Pemerintah Diminta Menghentikan Ekspansi Industri Pulp dan Menghentikan Pasokan Kayu Dari Hutan Alam Untuk Industri Pulp

*Contoh Kasus RAPP dan IKPP
Bogor, 19 September 2008. Kerusakan hutan di Indonesia akibat industri pulp akan semakin meningkat bila kapasitasnya tidak disesuaikan dengan kemampuan HTI dalam memasok bahan baku. Sehingga pemerintah harus segera menghentikan sementara (moratorium) atas peningkatan kapasitas industri pulp sampai adanya kepastian pasokan bahan baku yang sepenuhnya berasal dari HTI. Pemerintah juga harus segera membuat kebijakan yang melarang penggunaan bahan baku kayu dari hutan alam untuk industri pulp. Pernyataan ini disampaikan Forest Watch Indonesia (FWI) dalam laporannya yang berjudul “Ekspansi Industri Pulp: Cara Optimis Penghancuran Hutan Alam” Contoh Kasus RAPP dan IKPP, yang dikeluarkan pada 18 September 2008.

Dalam laporannya menunjukkan pertumbuhan industri pulp di Indonesia meningkat pesat dalam dua dekade terakhir. Tahun 1987 kapasitasnya hanya 0,5 juta ton dan melejit hingga 6,5 juta ton pada tahun 2007 dengan kebutuhan bahan baku sekitar 30 juta m3. Bahan baku industri pulp selama ini bersumber dari HTI dan sumber-sumber lain. Selama 2000-2007 pasokan bahan baku industri pulp nasional dipenuhi dari produksi HTI sebesar 28% per tahun sedangkan 72% sisanya dipenuhi dari hutan alam (mixed tropical hardwood atau MTH). Ketidakmampuan HTI memasok seratus persen bahan baku industri pulp menjadi pemicu tekanan terhadap kelestarian hutan alam.

Dua raksasa pulp di Indonesia yakni RAPP dan IKPP yang menguasai 62 persen kapasitas terpasang pulp nasional merupakan contoh industri pulp yang sejak awal beroperasi selalu mengandalkan pasokan bahan baku dari hutan alam (MTH).

Dengan mengacu pada rata-rata realisasi penanaman HTI RAPP dan mitranya yang hanya seluas 26.611 hektar per tahun, dapat dipastikan bahwa RAPP belum mampu memasok seratus persen kebutuhan bahan baku pabrik pulpnya dari HTI yang telah dibangun. Sedangkan jika hanya melihat realisasi penanaman HTI selama 2000-2007 memang menunjukkan adanya peningkatan rata-rata menjadi 32.364 hektar per tahun namun angka ini masih jauh dari luasan minimal sebesar 57.143 hektar yang dibutuhkan RAPP setiap tahunnya untuk mencapai pasokan lestari sepenuhnya dari HTI.

Kekurangan pasokan bahan baku ini jika diakumulasikan sejak pertama kali pabrik beroperasi di tahun 1995 sampai 2008 maka diperkirakan sekitar 59 juta m3 bahan baku kayu dari hutan alam (MTH) yang telah dipasok ke RAPP. Angka ini setara dengan hutan alam seluas 0,75 juta hektar atau rata-rata setiap tahun seluas 54 ribu hektar hutan alam yang dikonversi.

Sementara IKPP yang telah 24 tahun beroperasi terbukti masih belum mampu memastikan sepenuhnya pasokan yang lestari dari HTI yang dibangunnya. Melihat realisasi penanaman pada 2000-2007 seluas 34.675 hektar setiap tahunnya menunjukkan masih adanya kekurangan untuk mencapai luasan minimal 57.143 hektar dalam memenuhi seluruh kebutuhan bahan baku pabrik pulp IKPP.

Seperti halnya RAPP, kekurangan pasokan bahan baku IKPP setiap tahunnya jika diakumulasikan sejak pertama kali pabrik beroperasi di tahun 1984 sampai 2008 akan setara dengan kayu dari hutan alam (MTH) sebanyak 74 juta m3. Angka ini setara dengan hutan alam seluas 0,94 juta hektar atau rata-rata setiap tahun seluas 39 ribu hektar hutan alam yang dikonversi.

Wirendro Sumargo, Juru kampanye FWI mengatakan bahwa dengan realisasi penanaman HTI kedua perusahaan tersebut hingga saat ini maka dipastikan ketergantungan mereka terhadap pasokan bahan baku dari hutan alam akan terus berlanjut sampai tahun 2014. “Hutan alam seluas 0,57 juta hektar terancam rusak. Hal ini dapat dihindari asalkan kedua perusahaan ini segera menghentikan penggunaan bahan baku dari hutan alam dan merasionalisasi kapasitas pabriknya menyesuaikan dengan kemampuan pasokan dari HTI yang telah dibangun”, tegasnya.

Pemerintah telah berkomitmen untuk menekan kerusakan hutan. Terkait dengan industri pulp, Departemen Kehutanan telah menetapkan batas waktu penggunaan bahan baku dari hutan alam untuk industri pulp pada tahun 2009. Melihat adanya ancaman kerusakan hutan oleh RAPP dan IKPP yang masih akan mengandalkan bahan baku dari hutan alam hingga tahun 2014, tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk segera menghentikan pasokan bahan baku industri pulp dari hutan alam. “Tidak perlu menunggu 2009”, seru Wirendro.

Catatan editor:
1.Forest Watch Indonesia merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan.
2.RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) merupakan salah satu perusahaan di bawah payung usaha Asia Pacific Resources International Holdings Ltd. (APRIL) saat ini memiliki kapasitas industri pulp sebesar 2 juta ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sedikitnya 9,5 juta ton setiap tahunnya. Selama ini RAPP mendapatkan pasokan bahan baku dari HTI yang dibangunnya ditambah melalui usaha patungan (joint venture) ataupun operasi bersama (joint operation) dan melalui program hutan tanaman rakyat (HTR).
3.IKPP (Indah Kiat Pulp and Paper) merupakan salah satu perusahaan di bawah payung usaha Asia Pulp and Paper Company Ltd. (APP) yang tergabung dalam grup Sinar Mas. Saat ini IKPP memiliki kapasitas industri pulp sebesar 2 juta ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sedikitnya 9,5 juta ton setiap tahunnya dan mengandalkan pasokan bahan baku dari HTI yang tergabung dalam grup Arara Abadi yang juga berada di bawah grup Sinar Mas, yaitu Sinar Mas Forestry.
4.Laporan yang berjudul “Ekspansi Industri Pulp: Cara Optimis Penghancuran Hutan Alam” Contoh Kasus RAPP dan IKPP, dapat diunduh pada link dibawah.

Informasi lebih lanjut, kontak:
Wirendro Sumargo
Public Campaign And Policy Dialogue Coordinator
Forest Watch Indonesia,
HP: +62 8159280585,
email: rendro@fwi.or.id

Sekretariat Forest Watch Indonesia
Jalan Sempur Kaler No.26 Bogor,
Telp: +62 251 8323664, Fax: +62 251 8317926,
email: fwibogor@fwi.or.id; fwi@indo.net.id
website fwi.or.id

'' ) ); ?>


Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>