Indikator Tata Kelola Kehutanan Versi 2.0 Dan Panduan Penggunaan

Kebutuhan terhadap kerangka metodologis yang komprehensif untuk melakukan penelitian terhadap
kondisi tata kelola (governance) sektor kehutanan telah lama dirasakan oleh pemangku kepentingan di
sektor kehutanan. Oleh karenanya, tidak dapat disangkal jika Indonesia sebagai negara dengan tutupan
hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia juga memiliki kebutuhan atas perangkat penilaian yang
mampu memberikan hasil penilaian yang komprehensif mengenai kondisi pelaksanaan tata kelola atau
penyelenggaraan kehutanan saat ini.

Gambaran mengenai kondisi aktual dibutuhkan oleh para pembuat kebijakan untuk mengidentifikasi
persoalan dalam tata kelola untuk kemudian merumuskan strategi reformasi kebijakan. Sementara itu
pelaku usaha di sektor kehutanan dapat menggunakannya sebagai alat untuk melihat kelayakan
investasi serta menganalisis resiko-resiko yang mungkin muncul. Serta yang terpenting adalah bagi
masyarakat untuk mengetahui sejauh mana implementasi tata kelola kehutanan memberikan dampak
positif bagi keberlangsungan kehidupannya, khususnya masyarakat di sekitar hutan, atau untuk
melakukan kerja-kerja advokasi jika pelaksanaan tata kelola kehutanan justru merugikan mereka. Seiring
dengan semakin luasnya perhatian dunia terhadap masalah kehutanan Indonesia, terutama dengan
komitmen pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi melalui pencegahan deforestasi dan degradasi
hutan, maka kebutuhan atas sebuah kerangka penilaian terhadap tata kelola kehutanan menjadi
semakin mendesak dan mutlak diperlukan.

Indikator yang digunakan dalam penilaian ini pada awalnya dikembangkan oleh suatu koalisi masyarakat
sipil di tingkat global, yang terdiri dari World Resources Institute, The Instituto do Homem e Meio
Ambiente da Amazonia (IMAZON), and the Instituto Centro de Vida (ICV), terutama untuk melakukan
penilaian bagi negara-negara yang masih memiliki hutan tropis tersisa seperti Brazil dan Kamerun.
Koalisi tersebut tergabung dalam Governance of Forest Initiatives (GFI). Kemudian World Resources
Institute (WRI), yang telah memiliki pengalaman dalam melakukan penilaian tata kelola di bidang
Lingkungan Hidup (2001-2007) dan energy/electricity governance (2005) di Indonesia, kemudian
mengajak beberapa organisasi masyarakat sipil, untuk mengembangkan indikator yang sama khususnya
untuk melakukan penilaian kinerja dari para pelaku kehutanan. Di dalam perjalanannya maka
terbentuklah sebuah Jaringan Tata Kelola Hutan – Indonesia yang beranggotakan ICEL, HuMA, FWI,
SEKALA dan Telapak

Indikator yang dihadirkan saat ini, bukan lagi indikator awal yang ditawarkan oleh koalisi global, namun
sudah melalui proses kontekstualisasi dengan kondisi Indonesia. Walaupun diakui sulit untuk menyusun
sebuah tolok ukur yang sempurna, demikian juga dengan indikator ini. Tetu saja masih banyak aspek
yang belum bisa tertangkap oleh tim penyusun dalam mengembangkan indikator ini. Oleh karena itu,
indikator ini menjadi sebuah dokumen hidup (living document) yang akan dapat terus berkembang dan menyesuaikan kondisi yang ada. Meskipun tidak sempurna, tim penyusun menyakini bila indikator ini
dapat terpenuhi, maka hal tersebut sudah menunjukan sebuah kondisi minimal dalam tata kelola
kehutanan Indonesia yang baik. Hal terpenting adalah dokumen ini dapat membantu pengambil
kebijakan, pelaku usaha, dan masyarakat untuk melihat permasalahan yang ada dan mengambil
tindakan untuk perbaikan tata kelola kehutanan di Indonesia.

Buku Panduan ini juga dapat ditemukan pada laman:
– http://tatakelolahutan.net/indikator-tata-kelola-hutan/cara-membaca-indikator/
– https://tatakelolahutan.wordpress.com/kriteria-indikator/how-to-read-the-indicators/

'' ) ); ?>


Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>