Aktivitas Ekonomi Masyarakat Adat Kabupaten Kepulauan Aru

Sebagai Kabupaten kepulauan dengan perairan yang lebih luas daripada mainlandnya, Masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru telah terbiasa untuk bergantung pada hasil laut yang dengan sumberdayanya yang melimpah ruah memberikan mereka pangan dan hidup. Ekstraksi sumberdaya laut sangat bergantung pada musim. Pada musim Angin Barat yang saat ini sudah sulit diprediksikan, namun masih berkisar aantara bulan September-Maret, gelombang laut memaksa para nelayan untuk mengurangi frekuensi aktivitas tangkapnya bahkan hingga berhenti melaut untuk mencari ikan. Namun demikian, alam Kepullauan Aru telah menyediakan semua yang diperlukan masyarakatnya. Ketika Musim Angin Barat, masyarakat yang terdampak, terutama di bagian Barat wilayah Kepulauan Aru akan pergi ke hutan untuk bercocok tanam, berkebun, dan berburu untuk memnuhi kebutuhan pangannya.

Melihat pola demikian, maka masyarakat kepulauan aru memiliki lebih dari satu mata pencaharian. Penelitian menunjukkan bahwa minimal, satu orang memiliki lebih dari satu mata pencaharian yang bergantung kepada musim. Diketahui bahwa mata pencaharian berdasarkan sumber nya dibagi menjadi , yakni : 1) Nelayan, yang terdiri dari Nelayan Tangkap ; 2) Nelayan Budidaya; 3) Petani ; 4) Pemburu. Nelayan tangkap melakukan ekstraksi sumberdaya di kawasan pesisir, laut lepas, dan hutan mangrove dengan komoditas antara lain: ikan segar, ikan hidup, lobster, udang, ebi, kerang mutiara, teripang, kepiting, dan kerang bia. Diantara komoditas hasil laut dan pesisir ini, hanya ikan segar, ebi, dan teripang yang diolah masyarakat sebelum akhirnya dijual. Hasil olahan ikan segar menjadi ikan garam hanya ditemui di Desa Longar dan Desa Apara sebagai pusat pengolahan dan pembuatan ikan garam. Lokasi ini menjadi ternama karena ikan garamnya, diduga karena lokasinya di selatan timur Kepulauan Aru dengan aksesibilitas yang jauh dari pusat aktivitas ekonomi, membuat masyarakat harus ela mengolah ikan segarnya sebelum dijual agar dapat menempuh perjalanan jauh, yang hingga saat ini praktek tersebut masih dilestarikan dan menjadi identitas desa Longar dan Apara. Pengolahan Ebi menjadi terasi juga terpusat dilakukan di desa Namara yang terkenal menjadi produsen terasi.

Ikan_Asin_25April2016Nelayan budidaya di Kabupaten Kepulauan Aru menggeluti budidaya rumput laut yang banyak ditemukan di Desa Kobadangar. Meskipun harga rumput laut sudah tidak menjanjikan seperti sebelumnya, namun nelayan tetap berpendapat bahwa hasil rumput laut dapat menambal kebutuhan masyarakat kala masa “paceklik”. Para petani memiliki kebun di dalam hutan dan pekarangan mereka yang ditanami dengan tanaman umbi-umbian, sayuran, padi, ternak, dan kelapa. Umbi-umbian dan sayuran diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sedangkan kelapa yang diolah menjadi Kopra memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan untuk masyarakat Kabupaten Aru. Masing-masing keluarga- rata-rata memiliki Dusun Kelapa pada patunaan kampung maupun patuanan marganya, sehingga kopra yang dipanen setiap empat bulan sekali ini dapat menghasilkan hingga 10 juta rupiah tiap tahunnya. Hasil hutan lainnya adalah Sagu yang biasanya di pangkur untuk konsumsi keluarga dan juga berfungsi sebagai “tabungan” ketika masyarakat membutuhkan biaya. Peternakan tidak popular di kalangan masyarakat Kabupaten Kepulauan Aru dikarenakan tingginya upaya pemeliharaan dibandingkan dengan yang diperoleh sedangkan masyarakat dengan mudah mendapatkan protein dari hasil buruan hutan. Pemburu biasanya akan menempuh tiga hingga lima kilometer untuk sampai dalam lokasi berburu dan akan kembali dua hari hingga satu minggu untuk membawa pulang hasil buruannya. Hasil buruan yang seringkali diperoleh adalah Rusa, Babi, Wallaby (sejenis kanguru), tikus tanah, Burung merpati hutan dan burung maleo. Hasil buruan biasanya dimaksudkan untuk konsumsi rumah tangga. Jika beruntung memperoleh lebih, maka akan diolah menjadi dendeng kemudian disimpan atau dijual. Belum ditemukan pelaku usaha yang secara khusus membuat olahan hasil buruan untuk dijual.

Dari hasil wawancara terhadap kurang lebih 81 Total responden, sebagian besar menjadikan nelayan sebagai mata pencaharian utama jika dipertimbangkan dari sudut pandang alokasi waktu yang diperlukan dalam melakukan aktivitas ekonomi. Dilanjutkan dengan petani dan berburu. Sedangkan jika dilihat dari pendapatan yang dihasilkan, petani menduduki posisi pertama sebagai mata pencaharian dengan pendapatan terbesar dari seluruh mata pencaharian yang digeluti masyarakat Kepualauan Aru.



Download File

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>