombok Timur memiliki destinasi wisata pulau-pulau kecil yaitu, Gili Sulat dan Lawang. Gili Sulat dan Lawang merupakan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) dalam bentuk taman wisata perairan dengan luas 10.000 hektar. TWP Sulat Lawang mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 2 tahun 2009 yang hanya mengelola wilayah perairan tanpa daratan. Wilayah daratan memiliki status kawasan hutan berupa Hutan Lindung dibawah pengelolaan Dinas Kehutanan Kabupaten Lombok Timur.

Secara administrasi TWP Sulat Lawang berada di Desa Sugian, Belanting, Dadap, Dara Kunci, dan Labu Pandan Kecamatan Sambelia Kabupaten Lombok Timur. TWP Sulat Lawang dicadangkan oleh Bupati Lombok Timur melalui Surat Keputusan Bupati Nomor 188/332/KP/2014. Sebelumnya Gili Sulat dan Gili Lawang berupa Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) yang dicadangkan pada tahun 2005 oleh Bupati. Namun KKLD sudah tidak relevan lagi dengan nomenklatur kawasan konservasi dibawah pengelolaan KKP sehingga terjadi pembaruan menjadi KKPD.

TWP Sulat Lawang sudah memiliki sistem zonasi yang disepakati oleh para pemangku kepentingan yaitu, Zona Inti, Zona Pemanfaatan, dan Zona Perikanan Berkelanjutan. Sistem zonasi ini sudah disosialisasikan oleh DKP Kabupaten Lombok Timur sebagai kesepakatan bersama.TWP Sulat Lawang memiliki target konservasi sumber daya berupa ekosistem terumbu karang dan mangrove. Mangrove di TWP Sulat Lawang sering kali dimanfaatkan sebagai ekoturisme seperti susur mangrove dan pengamatan burung. Terdapat pula wisata untuk diving dan snorkeling. Pemanfaatan kawasan TWP Sulat Lawang juga banyak menjadi daerah riset bagi para peneliti,dengan obyek penelitian ekosistem mangrove dan invertebrata.

Tingkat efektivitas pengelolaan TWP Sulat Lawang berada pada level merah. Upaya yang telah dilakukan yaitu, dengan melakukan survei ekologi dan sosial ekonomi, menyusun dokumen Rencana Pengelolaan dan Zonasi, serta dibentuknya UPTD. Adanya pengadaan sarana dan prasarana pendukung pengelolaan serta dukungan pembiayaan pengelolaan membuat efektivitas pengelolaan kawasan konservasi meingkat dari level merah menjadi level kuning . Walaupun masih dalam level merah TWP Sulat Lawang merupakan satu-satunya KKPD yang memiliki UPTD di NTB. Adanya UPTD di TWP Sulat Lawang perlu didukung dengan kapasitas pengelola kawasan yang baik dan dukungan pembiayaan untuk melakukan pengawasan dalam menegakan zonasi yang sudah disepakati.

Lombok Timur juga memiliki pulau-pulau kecil di luar kawasan konservasi yaitu, Gili Kondo, Lampu, dan Bidara yang pengelolaannya berada di DKP Lombok Timur. Saat ini ketiga pulau-pulau kecil tersebut sudah menjadi destinasi wisata masyarakat,. tetapi tanpa status kawasan konservasi dan tidak menganut sistem adat atau kearifan lokal, sehingga tidak menjadi pusat pengembangan dan pembangunan pulau-pulau kecilserta sangat rawan terjadi kegiatan penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) dengan menggunakan bahan peledak atau racun.



Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>