Hutan, Masyarakat Kota, dan Alam Bawah Sadar

Intip Hutan Edisi September 2016

Oleh: Ardy Kresna Crenata¹

Bagi orang-orang yang tinggal di kota dan nyaris tak bersentuhan dengan hutan dalam kesehariannya, apa makna hutan? Kota menghadirkan kemajuan, yang termanifestasikan dalam teknologi dan kecepatan—yang mungkin mengingatkan kita pada futurismo Italia yang gagal itu. Kota juga menghadirkan perpindahan dan pergerakan yang intens, dengan segala kerumitan dan masalah yang menyertainya. Berada dan tinggal di kota, adalah sebuah aktivitas aktif, bukan pasif. Seseorang menjalani hidup di kota sederhananya adalah untuk bekerja, bukan untuk berleha-leha.

Dengan hal-hal yang telah disebutkan itu, kota tak membiarkan orang-orang yang hidup di dalamnya mengalami “jeda”, yang dengan itu mereka bisa sedikit merasakan apa itu “alam”. Kota, dengan wujud seperti yang tadi tergambarkan itu, adalah realitas, sesuatu yang mau tak mau harus diterima, sedangkan “jeda” dan “alam” adalah fiksi, atau mitos, hal-hal yang bisa sepenuhnya diabaikan atau dianggap tak ada. Dalam seharinya orang-orang tidur beberapa jam, untuk kemudian bangun dan bergerak beberapa jam, yang dalam pergerakannya itu mereka tentulah bersentuhan dengan “alam”, seperti menghirup udara, meminum air, menjejak tanah, atau yang lainnya. Tetapi kota, dengan kesibukan dan segala hal yang ada padanya, seperti membuat orang-orang itu tak menyadarinya. Kebersentuhanan dengan alam itu pada akhirnya jadi sesuatu yang berada di bawah permukaan, yang tertekan, yang tertahan, yang terpendam, yang resesif. Yang menjadi sesuatu di atas permukaan, tentu saja adalah realitas kota.

Hutan, sebagai bagian dari “alam”, sudah pasti menempati posisi yang sama resesifnya—untuk tidak menyebut tragis. Sebagaimana halnya orang-orang yang tinggal di kota menyadari bahwa “alam” itu ada namun bisa diabaikan, begitu-pulalah agaknya cara mereka memandang hutan. Kenyataan bahwa hutan ada tak mungkin bisa dipungkiri, kendatipun mereka tak melihatnya, kendatipun mereka tak merasa benar-benar bersentuhan dengannya. Namun justru karena dua hal ini—karena mereka tak melihatnya dan merasa tak bersentuhan dengannya, hutan di mata mereka dengan sendirinya menjadi mitos, fiksi, atau bahkan mimpi. Pada titik kritis dari kondisi ini, sangat mungkin hutan diposisikan sebagai ruang atau media belaka yang di sana mereka bisa berelaksasi, menyembuhkan diri, atau menekan tombol reset; sekadar tempat singgah yang pada akhirnya akan mereka tinggalkan (dan lupakan) ketika mereka harus kembali ke realitas yang menantinya—realitas kota dengan segala kepenatan yang ada padanya itu. Mengalami dan bersentuhan dengan hutan, pada akhirnya, tak ada bedanya dengan membaca novel, mendengarkan musik, atau pergi ke bioskop; hal-hal yang umumnya identik dengan “penghiburan” semata. Itu pun, dengan syarat “jeda” untuk melakukannya itu ada.
Pertanyaannya kemudian: cukupkah hutan dipandang dengan cara seperti itu, terutama bagi masyarakat kota?

