Peran Perbankan Terhadap Ekspansi Industri dan Hutan Tanaman Industri PT Toba Pulp Lestari

c. Maraknya Konflik Tenurial
Monitoring dan Kajian konflik dilakukan di lima desa, antara lain Desa Pandumaan dan Desa Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara; Desa Naga Tonga dan Dusun Naga Hulambu, Kenegerian Pondok Bulu, Kabupaten Simalungun; dan Lumban Naiang, Desa Aek Lung, Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan. Masyarakat adat di lima desa ini dipilih menjadi lokasi monitoring dan investigasi karena beberapa alasan, antara lain:

– Tanah adat masyarakat adat yang berada di lima desa ini masuk dalam wilayah konsesi PT TPL yang mewakili Sektor Tele dan Sektor Aek Nauli.
– Penduduk di lima desa ini juga merupakan penerima dampak langsung ekspansi perusahaan ini, khususnya terkait dengan akses terhadap tanah dan sumber daya alam.
– Selain di Desa Naga Tonga, Dusun Naga Hulambu, Desa Pandumaan, Desa Sipituhuta dan Desa Aek Lung terdapat perlawanan komunitas masyarakat adat terhadap pihak perusahaan terkait dengan saling klaim kepemilikan tanah.

Sejak awal tahun 2007, konflik antara masyarakat adat yang tinggal di sekitar areal konsesi TPL sudah mulai muncul. Perlawanan muncul dari Kelompok Petani Kemenyan yang ada di Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan. Kecamatan Pollung dikenal sebagai daerah penghasil kemenyan di Humbang Hasundutan, dimana sebagian besar penduduknya merupakan petani kemenyan. Kehadiran PT TPL yang menebang hutan kemenyan yang mereka klaim sebagai tanah adat tersebut menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup mereka. Menyikapi protes masyarakat tersebut, PT TPL difasilitasi pemerintah melakukan negosiasi dengan masyarakat, di mana dalam negosiasi tersebut pengurus kelompok petani kemenyan tersebut menerima uang sebesar Rp. 110 juta yang disebut dengan pasipisang na tonggi. Pemberian sejumlah uang ini berhasil menghentikan sementara protes dari Kelompok Petani Kemenyan Kecamatan Pollung.

Pada Juni 2009, protes kembali muncul dari kelompok petani kemenyan di Desa Pandumaan dan Desa Sipituhuta. Penduduk di dua desa ini terdiri dari beberapa marga, seperti LumbangaoL, Lumbanbatu, Nainggolan, Sinambela, Sihite, Pandiangan dan beberapa marga lainnya yang berada dalam satu wilayah adat yang sama. Masyarakat di dua desa ini bersama-sama melakukan perlawanan terhadap ekspansi PT TPL di tombak haminjon mereka. Sejak Juni 2009 sampai dengan saat ini konflik masyarakat adat Pandumaan dan Sipituhuta dengan PT TPL masih terus berlanjut. Kedua belah pihak sama-sama membuat klaim atas tombak haminjon seluas 5.172 hektar tersebut.

Klaim masyarakat adat berangkat dari keyakinan mereka bahwa tanah tersebut merupakan tanah adat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka sejak dulu sampai saat ini. Di mana sampai dengan saat ini keberadaan mereka di sana diperkirakan sudah mencapai 200-300 tahun, sekitar 13-16 generasi dilihat dari silsilah yang mereka tuliskan kembali. Hal ini diperkuat dari hasil penelitian Badan Arkeologi Medan yang dipimpin oleh Ketut Wiradyana dan Bucas P Koestoro yang dilakukan pada 7-9 Pebruari 2013. Hasil penelitian Badan Arkeologi ini kembali menegaskan bahwa dari beberapa sampel perkampungan yang diteliti, seperti parik dan patung Pangulubalang yang ada di Desa Pandumaan merupakan bukti perkampungan tua.

Konflik yang terjadi akibat ekspansi hutan tanaman industri PT Toba Pulp Lestari, tidak hanya terjadi antara masyarakat dan perusahaan, tetapi konflik juga terjadi antar masyarakat dan menimbulkan ancaman terhadap hilangnya sumber penghidupan. Beberapa konflik yang terjadi diantaranya:

o Berkurangnya sumber mata pencaharian atau hilangnya akses terhadap sumber kehidupan. Hal ini sangat dirasakan oleh masyarakat di Desa Pandumaan, Desa Sipituhuta, Desa Aek Lung, Dusun Naga Hulambu dan juga Desa Naga Tonga-tonga. Penebangan sekitar 400 hektar hutan kemenyan di wilayah adat Pandumaan-Sipituhuta pada tahun 2009 membuat sebagian dari anggota masyarakat adat kehilangan sumber mata pencaharian. Sebagaimana dikatakan oleh salah satu masyarakat, bahwa wilayah adat mereka, sekitar 5.172 hektar yang diklaim pihak TPL sebagai areal konsesinya (meskipun yang dihancurkan pihak TPL masih sekitar 400 hektar), namun dampaknya sudah sangat dirasakan oleh petani kemenyan di sana. Karena tombak-tombak yang ada di sekitar mereka sudah terlebih dahulu ditebangi dan diganti dengan tanaman eukaliptus.

Sebagaimana pemahaman dan pengalaman masyarakat lokal, bahwa pohon kemenyan hanya bisa mengasilkan getah jika dikelilingi atau tumbuh bersama-sama dengan pohon-pohon alam lainnya. Namun sejak penebangan kayu-kayu alam yang dilakukan TPL, getah kemenyan tidak lagi menghasilkan getah seperti lima-sepuluh tahun yang lalu. Kemenyan merupakan sumber mata pencaharian utama penduduk, untuk kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pendidikan, biaya kesehatan dan juga biaya adat. Sekitar 5-10 tahun lalu, mereka masih bisa menyimpan kemenyan di rumah untuk tabungan biaya sekolah, biaya adat, dan juga biaya Natal dan Tahun Baru. Biasanya mereka menjual kemenyan tabungan tersebut pada bulan Juni-Juli, dan bulan Desember. Dan ada kalanya dijual sewaktu-waktu untuk kebutuhan mendadak.



Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>