Keterikatan Suku Mentawai dengan Hutan

INTIP HUTAN Edisi September – Desember 2015

Artikel 7

Oleh : Gerson Merari Saleleubaja (Yayasan Citra Mandiri Mentawai)

Dalam kepercayaan masyarakat di Mentawai, merusak hutan sama saja dengan merusak kehidupan. Aturan tersebut ada dalam kehidupan adat istiadat mereka yang dikenal dengan kearifan lokal. Di masa lalu masyarakat Mentawai juga mengenal Panaki, suatu upacara yang dilakukan sebelum membuka hutan untuk keperluan ladang mereka. Upacara Panaki dilakukan dengan menggunakan guntingan kain kecil-kecil yang disangkutkan pada satu tiang kayu, upacara ini dimaksudkan untuk meminta izin kepada penguasa hutan agar penguasa tersebut tidak terkejut. Tanpa Panaki, pembukaan hutan menjadi ladang tidak mungkin dilakukan.

Intip_hutan_sep-des_2015_Artikel7_gmb1Untuk sebagian orang, adat istiadat ini akan dinilai naif jika disandingkan dengan ajaran agama yang ada saat ini. Namun di Mentawai tidaklah demikian karena walaupun telah menganut agama formal, ritual meminta izin kepada leluhur ketika akan melakukan aktivitas di hutan tetap dilakukan.

Masyarakat Mentawai percaya bahwa hutan merupakan kepercayaan tradisional yang diyakini sebagai tempat roh-roh leluhur yang turut menjaga segala jenis tumbuh-tumbuhan obat yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia, kepercayaan tersebut dikenal dengan Arat Sabulungan. Disini alam sangat dihormati karena mereka percaya semua benda yang hidup ada pemiliknya. Tentu saja pemilik hutan akan marah jika hutan yang dimilikinya dirusak.

“Kepercayaan itu mengajarkan manusia untuk memperlakukan alam, tumbuh-tumbuhan, air, dan binatang seperti dirinya.”

Sementara itu, daun bagi suku Mentawai dianggap memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan dan menghidupkan, sehingga daun selalu ada dalam upacara-upacara Suku Mentawai. Masyarakat Mentawai pun dikenal dengan kemampuan mereka yang menakjubkan, yakni menyembuhkan orang sakit dengan menggunakan daun-daunan liar yang tumbuh di hutan. Daun juga dipercaya mampu menghubungkan manusia dengan penguasa jagat raya yang disebut Ulau Manua. Setiap masyarakat yang mengambil sesuatu di dalam hutan seperti kayu untuk pembuatan rumah, serta perahu/sampan sebagai sarana vital masyarakat Suku Mentawai untuk saling berhubungan antara satu daerah dengan daerah lain. Setiap menebang pohon, mereka selalu menanam pohon yang baru. Menebangnya pun dengan sistim tebang pilih, tidak boleh sembarangan. Sebelum menebang pohon atau hutan, harus diadakan punen atau lia yang merupakan suatu upacara adat semacam permintaan izin dan ucapan terima kasih.

'' ) ); ?>


Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>