Hasil Hutan yang diabaikan : Sagu Nasibmu Kini

Intip Hutan Edisi September 2016

Oleh: Isnenti Apriani (FWI)

Indonesia memiliki letak geografis yang strategis, selain memiliki tutupan hutan alam yang masih rapat yaitu seluas 82,5 juta ha.¹ Juga memiliki kekayaaan sumber daya alam mulai dari flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Dalam sejarahnya Indonesia selalu diperhitungkan dunia internasional karena sumber daya alamnya tersebut. Rempah-rempah nusantara pernah membuat para pelaut dan pengusaha dunia terutama EROPA ingin menguasai bumi pertiwi selama lebih dari tiga abad. Sampai saat ini negara kita masih diperhitungkan sebagai produsen terbesar hasil bumi. Diantaranya adalah kelapa sawit, kakao, rotan, kopi, dan karet yang masih mendominasi pasar dunia. Selain nama-nama itu, terselip nama sagu yang juga layak dilirik.

Tidak semua negara diberi anugerah tanaman sagu. Lebih dari 95% tanaman sagu dunia hanya dapat ditemui di Indonesia, Papua Nugini, dan Malaysia.² Indonesia adalah negara yang paling diberkati. Sebab sekitar 55% tanaman sagu dunia tumbuh di sini. Indonesia menempati Posisi Pertama dengan luas 1,5 Juta Ha. Hamparan Sagu terluas ada di Bumi Cendrawasih Papua seluas 1,3 Juta Ha yang terdiri dari Hutan Sagu (Alami) dan Budidaya. Penyebaran sagu selain Papua antara lain Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Barat (Mentawai) dan Kepulauan Riau.

Sagu (Metroxylon sagu Rotb.) sangat cocok sebagai bahan pangan karena memiliki kandungan karbohidrat yang terdapat pada pati sagu serta kalori yang cukup tinggi. Tak jarang sagu juga kerap dijadikan makanan pengganti nasi. Bahkan di Timur Indonesia, sagu merupakan makanan pokok. Selain sebagai pengganti nasi, beberapa penelitian bahkan telah menyingkap manfaatnya untuk diolah sebagai bahan baku industri kosmetik, kertas, bioetanol, pengbungkus kapsul, dan film kemasan makanan yang biodegradable, dengan kata lain dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi. Tak hanya sari pati sagu yang dimanfaatkan, beberapa rumah penduduk di Timur Indonesia menjadikan pelepah sebagai dinding, atau pagar ternak. Bahkan limbahnya dapat dijadikan sebagai biopeptisida maupun kompos. Daunnya pun dapat digunakan masyarakat sebagai atap rumbia. Seiring perkembangan zaman, beberapa kegunaan utama sagu mulai menghilang. atap rumbia berganti seng. dinding menjadi papan dan pagar kawat (besi). (Gambar 1. Pohon Industri Sagu)

Potensi sagu sebagai sumber bahan pangan dan bahan industri telah disadari sejak tahun 1970-an. namun sampai sekarang pengembangan tanaman sagu di Indonesia masih jalan di tempat. Areal sagu yang ada belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai penghasil tepung sagu untuk bahan kebutuhan lokal (pangan) maupun untuk komoditi ekspor.

Pemanfaatan area sagu hanya 0,1% dari total area sagu nasional. Rendahnya pemanfaatan tersebut disebabkan kurangnya minat masyarakat dalam mengelola sagu. Faktor lain ialah rendahnya kemampuan dalam memproduksi tepung sagu, rendahnya kemampuan dalam mengolah tepung sagu menjadi bentuk-bentuk produk lanjutannya, kondisi geografis dimana habitat tanaman sagu umumnya berada pada daerah marginal/rawa-rawa yang sukar dijangkau, dan adanya kecenderungan masyarakat menilai bahwa pangan sagu tidak superior seperti halnya beras dan beberapa komoditas karbohidrat lainnya.
Selain Pemanfaatannya yang tidak maksimal, upaya pelestariannya pun sangat lemah. Salah satu contoh di Papua, Pemerintah Kabupaten Jayapura sebetulnya sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2000 tentang Pelestarian Kawasan Hutan Sagu. Sayangnya, peraturan ini seperti mati suri. Alih fungsi hutan sagu pun terus terjadi. Baik untuk infrastruktur, perkebunan, pangan, dan investasi berbasis lahan lainnya.

Jika hal ini dibiarkan terus menerus maka hutan sagu akan habis. Melestarikan hutan sagu berarti menjaga ketahanan pangan. Jika sagu tidak ada lagi di Papua, maka kebutuhan akan sagu harus mengimpor dari daerah lain atau bahkan dari negara tetangga Papua New Guinea. Membuat makanan pokok seperti papeda pun akan menjadi sangat mahal jika bahan dasarnya import dari wilayah lain.

Sebaiknya pemerintah setempat secepatnya melestarikan hutan sagu, yang berarti melestarikan makanan asli daerah yaitu papeda. Untuk mencegah hal ini perlunya membangkitkan kembali nilai-nilai budaya lokal setempat yang berkaitan dengan pelestarian hutan sagu, penanaman kembali pohon sagu dan penegakan hukum dalam pelanggaran pengelolaan hutan.



Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>