Membebaskan Perempuan, Melestarikan Bumi

Intip Hutan Edisi September 2016

Oleh: Amalya R.O. (FWI)

“Karena lelaki adalah laut adalah perahu, yang melindungi pulau. Sedang perempuan adalah gunung, yang membenahi pulau.” (Nukila Amal)

Dua penggal kalimat yang dicuplik dari novel Nukila Amal—Cala Ibi—, bila ditafsir, sepertinya memang masih menjadi panutan pandangan kelompok konservatif terhadap peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan rumah tangga, dalam bermasyarakat. Indonesia, dan banyak negara lain di dunia, seperti Afrika dan negara-negara di Timur Tengah, masih menganut budaya patriarki, di mana laki-laki menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Pemimpin rumah tangga, bila kita menurut pada stereotip, maka adalah seseorang yang menafkahi, yang mengambil keputusan dan yang harus diikuti dalam keluarga. Sementara letak perempuan terdapat dalam ranah-ranah domestik.

Ranah domestik yang dimaksud di sini adalah melayani suami, mengasuh anak, memasak, mengurus rumah, mengurus keuangan, serta memastikan terpenuhinya kebutuhan sandang dan pangan. Istilah “kasur, dapur, sumur” tepat dalam hal ini.

Budaya patriarki ini yang kemudian mendorong perempuan-perempuan di berbagai daerah memenuhi “perannya”. Bagi perempuan Mentawai yang telah “dibeli” oleh suaminya, dituntut menjadi pekerja di rumahnya sendiri. Budaya ini juga yang menggiring perempuan-perempuan di Bali untuk mengabdi pada suami—dalam bentuk menangani segala jenis pekerjaan rumah dan harus menahan segala kelakuan suami, sebejat-bejatnya—misal yang diceritakan Oka Rusmini dalam kumpulan cerpennya, Akar Pule. Budaya yang masih dianut dan diamini oleh masyarakat di Indonesia. Secara sadar atau tidak sadar, masyarakat masih memiliki stereotip tentang kuasa laki-laki dalam sebuah rumah tangga lebih tinggi dari perempuan.

Sulitnya lepas dari stereotip tersebut adalah hal yang wajar, walau pun mempertahankan stereotip tersebut sama sekali bukan hal yang baik. Menurut saya pribadi, stereotip tersebut tidak lahir dari sejarah yang singkat. Sejak zaman prasejarah, pembagian tugas juga sudah dilakukan antara laki-laki dan perempuan. Di saat laki-laki berburu, maka perempuan bertugas mengasuh anak, mencari makanan berupa buah dan sayur yang dapat dimakan dari hutan, dan meramu makanan baik dari hasil temuan maupun buruan. Bisa jadi, ini adalah awal pembentukan budaya patriarki. Dalam pembentukannya, perempuan dianggap memiliki sifat peduli, simpati dan merawat. Sifat-sifat ini biasa diasosiasikan dengan feminin tradisional. Bahwa sifat-sifat ini disebut feminin tradisional, adalah hanya karena anggapan kelompok konservatif.

Keberadaan stereotip ini memaksa perempuan dan laki-laki, terutama perempuan, tetap pada bingkai tersebut. Perempuan di ranah domestik, dan laki-laki di ranah publik. Ketika perempuan berusaha memasuki ranah publik, maka akan muncul banyak tantangan baik dari keluarga maupun masyarakat umum yang sebenarnya tidak punya hak. Hal tersebut berlaku juga sebaliknya, kepada laki-laki.

Perjuangan untuk mendapatkan kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan berumah tangga dan bermasyarakat memang masih terus diperjuangkan. Namun selama perjuangan itu berlanjut, kita tidak boleh menafikan keberadaan perempuan-perempuan yang karena kostruksi sosial budaya harus lebih banyak berkreasi di ranah domestik. Sebagian kelompok masyarakat adat, tidak semuanya, ada dalam konstruksi budaya patriarki. Mereka lebih banyak disibukkan dengan tugas-tugas di ranah domestik.

Seperti dikatakan oleh Wangari Maathai, perempuan aktivis lingkungan yang menginisiasi Gerakan Sabuk Hijau, dalam bukunya yang berjudul Gerakan Sabuk Hijau, bahwa perempuan adat di Kenya lebih banyak mengurusi kegiatan di ranah domestik, terutama dalam hal mencukupi pangan dari hutan. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah, ketika hutan mulai hilang, maka mencari makanan dan sumber pendapatan tambahan menjadi sulit dilakukan. Dengan seringnya berkutat dalam ranah domestik, perempuan meletakkan perhatian yang lebih pada elemen-elemen bumi (udara, air, api, tanah), untuk dapat bertahan hidup dan membesarkan anak-anak. Terjadinya perubahan ke arah yang lebih buruk pada lingkungan, seminimal apa pun, menjadi perhatian serius bagi perempuan. Dapat dikatakan, pada posisinya, perempuan lebih peka terhadap lingkungan.