Carl Jung, dalam upaya-upaya pembacaannya atas mimpi, kerap melihat hutan sebagai simbol dari sesuatu yang primitif, yang tertinggal, di mana segala hal yang ada di sana masihlah “murni” dan belum tersentuh oleh “logika”, yang dalam arti tertentu bisa disamakan dengan masa kanak-kanak. Tentu saja oleh Jung, pada akhirnya, hutan dipandang sebagai manifestasi alam bawah sadar, perwujudan dari sesuatu yang terpendam di dalam diri kita; hal-hal yang kita anggap perlu untuk kita tekan, terutama karena kita menilai realitas yang kita hadapi tak membutuhkan sesuatu itu, atau bahkan lebih buruk lagi: sesuatu itu bisa menghambat atau menyusahkan kita dalam menghadapi realitas. Hutan adalah simbol dari alam bawah sadar. Hutan, adalah proyeksi dari diri kita yang lain yang berada di dalam diri kita. Dan barangkali, seperti itu jugalah hutan bagi masyarakat kota.
Di mata orang-orang yang tinggal dan hidup di kota, apa yang tampak nyata, yang terlihat di permukaan, adalah realitas kota itu sendiri, dan inilah kesadaran, atau alam sadar. Sementara hutan, sebagai bagian dari “alam” yang disinggung tadi, adalah sesuatu yang tidak tampak, sesuatu yang berada di bawah permukaan; sebuah alam bawah sadar. Kita menyadari dan mengakui bahwa alam bawah sadar itu ada, namun kita selalu berusaha merepresinya sehingga ia nyaris tak pernah muncul dan karenanya kita mengabaikannya, bahkan memperlakukannya seolah-olah ia tak ada. Itulah kiranya yang dilakukan masyarakat kota terhadap hutan, terhadap “alam”. Tentunya, sikap mereka ini didasarkan pada kepraktisan. Sesuatu yang tidak “real” seperti alam bawah sadar dianggap tak memiliki nilai guna bagi realitas.

Namun kita tahu, cara pandang tersebut sangatlah keliru. Jung, misalnya, telah membuktikan bahwa aktivitas atau produk alam bawah sadar, seperti mimpi, sesungguhnya memiliki nilai guna bagi realitas; ia bisa digunakan sebagai media atau alat untuk melakukan terapi yang akan berlanjut pada kesembuhan pasien, misalnya; atau lebih jauh lagi, ia bisa menjadi semacam partner kita dalam upaya kita mengenal diri kita seutuhnya. Dengan demikian, bersandar pada hal ini, semestinya di mata masyarakat kota hutan bisa juga digunakan untuk sesuatu yang menguntungkan mereka dalam realitas yang dihadapinya. Seperti apa persisnya? Dalam wujud apa saja kegunaannya itu? Inilah kemudian pertanyaan selanjutnya yang akan coba kita jawab.

Dengan melihat hutan sebagai alam bawah sadar, otomatis, kita pun melihat hutan bekerja sebagaimana halnya alam bawah sadar bekerja. Kita tahu bahwa alam bawah sadar tidak bergerak dalam sebuah garis linear; ia kerap memilih jalan memutar untuk mengungkapkan sesuatu. Apa yang pada alam sadar adalah A, di alam bawah sadar diproyeksikan sebagai B, atau C, atau D, atau yang lainnya. Akibatnya kita mau tak mau terlibat dalam aktivitas menebak-nebak, menduga-duga, atau dalam tingkat tertingginya, menafsirkan. Hutan pun semestinya, jika memang cara pandang kita ini benar, melakukan proyeksi-proyeksi semacam itu.

Salah satu wujud nyata dari proyeksi yang dilakukan hutan, sebagai upayanya mengungkapkan sesuatu kepada kota atau masyarakat kota, barangkali adalah gangguan alam—untuk tidak menyebut bencana alam. Misalnya, apabila udara sebuah kota begitu kotor, sementara kota itu sendiri berada tidak jauh dari hutan, kita bisa melihatnya sebagai sebuah upaya dari hutan untuk mengatakan bahwa kondisi mereka sudah tidak baik, tidak ideal, atau bahkan memprihatinkan, sebab ia semestinya berfungsi sebagai semacam filter atau tameng yang bisa mencegah hal tersebut terjadi. Contoh lainnya: kemunculan binatang-binatang buas. Terutama bagi sebuah kota yang bisa dikatakan bertetangga dengan hutan, kemunculan binatang-binatang buas di kota tersebut menunjukkan ada yang tidak beres dengan hutan itu; sesuatu yang buruk telah terjadi dengan hutan sehingga habitat asli binatang-binatang buas itu tak cocok lagi mereka tinggali, sehingga akhirnya mereka memasuki kota dalam rangka mencari habitat ideal baru. Masyarakat kota, dalam hal ini, adalah pihak yang dikabari, oleh hutan.

