Masyarakat Adat Penyelamat Pulau-Pulau Kecil yang Rentan terhadap Gempuran Investasi

INTIP HUTAN Edisi September – Desember 2015

Artikel 4

Oleh : Farid Wadji (PB AMAN/Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)

Lebih dari tiga belas ribu pulau yang terdaftar dan berkoordinat di wilayah Nusantara adalah gugusan pulau-pulau kecil dan hanya sekitar 0,2 persen dari pulau-pulau di Nusantara yang terdaftar merupakan pulau besar. Menurut UU No 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, definisi pulau kecil adalah daratan dengan luas kurang dari 2000 km persegi beserta kesatuan ekosistemnya.

Berbicara tentang ekosistem dari pulau-pulau kecil tidak akan terlepas dari proses interaksi antara komunitas yang menetap di pulau tersebut dengan sumberdaya alam yang tersedia. Kerusakan maupun kelestarian sebuah ekosistem pulau-pulau kecil sangat dipengaruhi oleh proses eksploitasi sumberdaya alam oleh penduduk atau kelompok yang berkepentingan dengan pulau tersebut. Hal ini disebabkan karena keterbatasan daya dukung lingkungan dari pulau-pulau kecil tersebut yang menyebabkan pulau-pulau kecil sangat rentan terhadap ancaman eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan.

Hutan merupakan salah satu komponen penting dalam menjaga siklus air tawar pada pulau-pulau kecil. Kondisi hutan sangat berperan terhadap kelangsungan kehidupan penghuni pulau dan biota yang tergantung pada ketersediaan air tawar. Hilangya tutupan hutan pada pulau-pulau kecil akan berdampak fatal terhadap ketersediaan air tanah karena hilangnya tutupan hutan akan mengakibatkan tingginya aliran permukaan, berkurangnya resapan, dan terganggunya proses evapotranspirasi yang merupakan bagian terpenting dari siklus air.

Karakteristik hutan di pulau-pulau kecil didominasi oleh pohon endemik dengan pertumbuhan yang lambat karena tingginya kadar garam di udara dan air yang ada pada pulau-pulau kecil tersebut. Eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya hutan sehingga menyebabkan kerusakan tegakan hutan di pulau-pulau kecil akan lebih sulit dipulihkan karena proses regenerasi tegakan yang relatif lebih lambat jika dibandingkan tegakan hutan di daerah dengan kadar garam rendah.

Proses konversi hutan alam menjadi perkebunan akan berakibat fatal terhadap rusaknya ekosistem pulau-pulau kecil. Siklus air tanah menjadi rusak dan terganggu. Introduksi tanaman dari luar apalagi melalui penanaman dalam skala luas akan mengancam tumbuhan endemik pada pulau-pulau kecil dan secara langsung akan berdampak pada keberadaan satwa endemik. Keseimbangan habitat alami yang sudah terbangun akan terganggu bahkan rusak karena salah satu atau semua komponen pentingnya hilang ataupun berubah.

Beberapa aktivitas eksploitasi, konversi dan ekstraksi sumberdaya hutan yang berlebihan secara langsung akan menyebabkan keterancaman terhadap keberadaan pulau-pulau kecil, bahkan dalam kondisi ekstrim akan menenggelamkan atau menghilangkan keberadaan pulau-pulau kecil.

Kehidupan masyarakat adat di pulau kecil memiliki kekhasan dalam mata pencarian dan pola pemanfaatan sumberdaya alam yang mereka kelola. Budaya bahari dan bercocok tanam yang mereka miliki memiliki karakteristik yang cukup unik dan spesifik sesuai dengan daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil tersebut. Kehidupan mereka, ternyata merupakan sebuah metode untuk mempertahankan diri dan menjaga ketersediaan sumberdaya alam dari pengaruh buruk over eksploitasi. Proses adaptasi terhadap keterbatasan sumberdaya alam kemudian dirumuskan dalam aturan-aturan adat yang juga dikenal sebagai kearifan lokal.

'' ) ); ?>


Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>