Beranjak dari hal ini, sebenarnya perempuan pengasuh anak (tanpa menafikan perempuan lain yang memutuskan atau dalam keadaan tidak memiliki anak, karena anak-anak di sekitar kita juga menjadi tanggung jawab kita sebagai orang dewasa) memiliki peran yang besar dalam menjaga lingkungan, karena kepekaannya terhadap elemen-elemen tadi. Setiap ibu dapat mendidik anaknya untuk peka terhadap lingkungan. Tidak hanya anak perempuan, tapi juga kepada anak laki-laki. Sehingga mereka dapat tumbuh menjadi sosok yang peka terhadap lingkungan. Selama ini, pendidikan Indonesia masih kurang mengajarkan kepekaan terhadap lingkungan sehingga masih memungkinkan adanya anak-anak yang tidak tahu dimana nasi dari piring mereka berasal atau air yang mereka minum, karena selama ini menganggap semuanya keluar dari pabrik.

Tokoh-tokoh pejuang lingkungan lain, yang berasal dari masyarakat adat, seperti Mama Aleta dari Suku Mollo, Gunarti dari Samin, dan Eva Bande Si pembela petani, menunjukkan perempuan punya dan bisa mengambil peran penting untuk kelestarian lingkungan. Secara rumit, lingkungan, terutama hutan, berhubungan dengan keadaan rumah tangga para perempuan, sehingga kemudian tokoh-tokoh tadi merasa perlu turun ke jalan untuk memperjuangkannya. Realistis, karena melihat masih tidak lepasnya peran perempuan di ranah domestik, pada tatanan masyarakat adat.

Namun peran yang besar bagi perempuan dalam ranah domestik, tidak menutup kemungkinan peran perempuan dalam kelestarian lingkungan di luar ranah tersebut. Semisal kasus yang baru-baru ini terjadi mengenai ibu-ibu Rembang yang menyemen kakinya, untuk menuntut keadilan agar PT. Semen Indonesia tidak masuk dan merusak lingkungan beserta sumber air yang mereka miliki. Dan masih banyak tokoh perempuan lain yang memperjuangkan kelestarian lingkungan di luar ranah domestik. Misal dokter hewan yang melakukan penyelamatan orang utan di lokasi kebakaran hutan, penyelamatan penyu di tepi pantai yang telurnya biasa diburu untuk konsumsi, dan masih banyak lagi.
Masalah timbul di sini. Perempuan yang bergerak dalam ranah publik, bergerak melestarikan lingkungan, tidak banyak terpublikasi oleh media-media mainstream. Seringkali, mereka tidak mendapat fasilitas, perhatian, dana, dan bantuan SDM yang memadai. Sehingga perempuan-perempuan ini harus bekerja lebih keras. Namun hal yang lebih parah, adalah sinisme dan tidak simpatinya masyarakat terhadap perjuangan perempuan di bidang lingkungan.

Ibu-ibu Rembang yang menyemen kakinya, sebagai simbol perlawanan, demi mempertahankan kelestarian lingkungan untuk generasi berikutnya, menimbulkan berbagai komentar miring dari masyarakat. Ada yang berkomentar bahwa sebaiknya ibu-ibu tidak perlu membahayakan dan menyakiti dirinya sendiri dalam perjuangan, meminta ibu-ibu tersebut kembali ke ranah domestik, sampai yang menanyakan siapa yang mengurus anak mereka ketika mereka sibuk “aksi” di Jakarta. Hal ini menunjukkan tanpa sadar, masih ada kelompok masyarakat yang menganggap derajat perempuan lebih rendah dari laki-laki, sehingga tidak pantas untuk berjuang, bahkan bagi lingkungan tempat tinggalnya sendiri.

Hal ini juga terjadi pada Wangari Maathai. Perjuangannya banyak mengalami tantangan, bahkan dari suaminya sendiri, sehingga ia memutuskan bercerai dari suaminya. Gunarti dari Samin, mengalami sindiran, bahkan ancaman dalam perjuangannya menghadapi PT. Semen Indonesia.
Konsep stereotip yang lahir dari budaya patriarki telah mendestruksi peran perempuan dalam ranah publik. Selain terbatasnya input dari luar, pandangan sebagian orang bahwa perempuan “seharusnya” tetap ada dalam ranah domestik, membuat perjuangan tersebut semakin sulit. Dalam pemberitaan mainstream, munculnya perempuan-perempuan aktivis lingkungan tetap belum dapat mengalahkan pamor laki-laki.

Bagi tatanan masyarakat adat, kepekaan perempuan terhadap lingkungan sebenarnya dapat menimbulkan perbedaan yang besar dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan. Inisiasi perempuan dapat membuat perjuangan lebih cepat dilakukan, lebih peka menunjukkan perubahan-perubahan apa saja yang terjadi, dan nilai-nilai yang diperjuangkan akan memperbesar kemungkinan lahirnya keputusan pelestarian lingkungan yang tidak bias atau buta gender.

Berbagai hal tersebut, membuat pembebasan perempuan dari budaya patriarki atau stereotip gender adalah keharusan. Membebaskan perempuan berkreasi di ranah publik juga menjadi hal yang penting. Membebaskan berarti tidak menghakimi. Saya percaya, pembebasan tersebut akan membuat perubahan besar pada kelestarian lingkungan. Dan membuat tokoh-tokoh perempuan pejuang lingkungan muncul di permukaan, serta memacu lebih banyak lagi kelahiran tokoh perempuan pejuang lingkungan.

'' ) ); ?>


Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>