Aktivitas Ekonomi Masyarakat Adat Kabupaten Kepulauan Aru

Dari hasil penelitian, diketahui pola Kalender Musim yang terpetakan pada setiap Desa sampel dan Komoditas. Perbedaan kalender musim pada masing masing desa ditentukan dari letak dan lokasi nya dalam konstelasi kepulauan aru. Wilayah yang terpapar angin barat maka akan beralih ke darat , sedangkan yang tidak terpapar di wilayah timur makan dapat tetap mencari ikan. Masa tanam dan masa panen komoditas pertanian pun disesuaikan dengan musim sehingga seluruh pola mata pencaharian dapat saling mengisi dalam kalender musim. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa masyarakat sesungguhnya masih memiliki banyak pilihan dan pengusahaan dalam memanfaatkan sumberdaya baik untuk kebutuhan konsumsi maupun pendapatan. Namun sayangnya hal ini tidak dimanajemen dengan baik, dilihat dari ketiadaan simpanan/ tabungan masyarakat dan kelembagaan baik kelembagaan ekonomi maupun kelompok mata pencaharian yang aktif baik pada level desa maupun komoditas.

Distribusi komoditas dan konektivitas merupakan permasalahan klasik di wilayah kepulayuan dan perbatasan, namun sulit sekali diurai. Dalam Pemasaran, masyarakat sebagai pelalku usaha, tidak memiliki posisi tawar untuk menentukan harga beli. Rentang pasar terpendek yang ditemukan, dari hasil penelitian mencapai tiga titik hingga sampai kepada konsumen, sedangkan titik rantai terpanjang ditemukan sebanyak enam titik rentang pasar yakni produsen kemudian pengepul/tengkulak lokal, kemudain dijual kepada tengkulak besar yang mayoritas berdiam di Dobo, dan kemudian oleh mereka dijual kembali ke Pasar seperti Surabaya maupun Jakarta untuk diekspor dan dikonsumsi di luar negeri. Dilihat dari rantai proft yang diperoleh dari hasil penelitian, distributor akhir/ penjual akhir kepada konsumenlah yang memperoleh keuntungan terbesar. Hal ini juga tentunya disertai dengan resiko yang mereka ambil dan modal yang dikeluarkan. Keberadaan tengkulak dapat dimaknai dari dua sisi. Keberadaannya tentunya meminimalkan keberdayaan produsen dalam menjual dan menentukan harga jual, namun di sisi lain ditemui pula sejumlah tengkulak yang memberikan modal dan pinjaman kepada para produsen dan memberikan harga yang pantas dan adil. Tengkulak dengan kualitas demikian perlu dijadikan mitra dalam menciptakan pasara yang sehat dan adil sehingga, meskipin rantai panjang pasar harus ditempuh, produsen tetap memperoleh keuntungan dari setiap tetes keringatnya.

Permasalahan dari aktivitas ekonomi yang dilakukan masyarakat Kabupaten kepulauan Aru dapat dianalisis berdasarkan komoditas. Secara umum, maslah utama adalah aksesibilitas terhadap pasar yang terkait dengan transportasi, dan distribusi. Permasalahan lain yang dihadapi di sector perikanan adalah ketergantungan terhadap musim, infrastruktur/fasilitas seperti cold storage, kapasitas kapal dan alat tangkap, serta peemodalan, adapaun permasalahan di sector pertanian, seputar hama dan penyakit tanaman, akses terhadap saprodi termasuk bibit dan benih.

Pola ekstraksi masyarakat adat Kepulauan Aru dengan skala kecil dan sesuai dengan kebutuhan, merupakan pola-pola yang ramah lingkungan dan rendah emisi yang selalu diamanatkan oleh pemerintah. Namun demikian hal ini tidak serta merta menguntungkan dari segi pendapatan. Penolakan-penolakan masyarakat terhadap investasi besar berbasis lahan tentunya harus disikapi juga secara realistis dengan memberikan jawaban dan rekomendasi terhadap upayaupaya peningkatan praktek ekstraksi sumberdaya tersebut menuju kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah melalui berbagai instrumen kebijakan telah merencanakan dan mengatur pembangunan di kawasan perbatasan, pulau-pulau kecil, dan khususnya pulau Maluku. Dalam RPJMN, Pemerintah bermaksud untuk mengedepankan pemerataan pembangunan yang artinya pembangunan yang dilakukan harus dapat menghilangkan/memperkecil kesenjangan yang ada, baik kesenjangan antarkelompok pendapatan, maupun kesenjangan antarwilayah, dengan prioritas: wilayah desa, untuk mengurangi jumlah penduduk miskin, karena penduduk miskin sebagian besar tinggal di desa; Wilayah pinggiran; Luar Jawa; Kawasan Timur. Hal ini kemudian juga dituangkan dalam nawacita yang salah satunya Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Pengembangan kawasan perbatasan negara yang selama ini dianggap sebagai pinggiran negara, diarahkan menjadi halaman depan negara yang berdaulat, berdaya saing, dan aman. Pendekatan pembangunan kawasan perbatasan terdiri: (i) pendekatan keamanan (security approach), dan (ii) pendekatan peningkatan kesejahteraan masyarakat (prosperity approach), yang difokuskan pada 10 Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) dan 187 Kecamatan Lokasi Prioritas (Lokpri) di 41 Kabupaten/Kota dan 13 Provinsi dengan Aru (Aru Tengah Selatan, Aru Selatan, Aru Selatan Timur )sebagai salah satu lokasi prioritas penanganan kawasan perbatasan.



Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>