Mempertahankan Jati Diri Dengan Upacara Adat Beliatn

Sebuah Cerita dari Suku Dayak Benuaq Ohokng

IMG_4518
Suku Dayak Benuaq Ohokng

“Saat ini suku dayak benuaq ohokng merasa terpojok karena hutan hampir habis. Maka dari itu, mereka melaksanakan upacara adat belian sebagai upaya mempertahankan jati dirinya”.

Muara Tae merupakan salah satu kampung yang terletak di Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Kampung ini memiliki masyarakat adat bernama suku Dayak Benuaq. Suku Dayak Benuaq sejak turun temurun hidup menetap di aliran Sungai Ohokng , sehingga dikenal sebagai suku Dayak Benuaq Ohokng.

Sekian lama menjalani kehidupan, suku Dayak Benuaq Ohokng menjaga alam dan hutan sebagai sumber kehidupan mereka dengan kearifan lokal. Namun di tahun 2011, perjuangan menjaga alam menjadi berat ketika sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit masuk di wilayah adat Kampung Muara Tae tanpa permisi. Perusahaan ini bernama PT. Munte Waniq Jaya Perkasa yang dimiliki oleh TSH Resources Bhd asal Malaysia.

Secara paksa PT. Munte Wanik Jaya Perkasa menggusur Kampung Muara Tae seluas 638 hektare. Perusahaan ini membebaskan 648 hektare wilayah adat Kampung Muara Tae dari kampung Muara Ponak. Masyarakat adat Muara Tae menolak, tetapi pihak perusahaan tetap beroperasi sampai sekarang. Sengketa berkembang menjadi sengketa tapal batas kampung. Bupati Kutai Barat secara sepihak menetapkan bahwa wilayah yang dibebaskan tersebut adalah wilayah adat Kampung Benuaq.

Tahun 2012, sebuah perusahaan kelapa sawit kembali lagi masuk ke dalam wilayah adat Kampung Muara Tae. Kali ini PT. Borneo Surya Mainin Jaya menggusur wilayah adat kampung Muara Tae seluas 400 hektare. Sejak awal, masyarakat adat Muara Tae menolak keberadaan perusahaan. Namun usaha mereka tidak berhasil karena sampai sekarang perusahaan masih tetap beroperasi, dan tetap berusaha menguasai wilayah masyarakat adat kampung Muara Tae yang hanya tersisa sedikit.

Menurut informasi yang didapat dari masyarakat, Muara Tae dahulunya termasuk ke dalam luas wilayah Adat Benuaq. yaitu seluas 12 ribu hektare. Setelah sekian puluh tahun, lahan Muara Tae semakin sempit. Sekarang untuk wilayah tambang sudah sekitar 6 ribu hektare dan untuk perkebunan sawit setiap hari bertambah beberapa ratus hektare. Kini, masyarakat Muara Tae semakin terdesak dan luas hutan semakin sedikit.

Luas hutan yang di kelola masyarakat Muara Tae saat ini sekitar 2 ribu hektare dari 12 ribu hektare. Satu – satunya yang mereka inginkan adalah mempertahankan wilayah adat dan hutan mereka. Karena hutan merupakan rumah dari jati dirinya sebagai orang Dayak Benuaq, bagian dari kebudayaan hidup mereka dan juga sumber penghidupannya. Mereka hidup dari mengolah ladang, kebun, dan menjaga hutan. Hutan juga lah yang menjadi sumber hidup dan kesehatannya. Obat – obatannya dan peralatan upacara adat berasal dari hutan, jadi mereka tidak bisa di pisahkan dari tanah dan hutannya.

Saat ini mereka merasa terpojok karena hutan hampir habis. Maka dari itu, untuk mempertahankan jati dirinya, mereka melakukan berbagai upaya.

Sudah dilakukan berbagai upaya bersama organisasi, LSM, dan media untuk melakukan kampanye. Mulai dari melalui jalur hukum dengan melakukan gugatan – gugatan dan kasus – kasus di pengadilan secaara politik, hingga membawa aspirasinya ke jalur – jalur yang ada. Sekitar awal tahun 2014, tekanan terus-menerus datang dari berbagai perusahaan dan berbagai pihak yang ingin merampas hutan mereka. Kemudian sebagai masyarakat adat, mereka punya suatu cara untuk mempertahankan diri, mempertahankan hutan, dan untuk mengembalikan keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam. Oleh karena itu mereka melaksanakan upacara adat beliatn.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>