Pulau – Pulau Kecil dan Persoalan Ruang Hidup di Maluku Utara

Sementara di Halmahera, industry yang sama juga sedang bekerja. Di Halmahera Utara, PT. Nusa Halmahera Mineral (NHM) salah satu perusahan tambang emas asal Australia merombak hutan adat Hoana Pagu besar-besaran sampai membuang limbah di Teluk Kao dan menyebabkan ekosistem laut menjadi rusak. Masyarakat adat Pagu kehilangan sumber pendapatan ekonomi mereka sebagai nelayan ikan teri. Di Halmahera Tengah, PT. Weda Bay Nikel dari Prancis, dan PT. Tekindo Energy dari CTiongkok menggaruk nikel, menguasai tanah-tanah warga adat Sawai. Aktifitas kedua perusahan besar ini selain menyebabkan Konflik pada internal masyarakat juga mengakibatkan pemukiman penduduk harus menerima resiko banjir yang berulang-ulang kali terjadi karena pembukaan hutan sebagai penyangga. Di Halmahera Timur, PT. Antam sedang bekerja menggaruk nikel dan menyebabkan Teluk Buli tercemar. Selain ekosistem rusak, warga setempat juga kehilangan mata pencaharian mereka di laut. Di beberapa titik tambang bekerja pun sama persoalannya. Semua tentang penghancuran ekologi dan ruang hidup masyarakat di kepulauan.

Hidup Yang Semakin Sulit di Kepulauan
Jika kembali kita menghitung kekayaan negeri ini yang dianugrahi oleh Tuhan, seharusnya masyarakat Maluku Utara bisa menikmati hidup lebih baik, tidak seperti sekarang. Potensi laut yang kaya, belum lagi hasil hutan dan hasil pertanian (perkebunan), serta sumberdaya alam yang sangat potensial, semestinya menjadi berkah bagi masyarakat untuk dapat hidup sejahtera. Namun fakta tersebut berbanding terbalik dari yang seharusnya diatas. Sebagai negeri kepulauan, harusnya dibangun berdasarkan karakteristiknya bukan malah sebaliknya mendorong pembangunan yang tidak berprespektif kepulauan. Dilema pembangunan melahirkan problem yang semakin kompleks yang harus diterima masyarakat kepulauan. Krisis air terjadi di mana-mana, contoh kongkrit masyarakat Pulau Gebe yang saat ini harus menerima kenyataan pahit karena krisis air melanda pulau tersebut. Belum lagi akses pada tanah, hutan dan laut semakin terbatas, selain karena skema kawasan hutan, eko wisata, lebih hebat lagi skema izin tambang dan sawit diatas wilayah – wilayah adat.

Masyarakat juga harus menghadapi perubahan iklim, musim laut tak lagi menentu, nelayan terus mengalami kerugian, selain hasil tangkapan menurun, belum lagi pencurian ikan yang dilakukan nelayan asing tidak terkendali. Petani harus merugi, karena hasil bumi baik kelapa, pala dan cengkeh harganya semakin menurun drastis, para tengkulaknya justru yang semakin kaya. Dari periode ke periode pemerintah di daerah ini berganti, wilayah – wilayah yang terisolir tidak dibuka aksesnya. Masyarakat harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan ongkos yang sangat tinggi untuk menjual hasil perkebunan mereka. Masyarakat diperhadapkan dengan satu situasi dan konstruksi pembangunan yang tidak sinergi dengan kepentingan pada sektor rill yang berhubungan dengan hidup mereka.

Kondisi ini masih akan terus berlangsung jika tidak ada upaya perbaikan yang sesungguhnya untuk mendorong kebijakan pembangunan yang lebih adaptif dengan memperhatikan kepulauan sebagai ruang hidup masyarakat, bukan wujud yang terus-menerus di eksploitasi.

Kearifan Lokal Menjaga Hutan Halmahera
Hutan Halmahera dihuni oleh salah satu kelompok masyarakat adat yang masih tradisional, kelompok tersebut adalah Togutil. Dalam istilah lokal, Togutil di kenal sebagai O’Hongana Manyawa (Orang Hutan) yang hidup turun – temurun di hutan Halmahera. Sebagian dari mereka masih nomaden, sebagian telah hidup menetap. Menurut catatan Burung Indonesia, Togutil tersebar menjadi 21 kelompok dengan wilayah adat masing-masing.

Togutil masih memegang kuat tradisi yang menghubungkan mereka dengan hutan. Hubungan dengan hutan tidak saja dibangun pada tataran nilai yang sifatnya ekonomis, dimana mereka bisa mencari makan, namun lebih dari itu hutan di ikat dengan satu pendekatan kosmologi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cara mereka mengelola alam. Hutan dianalogikan sebagai ais susu ibu, juga sebagai tempat hidup para leluhur dan rumah tempat hidup mereka. Hal demikian membuat mereka tidak melakukan aktifitas yang merusak hutan secara massif. Bahkan sebaliknya setiap orang diharuskan menanam pohon. Misalnya setiap satu anak yang lahir, jika anak tersebut laki-laki maka 10 pohon harus ditanam, jika perempuan maka 5 pohon harus ditanam.

Kehidupan mereka selalu berdekatan dengan aliran sungai. Air menandakan kekuatan tubuh seseorang, sebab itu setiap bayi yang baru lahir, mereka selalu memandikannya lebih dulu dengan air sungai. Sungai juga sebagai sumber kehidupan karena disitu mereka bisa menangkap belut, kerang maupun udang. Bagi mereka, alam telah menyediakan segalanya untuk membangun hidup. Bersahabat dengan alam, adalah sebuat tradisi yang melekat baik bagi mereka yang sudah bermukim maupun yang masih nomeden.

Togutil membagi hutan atau Hoana dalam istilah wilayah adat, oleh Saiful Majid, Sosiolog UMMU (2005), mengatakan ada tiga kategori, Fongana (Daerah Pemukiman), Hongana Magogomana (Hutan Adat) dan Ragi Maamoko (Hutan Industri). Pembagian ini adalah konsep ruang yang mereka anut dalam mengelola dan memanfaatkan wilayah adat secara berkelanjutan. Pada wilayah seperti Hongana Magogomana tidak boleh ada aktifitas pembukaan hutan atau pemukian, karena itu hanya diperuntukan tempat ritual.

Terlepas dari rentetan masalah yang mereka hadapi masa kini, mulai dari arus budaya luar yang masuk ke mereka, sampai akses pada hutan yang semakin menyempit karena kebijakan negara, Togutil telah mengajarkan kita untuk menjaga kelangsungan ekologi dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Pengetahuan lokal sebenarnya bisa menjadi modal yang sangat berharga untuk menjaga hutan di pulau-pulau kecil.
Hutan Halmahera dengan keanekaragama hayati yang hidup di dalamnya merupakan epicetrum Maluku Utara. Tidak bisa dinafikan, kelestarian hutan tersebut karena praktek kearifan lokal yang dilakukan langsung oleh orang Togutil dan masyarakat adat yang menetap di pesisir yang memiliki hubungan dengan hutan. Upaya seperti harus menjadi modal dasar melawan model pembangunan yang ekstraktif yang lebih banyak menggusur ruang hidup masyarakat.



One thought on “Pulau – Pulau Kecil dan Persoalan Ruang Hidup di Maluku Utara

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>