Gagahnya Rimba Jargaria, Tempat Bermainnya Sang Pangeran Rimba

Intip_hutan_sep-des_2015_Artikel5_gmb2Kami berkemas dan melangkah keluar dari kapal.Setelah beberapa hari diperjalanan dengan berganti berbagai macam transportasi kami tiba di Desa Lorang.”Selamat datang di desa lorang”,sebuah tulisan yang berada diatap dinding gapura tepat berada di penghujung jembatan. Di depannya, ada bukit kecil yang menyambut kedatangan kami. Sebuah jalan desa yang membelah bukit tersebut menuntun kami menuju Desa Lorang. Seperti tidak mau ketinggalan, berbagai jenis tanaman hias di setiap sisi jalan juga turut menyambut kedatangan kami.

Intip_hutan_sep-des_2015_Artikel5_gmb3Senyum ramah penghuni desa terlihat disetiap raut muka warga Lorang.Sapaan tak henti-hentinya terlontar dari mulut kami. Dipertengahan jalan terlihat sekerumunan warga yang sedang bergotong royong.Terpal panjang dibentangkan menggantung3 meter di atas jalan dengan ditunjang tiang-tiang disetiap sisinya. Pagar-pagar dari bambu mengelilingi dengan disisakan dua sisi sebagai pintu. Bangunan yang sedang dibangun warga terlihat sangat megah untuk menyambut tamu mereka.Ya, memang kedatangan kami ke desa tersebut sangatlah beruntung. Kala itu, warga Lorang sedang mempersiapkan acara ulang tahun gereja yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi.

Sita Kaka Walike”, inilah filosofi hidup masyarakat adat yang ada di Kepulauan Aru. Filosofi untuk hidup rukun, berkerjasama, arif, dan ramah akan lingkungan disekitar mereka. Tujuan kami ke desa ini adalah ingin menjadi saksi yang mampu bercerita tentang gagahnya rimba Jargaria. Pandangan sekilas kami, sudah memperlihatkan bahwa masyarakat adat Kepulauan Aru sangatlah kompak dan arif. Ini semakin meyakinkan kami bahwa sangat wajar jika hutan-hutan disini masih lestari karena adanya pengelolaan yang arif oleh masyarakat.

Intip_hutan_sep-des_2015_Artikel5_gmb4Sang mentari beberapa jam lagi tenggelam. Kami sudah sangat siap untuk melihat dari dalam seberapa gagahnya bumi rimba Jargaria.Dari kejauhan, terlihat dua orang kakek-kakek menghampiri kami dan siap menemani kami masuk ke hutan.Busur dan anak panahnya tidak pernah lepas dari diri mereka.Jiwa-jiwa yang dibesarkan di alam rimba,gagah, berani, dan selalu waspada. Dua orang sosok penjaga bumi Jargaria yang sangat menggantungkan hidup mereka dan keluarganya akan keberadaan hutan di pulau-pulau kecil ini. Tanpa basa-basi, kami semua mulai menuju gerbang rimba. Kami selalu tertinggal tiga sampai empat langkah dari dua orang kakek-kakek yang menemani kami. Tidak jarang kami meminta mereka untuk berjalan lebih pelan. Bukannya memperlambat langkah, mereka hanya mengingatkan,“waktu sudah sore,sangat berbahaya jika kita tidak sampai camp sebelum matahari tenggelam” ujar salah seorang kakek tersebut. Agar tidak tertinggal dengan terpaksa dan dengan tenaga yang tersisa,langkah kaki kami berusaha mengikuti irama langkah dua orang kakek-kakek tersebut. Mungkin kami hanya tertinggal satu langkah dari mereka berdua.



Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>