Bertumpu pada Hutan di DAS Mahakam

Intip Hutan Edisi September 2016

Oleh: Anggi P. Prayoga (FWI)

Sungai Mahakam memiliki sistem persungaian yang melintas di antara Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Kota Samarinda. Menjadi tumpuan kebutuhan aktivitas ekonomi di hulu hingga hilir. Stok pangan abadi bagi masyarakat yang memanfaatkannya dengan bijak. Tumpuan terakhir bagi satwa endemik yang tidak ada duanya. Sungai Mahakam, inilah kisah mu.

Sungai Mahakam, memiliki hulu di Kutai Barat dan mengalir hingga delta Mahakam, yang terakumulasi di perairan Selat Makassar. Terletak di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki hutan sebagai pemasok oksigen bagi masyarakat di dalam dan sekitar hutan, bahkan se-Pulau Kalimantan sekalipun. Menjadi habitat bagi berbagai satwa terestrial dan akuatik, yang bergantung pada keadaan hutan yang terus tergerus keadaanya.

Sebagai sebuah sistem yang terkait hulu-tengah-hilir, ekosistem di Sungai Mahakam sangatlah kompleks. Menjadi sumber air (inlet) bagi danau-danau di lintasan Sungai Mahakam. Global Nature Fund sebagai sebuah lembaga internasional yang membentuk jaringan yang diberi nama Living Lakes, menyatakan danau-danau di Sungai Mahakam penting untuk dilindungi karena sangat bernilai sebagai warisan kultural dan alam.

Tercatat bahwa 165 danau terletak di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam (Anggreini 2001). Danau menjadi pusat aktivitas ekonomi nelayan. Nelayan menggantungkan ketersediaan sumber pangannya pada danau-danau di Sungai Mahakam. Aktivitas nelayan menangkap ikan di sistem sungai inti dan danau-danau di Mahakam. Selain itu, menangkap ikan merupakan mata pencaharian pokok masyarakat di sekitar bantaran sungai.

Panjang sistem persungaian Sungai Mahakam mencapai 920 kilometer. Beberapa catatan menerangkan bahwa Sungai Mahakam merupakan sungai terpanjang kedua di Indonesia. Tidak heran jika menjadi rumah bagi berbagai satwa. Salah satu satwa endemik yang menjadi ikon daerah, yaitu pesut mahakam atau dalam penamaan umumnya irrawaddy dolphin (Orcaella brevirostris).

Pesut mahakam dikenal sebagai mamalia air tawar yang keberadaannya terancam. Sebarannya kian menyempit dan semakin sulit ditemukan di alam. Di Indonesia, pesut mahakam hanya dapat dijumpai di daerah Kalimantan Timur tepatnya di persungaian inti Sungai Mahakam dan danau-danau (yang terhubung dengan Sungai Mahakam) (Kreb 2005). Namun tahu kah kita jika pesut saat ini sudah menjadi hewan yang sangat langka di Indonesia bahkan di dunia? Berdasarkan data IUCN redlist yang diakui dunia, ditetapkan bahwa spesies yang dijadikan ikon Kalimantan Timur tersebut masuk dalam kategori “sangat terancam punah” pada tahun 2000. Bahkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yayasan RASI pada tahun 2007, populasi pesut mahakam hanya berjumlah 91 ekor. Pupulasi spesies ini terus mengalami penurunan setiap tahunnya.

Mengapa mamalia air tawar ini sudah sulit sekali ditemukan di habitat aslinya? Apa pengaruh yang paling nyata sehingga populasinya setiap tahun terus mengalami penurunan? Tentunya hal ini sangat berhubungan dengan aktivitas manusia yang menyebabkan terdegradasi dan berubahnya habitat asli spesies langka ini. Berbicara sungai maka tidak bisa dilepaskan dari kualitas dan kuantitas sumber daya hutan yang mendukung kelestariannya. Hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam sebagai penyedia unsur hara bagi kehidupan di sungai. Menyuburkan sungai sehingga membentuk sistem rantai makanan yang stabil.

Secara nyata Sungai Mahakam banyak dimanfaatkan oleh manusia sebagai jalur transportasi penting di daerah Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Menjadi jalur distribusi produk alam dan olahan dari pusat produksi hingga ke tangan konsumen. Tidak heran jika Sungai Mahakam masuk ke dalam kategori sungai prioritas berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 12 tahun 2012 terkait Penetapan Wilayah Sungai.

