Pala, Penjaga Hutan Patani

Intip_Hutan_Feb_2016_opti_5_Pala_Biji_PalaPala, oleh masyarakat adat Patani telah dianggap sebagai ibu dalam sebuah keluarga. Ia memberi kehidupan, begitu ungkapan Jakaria Hasan. Ungkapan Jakaria bukan melebihlebihkan, karena berkat buah pala, lima dari tujuh saudaranya dapat menyelesaikan kuliah. Jakaria mengikuti jejak orangtuanya bertanam pala, dan sejak 1982 ia sudah memanen biji pala dari lahannya sendiri.

Di Bobane Indah rata-rata satu keluarga memiliki 50-60 pohon pala. Masing-masing bisa menghasilkan biji pala hingga 5-6 kilogram. Apabila dihitung-hitung, ketika harga biji pala 90 ribu per kilogram, masyarakat dapat menguangkannya hingga 32 juta rupiah dalam sekali panen. Itu baru dari biji pala, belum lagi fuli atau kulit biji pala yang semurah-murahnya dihargai 130 ribu. Bagi masyarakat Patani, ini sudah lebih dari cukup, apalagi pala bisa dipanen hingga 4 kali dalam setahun.

Keseharian masyarakat adat Patani dengan pala merupakan kekuatan ekonomi tersendiri. Dari kacamata para pemodal besar mungkin tidak menjadi perhatian, namun geliat ekonomi ini justru memiliki dampak yang besar bagi perekonomian Indonesia. Bahkan sejak sebelum zaman penjajahan, raja-raja di Maluku merupakan raja-raja yang kaya dari hasil penjualan rempahrempah. Menurut catatan Kementerian Perindustrian, pala adalah komoditas ekspor yang sangat penting. Pada tahun 2012 Indonesia menjadi pengekspor biji dan fuli pala yang terbesar, untuk memenuhi sekitar 60% kebutuhan pala dunia. Pala Indonesia diekspor hingga ke 70-an negara, dari Malaysia hingga Afrika Selatan. Di Bobane Indah saja, produksi pala mencapai 52,5 ton (Badan Pusat Statistik, 2015).

Berlayar Keliling Dunia Mengejar Pala

Jauh sebelum Negara Indonesia berdiri, Maluku Utara telah dikenal dunia karena rempah-rempahnya. Rempah-rempah di Maluku awalnya hanya diketahui oleh para pedagang dari Tiongkok. Pedagang-pedagang Tiongkok inilah yang kemudian membawanya ke pasar Eropa lewat jalur laut maupun jalur darat.

Rempah-rempah menjadi mahal karena jalur laut yang jauh, sementara bila melalui jalur darat, banyak pungutan liar yang harus dibayarkan dan bahaya dari perampok yang selalu mengintai perjalanan.

Didorong oleh kebutuhan yang besar dan mahalnya harga, bangsa Eropa berambisi untuk menemukan negara asal rempah-rempah ini. Mereka melakukan pelayaran panjang, hingga sampailah ke Maluku Utara.

Perdagangan rempah-rempah antara Maluku dan bangsa Eropa sudah dimulai tahun 1512. Pala adalah satu di antara rempah-rempah berharga yang dicari-cari oleh bangsa asing.

Bagi mereka, pala adalah emas, sama seperti cengkeh yang dianggap sebagai emas hitam. Bahkan ada yang mengatakan, bila saat itu seseorang membawa 2 karung berisi pala ke Eropa, maka hasilnya akan mencukupi kehidupannya sampai akhir hayat di sana.

Tapi, ada saja orang-orang yang hendak mencerabut damainya kehidupan masyarakat adat Patani tersebut. Pemerintah daerah melalui “niat baiknya” memberikan izin bagi PT Manggala Rimba Sejahtera untuk membuka kebun kelapa sawit di hutan dan kebun yang selama ini sudah dikelola oleh masyarakat Patani. “Kalau menurut peta sekitar 1800 lebih hektare. Kalau itu dibuka, lahan kami akan habis,” ujar Jakaria.



Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>