KEMBALIKAN FUNGSI KAWASAN LINDUNG PUNCAK BOGOR

Bogor, 6 Februari 2018. Klaim Kawasan Puncak sebagai kawasan lindung kembali diuji. Deforestasi, pelanggaran tata ruang dan perizinan di Kawasan Puncak, diduga mempengaruhi terjadinya banjir dan longsor sekitar Bogor-Jakarta.

Kawasan Puncak mengalami kerusakan hutan dan lahan yang massif selama puluhan tahun. Analisis FWI pada 2000-2016, seluas 5,7 ribu hektar hutan alam hilang di Kawasan Puncak. Menyisakan 21 persen hutan alam dari total wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. “Padahal peranan Kawasan Puncak sangat vital untuk banyak daerah dibawahnya. Seluruh Daerah Puncak adalah hulu dari empat DAS besar, yaitu Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi dan Citarum. Lebih khusus lagi, Kawasan Puncak menjadi penyedia air utama untuk 3 DAS, yaitu Ciliwung, Kali Bekasi, dan Citarum. Bila Kawasan ini rusak, dapat dipastikan daerah dibawahnya akan ikut terpapar juga”, ujar Anggi Putra Prayoga, Pengkampanye FWI.

Anggi mencontohkan adanya pembukaan hutan dan pendirian bangunan permanen untuk pengembangan wisata yang terjadi dalam kawasan hutan di Taman Wisata Alam Telaga Warna. “Hingga hari ini, sudah lebih dari 10 ribu dukungan untuk menghentikan pembangunan Telaga Warna dan tuntutan pengembalian fungsi lindung di Kawasan Puncak,” tambah Anggi.

RTRW periode 2016-2036 telah direvisi dengan menyisakan kawasan hutan sebesar 29,47% dengan luasan 1047.53 hektar. Dari sebelumnya luas kawasan hutan 2100,13 hektar atau 58,78%. Seluas 445 hektar Kawasan Lindung berubah fungsi untuk Hutan Produksi, Pertanian dan Permukimam. Kemudian perubahan peruntukan Kawasan Lindung untuk Perkebunan seluas 704 hektar. “Peristiwa banjir dan tanah longsor yang terjadi menunjukan kerusakan Daerah Aliran Sungai. Semata-mata diakibatkan daya dukung di Kawasan Puncak yang semakin menurun sehingga rentan bila menghadapi cuaca ekstrim,” papar Ernan Rustiadi, Koordinator Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak.

Hutan tersisa di Kawasan Puncak saat ini tidak cukup. Pemerintah harus serius dan mengkaji ulang peruntukan dan kesesuaian lahan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan di Kawasan Puncak yang kian hari makin menyusut. Jika tidak, bencana serupa akan terus berulang dan menjadi semakin parah.

***

Catatan Editor:

  • Selama 22 tahun, tidak ada perbedaan curah hujah yang signifikan di Kawasan Puncak. Estimasi perbedaan curah hujan sebesar 0,17 dari rata-rata curah hujan 3.160 mm/tahun. Pada rentang waktu tersebut, Kawasan Puncak mengalami 17 kali cuaca esktrim. (P4W-IPB, 2012)
  • Forest Watch Indonesia (FWI) merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan. Organisasi ini berbasis di Bogor. Informasi lebih jauh mengenai organisasi ini dapat dijumpai pada website http://fwi.or.id.
  • Konsorsium Penyelamatan Puncak diinisiasi bersama oleh P4W LPPM IPB, Forest Watch Indonesia, Kaoem Telapak, Komunitas Peduli Ciliwung Bogor sejak tahun 2014. Konsorsium ini sebagai bagian dari gerakan penyelamatan Daerah Aliran Ciliwung merupakan konsorsium terbuka yang mengajak insitusi pemerintah, masyarakat, komunitas, badan usaha, akademisi, media, dan para pihak lainnya untuk bersama-sama mendorong usaha penyelamatan Kawasan Puncak sebagai daerah tangkapan air. Berangkat dari keprihatinan mengenai kondisi kawasan puncak, Konsorsium bersama-sama dengan masyarakat Tugu Utara dan Tugu Selatan, menggulirkan aksi bersama sejak tahun 2014. Informasi lebih jauh dapat diakses http://www.savepuncak.org

Narahubung:

  1. Anggi Putra Prayoga, Pengkampanye FWI, anggiputraprayoga@fwi.or.id / 082298317272
  2. Ernan Rustiadi, Koordinator P4W-IPB, ernanr@yahoo.com / 08129471939

 



Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>