Sungai Mahakam menjadi pusat aktivi-tas ekonomi karena menjadi tumpuan distribusi produk dari hulu ke hilir. Berbagai sektor bergan-tung pada kondisi sungai. Produk dari komoditas kehutanan, pertanian, perikanan bahkan sektor pertambangan yang paling menonjol aktivitasn-ya karena terlihat dalam jumlah dan intensitas yang tinggi.Melihat aktivitas laju transportasi di Sungai Mahakam maka jelas yang paling terlihat adalah laju hilir mudik kapal tongkang atau pon-ton. Kapal tongkang tersebut mampu mengang-kut “bergunung-gunung” tumpukan batu bara dari bumi Kalimantan. Fenomena ini mungkin lebih identik di Kalimantan Timur sebagai produ-sen mineral batu bara di Indonesia.

Melihat fenomena di atas maka aktivitas kapal ponton batu bara memiliki pengaruh yang kuat terhadap kelestarian Sungai Mahakam. Sungai yang terus menerus menerima tekanan ancaman yang sangat tinggi dari aktivitas manusia. Bahkan termasuk kehidupan pesut mahakam dan biota lainnya yang bergantung pada kondisi sungai. Sungai yang kini menjadi ramai dengan aktivitas kapal.
Sepanjang tepian Sungai Mahakam sangatlah ramai. Aktivitas hilirisasi batu bara terpusat di pelabuhan-pelabuhan terbangun di tepian sungai. Pertambangan menjadi aktifitas yang menguntungkan bagi kalangan tertentu namun menimbulkan dampak negatif yang signifikan pada setiap prosesnya.

Setiap stasiun pengisian batu bara di sepanjang tepian sungai, kapal tongkang sandar di tepi sungai sambil menunggu terisi penuh batu bara. Menahan beratnya beban, sebagian badan kapal tongkang tenggelam ke bawah perairan akibat muatan yang terus bertambah. Berhenti hingga mencapai sekitar 3-4 gunung tumpukan batu bara. Kemudian mendistribusikannya ke arah hilir Sungai Mahakam. Aktivitas hilir mudik kapal tongkang di Sungai Mahakam ini bisa berjalan setiap jam nya.

Lebih dari 1, 2, 3, bahkan 10 kapal ponton yang beroperasi di Sungai Mahakam dalam batas jangkauan pandangan perjamnya. Ada banyak sekali kapal tongkang yang beroperasi. Terlihat dari padatnya aktivitas hilir mudiknya di Sungai Mahakam.

Hilir mudik kapal tongkang di Sungai Mahakam terjadi secara terus menerus dengan cepat dan memadati lebar sungai. Proses eksplorasi dan eksploitasi pertambangan batu bara yang terjadi di Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat membuat perubahan morfologi pada topografi atau kontur permukaan tanah.

Pada pengerjaan tahap ekploitasi, kegiatan pertambangan sangatlah berdampak buruk pada kelestarian sungai. Dampak yang timbul dari aktivitas pertambangan batu bara adalah perubahan alam dan kualitas lingkungan yang menurun karena pencemaran udara, debu, kebisingan, tanah, limbah B3 dan air limbah dan terganggunya habitat satwa serta reklamasi yang kurang optimum (Yudha 2007).

Lahan eksplorasi dan eksploitasi yang awalnya berupa hutan digantikan dengan lubang-lubang besar yang tiada manfaat. Malah berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan. Hutan di DAS Mahakam yang awalnya sebagai penyedia oksigen dan penyedia nutrient bagi sungai dan danau-danau teraliri digantikan dengan lubang-lubang ex-batu bara.

Hutan kaya akan nutrient yang berasal dari dedaunan yang jatuh dan ranting-ranting yang lapuk. Saat hujan turun pada permukaan di areal hutan, limpasannya membawa nutrien-nutiren unsur hara yang terus meresap dan mengalir hingga ke badan Sungai Mahakam. Nutrien atau unsur hara terlimpas saat hujan datang, berpotensi menyuburkan air di Sungai Mahakam. Nutiren ini dimanfaatkan oleh fitoplankton sebagai bahan makanan. Dalam sistem rantai makanan, fitoplankton dikenal sebagai produsen. Kelimpahan fitoplankton sangatlah bergantung pada kekayaan nutrient.