Tentu saja apa yang kita kemukakan barusan perlu dibuktikan terlebih dahulu secara ilmiah, sebab jangan-jangan kita hanya asal menghubung-hubungkan saja. Tapi intinya bukan itu. Yang berusaha kita kejar dari cara memandang hutan seperti ini, adalah timbulnya kesadaran dalam diri masyarakat kota akan keberadaan, kegunaan, dan kebaikan hutan. Hutan tak lagi dilihat sebagai sesuatu yang minor atau marginal, melainkan sesuatu yang krusial dan sama pentingnya dengan kota, dengan realitas kota. Lebih jauh dari itu, kita tidak lagi melihat hutan sebagai sebuah “objek” semata, melainkan juga sebuah “subjek”. Ia “objek” dalam konteks tertentu (seperti saat kita mengambil sejumlah pohon di sana untuk kita olah kayunya), namun ia juga “subjek” dalam konteks yang lain (seperti saat ia membiarkan binatang-binatang buas itu menuju kota). Di titik ini kita telah memosisikan hutan bukan lagi sebagai sesuatu yang pasif, melainkan sesuatu yang aktif. Ia hidup, ia “bergerak” dan menjalani hidup dengan cara-caranya sendiri, dan karena itulah kita mesti memperlakukannya layaknya kita memperlakukan sesosok makhluk hidup. Jung pun, ketika ia berinteraksi dengan alam bawah sadarnya, ia melakukannya seolah-olah alam bawah sadar itu adalah sesuatu yang hidup, yang dalam arti tertentu adalah dirinya sendiri.

Yang menarik kemudian dari cara pandang ini adalah: dengan melihat hutan sebagai sesuatu yang hidup, di mana ia berusaha mengemukakan sesuatu kepada kita, maka kita, juga sebagai sesuatu yang hidup, bisa merespons sikap aktifnya itu, sehingga antara kita dengan hutan terjadi interaksi, dan akhirnya komunikasi. Misalnya soal gangguan-gangguan alam tadi. Kita bisa menafsirkannya sebagai “hutan telah terusik dan ia menyalahkan masyarakat kota dan akhirnya menghukum mereka”, atau “hutan sedang dalam keadaan tidak baik dan ia meminta bantuan kepada masyarakat kota sebagai sekutu terdekat untuk membuat keadaannya itu membaik (atau bahkan menyembuhkannya)”.

Lalu sebagai tindak lanjut dari penafsiran-penafsiran ini, masyarakat kota melakukan sesuatu yang menyenangkan hutan, yang diinginkan hutan, yang kelak berdampak baik juga bagi mereka. Sebuah interaksi telah terjali, antara hutan dengan masyarakat kota, dan berbuah sesuatu yang positif. Dan bukankah ini sesuatu yang baik? Bayangkan saja sebuah realitas di mana masyarakat kota memahami apa yang “dikatakan” hutan dan begitu juga sebaliknya. Dari interaksi semacam ini, kita bisa mengharapkan lahirnya solusi-solusi yang adil, juga solutif, bagi kedua belah pihak. Barangkali “jeda” yang dibutuhkan oleh masyarakat kota tadi akan tersedia dengan sendirinya, yang dari sana mereka kemudian bisa memahami apa-apa saja yang bisa dilakukan untuk membuat kehidupan terasa lebih baik, tanpa harus mengorbankan hutan.(*)
Baranangsiang, 5-6 April 2016

'' ) ); ?>


Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>