Pokok Pokok Temuan Potret Keadaan Hutan Indonesia Periode 2009-2013

1. Di tahun 2013 luas daratan Indonesia yang masih tertutup hutan alam adalah 82 juta hektare. Tujuh puluh lima persen diantaranya ada di daratan Papua dan Kalimantan.

2. Di tahun 2013 tersebut urutan luas tutupan hutan alam adalah: Papua 29,4 juta hektare, Kalimantan 26,6 juta hektare, Sumatera 11,4 juta hektare, Sulawesi 8,9 juta hektare, Maluku 4,3 juta hektare, Bali dan Nusa Tenggara 1,1 juta hektare, dan Jawa 675 ribu hektare.

3. Di tahun 2013 dari luas seluruh daratan Maluku 57 persennya masih berupa hutan alam. Luas hutan Maluku tersebut hanya menyumbang 5 persen ke total luas hutan Indonesia. Kondisi geografis dan kerentanan wilayah akibat aktivitas konversi hutan di suatu pulau, khususnya di pulau-pulau kecil, ternyata selama ini tidak menjadi pertimbangan penting dalam penentuan arah kebijakan pengelolaan hutan.

4. Di tahun 2013 sekitar 78 juta hektare atau 63 persen dari luas seluruh Kawasan Hutan Negara masih berupa hutan alam.

5. Tutupan hutan alam terluas berada di dalam Kawasan Hutan Lindung yaitu sebesar 22,9 juta hektare atau 28 persen dari total luas tutupan hutan alam di Indonesia.

6. Sampai dengan tahun 2013 sekitar 44 juta hektare atau 25 persen dari luas daratan Indonesia telah dibebani izin pengelolaan lahan dalam bentuk IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, perkebunan kelapa sawit, dan juga pertambangan.

7. Kondisi tutupan hutan alam di dalam konsesi IUPHHK-HA adalah seluas 11 juta hektare, IUPHHK-HT seluas 1,5 juta hektare, konsesi perkebunan seluas 1,5 juta hektare, dan pertambangan seluas 10 juta hektare.
8. Kami menemukan 14,7 juta hektare areal penggunaan lahan yang tumpang tindih antara IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan.

9. Kami menemukan sekitar 7 juta hektare luas tutupan hutan alam yang berada di dalam areal penggunaan lahan yang tumpang tindih antara IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan.

10. Di tahun 2013 berdasarkan fungsi Kawasan Hutan Negara dan Areal Penggunaan Lain kami menemukan bahwa dari 51 juta juta hektare luas tutupan hutan alam yang tidak dibebani izin, sekitar 37 persennya berada di dalam Kawasan Lindung, 19 persen di dalam Kawasan Konservasi, 15 persen di dalam Kawasan Hutan Produksi, 12 persen di dalam Kawasan Hutan Produksi Terbatas, 12 persen di dalam Kawasan Hutan Produksi Konversi, dan 5 persen di dalam Areal Penggunaan Lain.

11. Sampai dengan tahun 2013 terdapat 41 juta hektare luas tutupan hutan alam yang berada di Kawasan Hutan Lindung, Hutan Produksi dan Area Penggunaan Lain yang belum memiliki lembaga yang bertanggung jawab sebagai pengelola di lapangan.

12. Sekitar 73 juta hektare luas tutupan hutan alam di Indonesia terancam oleh kerusakan yang lebih besar di masa yang akan datang, baik yang disebabkan aktivitas penebangan dan konversi lahan yang terencana, akses terbuka (open access)terhadap lahan, serta ketidakhadiran pengelola di tingkat tapak.

13. Berdasarkan analisis FWI kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) di Indonesia pada periode 2009-2013 adalah sekitar 4,50 juta hektare dan laju kehilangan hutan alam Indonesia adalah sekitar 1,13 juta hektare per tahun.

14. Kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) terbesar selama periode 2009-2013 berdasarkan urutan provinsi: Provinsi Riau 690 ribu hektare, Kalimantan Tengah 619 ribu hektare, Papua 490 ribu hektare, Kalimantan Timur 448 ribu hektare, dan Kalimantan Barat 426 ribu hektare.

15. Kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) terbesar selama periode 2009-2013 berdasarkan fungsi Kawasan Hutan Negara dan Areal Penggunaan Lain secara berurutan adalah Kawasan Hutan Produksi dengan angka deforestasi 1,28 juta hektare, Areal penggunaan lain 1,12 juta hektare, Kawasan Hutan Produksi yang Dapat Dikonversi 0,78 juta hektare, Kawasan Hutan Produksi Terbatas 0,7 juta hektare, Kawasan Hutan Lindung 0,48 juta hektare dan Kawasan Konservasi 0,23 juta hektare.

16. Analisis FWI atas hasil penafsiran citra satelit di Indonesia menunjukkan bahwa kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) di lahan gambut pada periode 2009-2013 adalah 1,1 juta hektare. Angka ini adalah lebih dari seperempat total kehilangan tutupan hutan alam di seluruh Indonesia.

17. Kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) terbesar di lahan gambut selama periode 2009-2013 adalah di Provinsi Riau yaitu sebesar 500 ribu hektare.

18. Kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) selama periode 2009-2013 berdasarkan wilayah yang sudah dibebani izin pengelolaan hutan dan lahan (HPH, HTI, Perkebunan, dan Pertambangan) adalah sebesar 2,3 juta hektare. Sedangkan deforestasi yang terjadi di wilayah yang tidak dibebani izin adalah sebesar 2,2 juta hektare.

19. Kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) selama periode 2009-2013 di dalam konsesi HPH adalah sebesar 276,9 ribu hektare, dimana 152,8 ribu hektare diantaranya adalah kehilangan tutupan hutan alam di dalam konsesi konsesi HPH di Pulau Kalimantan.

20. Sampai dengan tahun 2013 terdapat 22,8 juta hektare Kawasan Hutan Produksi yang dimanfaatkan oleh 272 unit manajemen IUPHHK-HA atau HPH yang memiliki izin definitif. Dari seluruh unit manajemen IUPHHK-HA tersebut, hanya 115 yang masih aktif beroperasi.

21. Sejak diterapkannya Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) di tahun 2009, hingga bulan Juni 2014 terdapat 112 unit manajemen IUPHHK-HA yang telah mengajukan permohonan sertifikasi Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL), dan hanya 92 unit manajemen yang totalnya mengelola 10 juta hektare yang memperoleh Sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (S-PHPL). Sementara untuk sertifikasi Legalitas Kayu, terdapat 25 unit manajemen IUPHHK-HA yang mengajukan permohonan, dan hanya 22 unit yang memperoleh Sertifikat Legalitas Kayu (S-LK).

22. Kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) selama periode 2009-2013 di dalam konsesi IUPHHK-HT atau HTI adalah sebesar 453,1 ribu hektare, dimana 366,2 ribu hektare diantaranya adalah di dalam konsesi-konsesi HTI di Pulau Sumatera.

23. Dari sekitar 10 juta hektare luas IUPHHK-HT atau HTI di Indonesia, 4,5 juta hektare diantaranya berada di Pulau Sumatera (110 unit manajemen) dan 4,5 juta hektare lagi di Pulau Kalimantan (105 unit manajemen).

24. Sampai dengan tahun 2012 dari 234 unit manajemen IUPHHK-HT yang definitif, hanya 53 unit manajemen atau 23 persen saja yang telah mendapatkan Sertifikat Legalitas Kayu (S-LK).

25. Sampai dengan Juni 2014 dari total 234 unit manajemen IUPPHK-HT hanya 44 unit yang telah bersertifikat PHPL, dan 58 unit telah bersertifikat LK.

26. Pasokan kayu dari hutan tanaman pada tahun 2012 adalah sebesar 26,12 juta m3 atau sekitar 53 persen dari total produksi kayu nasional di tahun tersebut.

27. Kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) selama periode 2009-2013 di dalam konsesi perkebunan kelapa sawit adalah sebesar 515,9 ribu hektare, dimana 327,5 ribu hektare diantaranya berada di dalam konsesi-konsesi perkebunan sawit di Pulau Kalimantan.

28. Kalimantan Barat adalah provinsi dengan kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) terbesar di dalam konsesi perkebunan sawit yaitu 147,6 ribu hektare.

29. Terdapat sekitar 44,3 juta hektare area berhutan alam di dalam Kawasan Konservasi, Kawasan Hutan Lindung, Lahan Gambut, dan Hutan-hutan Primer yang terliput oleh kebijakan Penundaan Pemberian Izin Baru (PPIB).

30. Kasus Kepulauan Aru di Provinsi Maluku merupakan cermin dari kelemahan kebijakan Penundaan Pemberian Izin Baru, di mana izin untuk perkebunan tebu seluas 67 ribu hektare malah diberikan di atas lahan berhutan alam di Kepulauan Aru yang telah termasuk di dalam wilayah PPIB.

31. Terdapat 14 perusahaan IUPHHK-HT (HTI) yang terlibat kasus korupsi, 3 di antaranya adalah perusahaan yang telah mendapatkan Sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan 8 lagi adalah perusahaan yang telah mendapatkan Sertifikat Legalitas Kayu.

32. Pada periode 1990-2010 terdapat 2.585 kasus konflik di 27 provinsi di Indonesia yang melibatkan masyarakat adat/lokal. Dari total kasus konflik tersebut 1.065 adalah kasus konflik di sektor kehutanan dan 563 kasus di sektor perkebunan.

33. Pada laju kehilangan tutupan hutan alam (deforestasi) yang sama maka diperkirakan pada tahun 2023 hutan alam di beberapa provinsi akan habis, termasuk provinsi-provinsi di Sumatera yaitu Riau, Kepulauan Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

'' ) ); ?>


Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>