Tidak ada nutrien yang dilepaskan ke badan sungai maka kelimpahan fitoplankton terus menurun. Ketersediaan jumlah produsen yang terus menurun mempengaruhi kestabilan rantai makanan serta sistem prey-predator di alam. Sebagai karnivor, pesut mahakam akan terus bergerak mencari habitat baru yang banyak menyediakan makanan, yakni ikan-ikan di sungai.

Aktivitas pertambangan di hilir membuat sempit pergerakan pesut dan ikan-ikan di sungai. Salah satu dampak yang ditimbulkan merupakan pendangkalan sungai. Beban yang ditimbulkan dari aktivitas pertambangan batu bara sangat berpengaruh terhadap pola alamiah Sungai Mahakam. Pendangkalan terjadi di sudut-sudut sungai. Berasal dari tanah-tanah yang terangkat dan terbawa air hujan, sisa dari aktivitas galian batu bara. Limpasan air hujan (run off) ini membawa tanah yang mudah tersuspensi karena teksturnya yang mudah larut oleh air. Limpasan air terakumulasi pada aliran sungai. Percampuran tersebut mengakibatkan warna air Sungai Mahakam berwarna coklat pekat. Sedimentasi menjadi ancaman tambahan yang ditimbulkan.

Kondisi kedalaman Sungai Mahakam semakin dangkal karena terjadinya proses sedimentasi (pengendapan material tanah di dasar sungai). Pendangkalan menyebabkan pergerakan pesut mahakam semakin terbatas untuk mencari makan, memijah, dan berlindung. Pesut sangat menyukai area yang memiliki kedalaman yang cukup untuk bermanuver mengejar ikan-ikan. Limpasan air hujan beserta material tanah yang tersuspensi di dalamnya memperburuk visualisasi kulaitas air.

Perubahan warna air Sungai Mahakam menjadi lebih kotor dan gelap menyebabkan pergerakan pesut mahakam semakin terbatas.

Pesut kesulitan untuk mencari makan dan berenang dari tempat satu ke tempat lain. Jarak pandang yang berkurang menjadi tanda bahwa kemampuan spesies ini untuk berenang dan mencari makan turut berkurang. Hal seperti ini juga berlaku bagi seluruh biota air tawar lainnya, termasuk ikan. Belum lagi, biota air harus mencari hidup pada kualitas air yang baik dan tidak tercemar.

Bukan tidak mungkin jika limpasan air hujan membawa bahan lain yang berbahaya, seperti limbah hasil aktivitas industri. Terbawanya limbah hasil sampingan tersebut dapat melalui sistem run off (jika limbah dibuang tanpa pengolahan), atau bisa juga limbah dibuang langsung ke dalam sungai. Menurut Syafrudin dalam Yudha 2005 limbah industri diklasifikasikan sebagai zat organik terlarut, zat padat tersuspensi, nitrogen dan phospor, minuman dan bahan-bahan terapung, logam berat cyanida dan racun organik, warna kekeruhan, organic tracer, bahan yang tidak mudah mengalami dekomposisi biologis (refactory subtances), dan bahan yang mudah menguap (volatile materialis). Zat-zat tersebut jika masuk ke dalam air Sungai Mahakam maka akan terjadi proses akumulasi bahan pencemar yang bersifat beracun. Mematikan bagi seluruh makhluk hidup yang rentan terhadap pencemaran kualitas lingkungan perairan.

Proses pencemaran tersebut lambat laun akan mempengaruhi sistem metabolisme tubuh hewan yang hidup di dalamnya, termasuk pesut. Pencemaran tersebut berpotensi dapat mematikan hewan. Sungai Mahakam sesungguhnya memiliki daya dukung dan daya tampung yang saat ini sudah tidak seimbang (Yudha 2007). Hal ini diakibatkan oleh banyaknya beban pencemaran yang masuk ke dalam Sungai Mahakam baik berupa limbah cair, padat, gas, atau bahkan pencemaran suara.

