Bergerak Dari Hulu, Bersama Menyelamatkan Puncak

Bogor, 22 April 2016. Peringatan Hari Bumi bertajuk “Silaturahmi Penyelamatan Kawasan Puncak” yang digelar hari ini mengungkap buruknya implementasi Peraturan Presiden yang dikeluarkan pada tahun 2008. Karut marut penataan ruang Kawasan Puncak yang merupakan kawasan strategis nasional menjadi penyebab utama terendamnya 40 Kecamatan di Ibu Kota DKI Jakarta selama periode 2012-2015.

Kawasan Puncak merupakan wilayah hulu Sungai Ciliwung yang menjadi jantung kehidupan. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air (water cathment area) yang seharusnya mampu mengontrol limpasan air di Sungai Ciliwung. Penataan ruang Kawasan Puncak diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2008. Implementasi dari terbitnya Perpres ini ialah alokasi kawasan puncak sebagai kawasan lindung oleh pemerintah Kabupaten Bogor. Pengalokasian kawasan lindung ini tidak lain karena kawasan Puncak dianggap mampu menjadi daerah pelindung untuk wilayah di bawahnya.

DR. Ernan Rustiadi, M.Agr selaku Koordinator Korsorsium mengatakan “Inkonsistensi tata ruang dalam pengelolaan puncak merupakan masalah utama dalam penyelamatan kawasan ini. Pengalokasian sebagai kawasan lindung hanya dilakukan di atas perencanaan berbentuk peta. Namun implementasi di lapangan justru bertolak belakang dengan apa yang direncanakan. Banyak berdiri villa-villa, pemukiman, dan perluasan perkebunan teh”.

Pengalokasian kawasan lindung seharusnya diikuti dengan menghutankan kembali kawasan puncak untuk mengembalikan fungsi lindungnya. Faktanya hingga tahun 2013 Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung hanya menyisakan 2.600 ha atau 6,9 % daerah yang masih memiliki Hutan Alam .

Program-program penanaman di kawasan puncak seharusnya dilakukan tidak hanya sekedar simbolis belaka. Banyak program penanaman di kawasan Puncak namun hasilnya nihil. Menghutankan kembali kawasan puncak merupakan salah satu cara untuk mengembalikan fungsi lindung kawasan tersebut” tutur Anggi Putra Pengkampanye FWI.

Dampak semakin rusaknya kawasan puncak kini tidak hanya dirasakan masyarakat yang tinggal di Jakarta. Bencana banjir dan longsor terjadi juga di wilayah hulu Sungai Ciliwung. Pada tahun 2012, terdapat 14 kecamatan di Kabupaten Bogor terkena bencana banjir . Bahkan ada 68 kelurahan dari 6 Kecamatan di Kabupaten Bogor merupakan daerah rawan longsor .

Menyelamatkan Sungai Ciliwung sudah seharusnya dilakukan dari wilayah hulu. Salah satu contoh nyata ialah aksi-aksi kepedulian lingkungan yang dilakukan masyarakat di Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua. Masyarakat Kampung Cibulao mencoba membuka pandangan baru dengan memanfaatkan hasil hutan tanpa harus menghilangkan fungsinya. Komoditas kopi menjadi pilihan sebagai tanaman wanatani yang membantu masyarakat dalam memanfaatkan hutan dari hasil hutan bukan kayu.

Kami semua mulai sadar tentang pentingnya hutan. Tanaman kopi kami kembangkan agar masyarakat tidak lagi menebang hutan. Kopi kami tanam di bawah tegakkan pohon. Dengan adanya tanaman kopi masyarakat enggan menebang pohon yang nantinya akan merusak tanaman kopi di bawahnya. Kini ada alternatif lain bagi masyarakat agar tidak lagi menebang pohon di hutan lindung”. Ujar Jumpono, Warga Kampung Cibulao dalam siaran persnya.

DR. Ernan Rustiadi, M.Agr, yang juga sebagai Peneliti senior di P4W, IPB Menegaskan “Perjuangan belum usai, karena saat ini masyarakat belum memiliki hak kelola yang kuat atas penggunaan lahan di dalam kawasan penguasaan Perum Perhutani. Masih banyak permasalahan yang perlu dientaskan secara bersama. Salah satu masalah yang paling menonjol di kampung-kampung Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan adalah pengelolaan sampah yang buruk. Sampah menjadi momok yang seolah-olah tidak bisa dibuang dari kehidupan masyarakat”.

Pada 2014, Kami berhasil mengidentifikasi 44 titik tumpukan sampah di kedua desa tersebut, yang sebagian besar ternyata terletak di dalam lokasi perusahaan perkebunan teh, yakni PT. SSBP dan PT. Gunung Mas. Upaya pengelolaan lingkungan dari kedua perusahaan perlu dipertanyakan. Mengingat sampah-sampah justru banyak ditemukan di sempadan dan badan sungai.” Pungkas Ernan dalam siaran persnya.

Konsorsium bersepakat bahwa Kawasan Lindung Puncak merupakan kawasan yang bernilai ekonomi penting bagi masyarakat. Tentunya tanpa harus menghilangkan fungsi hutan sebagai penyeimbang ekosistem yang ada. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan menjadikan masyarakat tidak hanya sebagai penonton, namun sebagai aktor utama dalam pengelolaan hutan.

Penting menyentuh sisi kelembagaan untuk menguatkan rambu-rambu pemanfaatan yang disepakati. Tentunya dalam rangka mengurai permasalahan inkonsistensi pola ruang di dalam kawasan lindung, hak kelola masyarakat, dan pengelolaan sampah yang buruk yang menjadi tantangan kedepannya. Perlu energi yang lebih besar dan konsisten untuk mengembalikan fungsi lindung kawasan puncak. Oleh karena itu, kami mengajak semua elemen masyarakat, lembaga, komunitas, dan private sector untuk terlibat dalam Aksi penyelamatan Puncak sebagai sebuah gerakan bersama menyasar pada hulu permasalahan.

 

CATATAN UNTUK EDITOR:

  • Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak (save puncak) merupakan jaringan kerjasama aksi untuk mendukung konservasi Kawasan Puncak yang dimotori oleh IPB (P4W, Fakultas Pertanian, dan CDA), Komunitas Peduli Ciliwung Bogor, Forest Watch Indonesia (FWI), Ciliwung Institute, Telapak teritori Jawa bagian Barat, dan Komunitas Ciliwung Puncak (Rungkun Awi). Sejak Maret 2014 telah melakukan serangkaian kerja aksi di Kawasan Puncak yang bekerjasama dengan masyarakat khususnya di Desa Tugu Utara dan Desa Tugu Selatan.
  • Daerah Tangkapan Air merupakan wilayah yang berfungsi sebagai penangkap air sementara pada wilayah puncak dan punggungan suatu daratan. Wilayah ini dicirikan dengan kemampuannya untuk menahan air dan menyalurkannya ke dalam tanah sebelum dialirkan kembali ke permukaan. Semakin lebat dan asli vegetasi yang berada di wilayah ini secara otomatis kemampuannya pun semakin baik.
  • Wilayah DAS Ciliwung memiliki luas 38.600 ha. 29.000 ha dari luas DAS tersebut merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Bogor.
  • Wanatani yang dilakukan kelompok tani hutan Cibulao merupakan bentuk pengelolaan sumber daya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan dengan penanaman komoditas yang dapat memberikan benefit bagi masyarakat. Kopi menjadi komoditas yang memberikan harapan dalam mempercepat roda perekonomian masyarakat kampung yang hingga kini bergantung pada perusahaan perkebunan teh yang produktifitasnya menurun.
  • Semenjak tahun 2014 Konsorsium memulai aksi dengan mengusung tagline “Bergerak dari Hulu”. Mencoba mengurai permasalahan pengelolaan sampah dengan aksi-aksi nyata mulung bersama dengan melibatkan banyak pihak. Tujuannya bukanlah untuk membersihkan kampung dari sampah. Namun untuk mengajak banyak orang, lembaga, komunitas terutama pemerintah daerah dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan bebas dari sampah mulai dari hulu permasalahan. Aksi ini membawa keberhasilan dengan telah berkurangnya dua titik tumpukan sampah dari keseluruhan yang berhasil teridentifikasi.

 

KONTAK UNTUK WAWANCARA:
DR. Ernan Rustiadi, M.Agr, Peneliti senior pada Pusat Pengkajian dan Pengembangan Wilayah (P4W), Institut Pertanian Bogor
E-mail: ernan@indo.net.id
Telepon: +62 812 947 1939

Anggi Putra Prayoga, Pengkampanye Foret Watch Indonesia (FWI)
E-mail: anggiputraprayoga@fwi.or.id
Telepon: +62 85659572666

Jumpono, Masyarakat Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua
E-mail: –
Telepon: 085921230094
Untuk kebutuhan peta dan foto, silakan menghubungi:

Muhammad Arifin
E-mail: pin_arts@yahoo.com
Telepon: +62 81254045551

Uti
E-mail:fs.putricantika@gmail.com
Telepon: +62 81282108866

Sekretariat:
Gedung P4W LPPM IPB . Kampus IPB Baranangsiang Jalan Raya Pajajaran, Kota Bogor 16143
Website:savepuncak.org
Email:konsorsiumsavepuncak@gmail.com
Twitter:@save_puncak
Facebook page: Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak

'' ) ); ?>


Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>