Pengisian batu bara ke atas kapal tongkang menimbulkan suara yang cukup keras. Ini merupakan sebuah pencemaran suara yang diakibatkan dari aktivitas pertambangan batu bara. Pencemaran suara ini terus berlangsung selama pengisian. Besarnya kapal tongkang menghasilkan tingkat kebisingan yang tinggi. Bahkan saat kapal berlayar, pencemaran suara ini semakin kuat. Suara mesin kapal tongkang mengganggu sistem alamiah pendengaran pesut. Dengan timbulnya suara/kebisingan yang dihasilkan oleh aktivitas transportasi kapal tongkang, maka ikan maupun pesut berenang ke arah perairan yang aman yang terhindar dari sumber datangnya suara. Sementara itu, pesut berenang menggunakan sonar suara. Mengandalkan pantulan suara untuk menentukan arah renang. Sangat beresiko bagi pesut karena memungkinkan disorientasi arah.

Pesut merupakan makhluk mamalia air tawar yang membutuhkan ruang terbuka untuk bernafas muncul ke permukaan. Sungai Mahakam yang dipadati oleh aktivitas kapal menjadi habitat yang tidak “nyaman” bagi pesut mahakam. Pesut kian terpuruk dalam klasemen penetapan status kepunahannya.

Penguasaan wilayah juga berdampak pada aktivitas nelayan. Semakin sempitnya ruang untuk menangkap ikan akibat hilir mudik kapal pengangkut bara, menyebabkan konsentrasi penangkapan ikan bertumpuk pada beberapa lokasi. Relung lokasi penangkapan ikan dengan daerah jelajah pesut beririsan. Tidak sedikit pesut yang pada akhirnya mati karena tersangkut pada jaring nelayan.

Ironis memang jika mamalia pesut dijadikan sebagai ikon Kalimantan Timur namun tidak ada upaya serius yang dilakukan untuk melestarikan hewan langka ini. Tidak heran jika mamalia pesut sudah sangat sulit sekali ditemukan di Sungai Mahakam. Mungkin hanya di bagian hulu yang jauh dari aktivitas pertambangan, itupun jika beruntung. Padatnya hilir Sungai Mahakam akibat aktivitas manusia menyebabkan pesut tidak mampu bertahan di bagian hilir. Apalagi di bagian hilir sungai sudah menunjukkan terjadinya pencemaran perairan.

Pada tahun 2009 sampai 2013 wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakan kehilangan hutan alamnya seluas 128 ribu hektar akibat aktivitas pertambangan, HTI, hak pengusahaan hutan (HPH) dan perkebunan. Hingga tahun 2013, DAS Mahakam hanya menyisakan 4,1 juta Ha hutan alam atau 50 % dari total luas wilayah DAS tersebut. Alih fungsi hutan menjadi non hutan semakin tidak bisa dikendalikan. Terlebih banyak temuan akan adanya tumpang tindih pemanfaatan kawasan antar koorporasi di lahan yang sama. Tercatat provinsi Kalimantan Timur kehilangan hutan seluas 112 ha setiap tahunnya. (FWI, 2014).

Kerja-kerja korporasi menjadi penyebab utama hilangnya tutupan hutan di sepanjang Sungai Mahakam. Korporasi yang bekerja dengan basis sumber daya lahan membutuhkan ruang hingga ratusan ribu hektar. Menjadi penyebab utama hilangnya hutan di Kalimantan.
Pertambangan, perkebunan kelapa sawit, HPH, dan Hutan Tanaman Industri penyebab utama hilangnya tutupan hutan di Kalimantan Timur. Tercatat bahwa semenjak tahun 2009 sampai 2013 Provinsi Kalimantan Timur kehilangan hutannya hingga mencapai 448,494.40 hektar. Ironisnya 26.31 persen terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Barat, yang menjadi tumpuan resapan air di Sungai Mahakam. Tumpuan pengendali banjir di pemukiman di sepanjang sungai, bahkan Kota Samarinda sekalipun.

Hutan di DAS Mahakam berperan penting bagi kelestarian sungai dan eksistensi pesut mahakam. Hutan tidak hanya sebagai penyedia oksigen bagi makhluk hidup, namun juga sumber penghidupan biota di sungai, terutama pesut. Hutan dan sungai di wilayah DAS harus terintegrasi pengelolaannya. Aktivitas pertambangan di lahan berhutan haruslah dikaji kembali. Kehilangan hutan berpengaruh pada kehidupan lainnya. Menjaga agar hutan tetap utuh merupakan upaya melestarikan kehidupan yang universal.

'' ) ); ?>


Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>