Mandor Kaya, Warga Desa Kecewa

Para warga Desa Gunungsari cukup segan dengan keberadaan para mandor ini. Mereka disapa dengan kata “pak” karena dianggap sebagai orang yg harus disegani. Mungkin karena rasa segan ini, warga desa lambat laun pun merasa terganggu dengan keberadaan para mandor. Satu demi satu para mandor yang tadinya menumpang di rumah warga lalu mulai membangun rumah sendiri. Ternyata tidak hanya satu rumah yg dibangun mereka. Para mandor juga membangun beberapa buah rumah lagi. Cukup banyak rumah yang dibangun oleh para mandor itu. Seorang mandor bisa memiliki setidaknya 5 buah rumah. Rumah-rumah ini dibangun dengan bahan dasar seluruhnya dari kayu jati. Kayu jati yang dipakai untuk membangun rumah-rumah itu berasal dari kawasan hutan jati di sekitar desa. Ketika sebuah rumah telah berdiri biasanya setelah rumah tersebut lalu dijual.

Suatu saat warga Desa Gunungsari berencana untuk membangun sebuah langgar (musholla) karena tidak tersedianya sarana ibadah yang dekat. Mereka lalu meminta bantuan untuk dapat kayu dari para mandor tersebut. Namun usaha ini kurang berhasil karena ternyata para mandor itu hanya memberikan 6 batang kayu gergajian berukuran 14 cm X 18 cm X 3 meter. Selebihnya warga desa harus mencari sendiri bahan kayu yang dibutuhkan, tetapi tidak dari kawasan hutan Perhutani. Warga desa kecewa. Mereka melihat sendiri bahwa para mandor begitu mudahnya membangun beberapa buah rumah kayu jati. Sementara warga desa dipersulit untuk mendapatkan bantuan kayu jati bagi pembangunan sarana ibadah.

Kekecewaan lain terjadi pada paman saya sendiri. Paman saya tiba-tiba dijemput oleh para mandor. Pasalnya ia mengambil daun mahoni muda untuk pakan kambing-kambing peliharaannya. Penjemputan ini berbuntut panjang karena paman saya lalu ditahan di Polres Ngawi selama 5 tahun, tanpa proses pengadilan. Ketidakadilan ini sepertinya membekas di hati paman saya sehingga ia seperti ingin membalas dendam pada para mandor. Selang beberapa waktu setelah ia kembali ke desa, paman saya lalu melakukan aksi yang menghebohkan semua orang. Ia menebang semua pohon jati yang tumbuh di sekitar rumah para mandor. Tak ada yang mampu melarang aksinya ini karena ia juga membawa sepucuk senapan laras panjang yang berisi peluru. Hampir sekitar 5 hektar hutan jati di sekitar rumah para mandor itu ditebang habis olehnya. Anehnya ia tidak mengambil sebatang pun kayu jati dari hasil tebangannya tersebut. Beruntung ia tidak mengalami resiko lebih berat setelah melakukan aksi gila-gilaan ini. Kasus ini seperti hilang begitu saja tanpa adanya proses hukum.

Selang beberapa tahun setelah kejadian yang dialami paman saya, ternyata kekecewaan demi kekecewaan pun bermunculan. Kekecewaan ini menimpa para warga desa. Mereka merasa ditipu oleh para mandor Perhutani. Ketika terjadi penanaman ulang di hutan jati itu, para warga dijanjikan akan mendapat bibit pohon secara gratis. Janji ini disampaikan karena Perhutani meminta bantuan warga desa untuk menanam bibit-bibit pohon baru. Ternyata janji ini tidak ditepati karena setelah semua bibit tersebut tumbuh baik, tak satu pun warga yang mendapatkan bibit pohon gratis. Sebuah surat edaran ditunjukkan oleh mandor yang menyatakan bahwa setiap bibit harus dibeli dengan harga Rp 300 per buah dengan maksimal pembelian 50 bibit. Tentu warga desa merasa kecewa dengan kejadian ini. Padahal warga desa sudah berharap banyak pada bibit yang tadinya gratis ini. Warga desa berencana menanam bibit-bibit pohon itu di lahan pekarangan mereka sendiri. Kekecewaan ini lalu berbuntut perampokan bibit pohon oleh warga desa secara langsung di lokasi pembibitan milik Perhutani.

Banyaknya kejadian ini jelas menjadi kekecewaan yang berkepanjangan pada diri warga Desa Gunungsari. Para mandor itu kaya karena sakunya penuh dengan uang hasil penjualan rumah kayu jati. Sementara warga desa tetap menjadi warga desa miskin dan gersang yang terpaksa merusak hutan atau dituduh menjadi perusak hutan.

5 thoughts on “Mandor Kaya, Warga Desa Kecewa

  1. Rina on said:

    Ternyata kawan Lampor selama ini punya cerita tentang PERHUTANI. True Story from forestwatcher….
    Saya jadi malu…..baru tahu cerita dan pengalamannya….

  2. Mbak Rina betul sekali … saya yakin setiap forestwatcher dari FWI pasti punya cerita yg seru spt ini.

    Bagi saya ternyata Perhutani bermasalah tdk hanya terjadi di tempat2 yg sering terberitakan di media massa, bahkan di desa kecil di Ngawi ini juga ada. Jika demikian masihkah Perhutani tetap dipertahankan???

  3. terima kasih mba rina atas komentarnya.
    itu pengalaman dimasa kecil masih meler,hehe….
    kenapa harus malu mba…menahan malu laper heheheeeeee

  4. Wah keren sekali mas brow, ceritanya dan hingga saat ini di Ngawi juga masih sering terjadi ibaratnya main petak umpet kalau lengah ya lolos, itu bukti atas ketidak puasan masyarakat setempat khususnya di sekitar hutan.

    Mereka hanya di iming-imingi janji manis namun kenyataanya mereka hanya gigit jari Minggu lalu aku kebelulan lewat Ngawi dan Mampir sejenak, ” Menurut warga desa bahwa Hutan Jati yang ia tanam dan sekarang sudah bisa di panen namun malah pihak Mandorlah yang menikmati hasil kayu-kayu tersebut, konon kabarnya pernah terjadi pencurian kayu Jati dan membawa kendaraan Truk untuk mengangkut hasil kayu-kayu tersebut.

    Kalau hal semacam itu tidak ada yang memfasilitasi itu sangat tidak mungkin pasalnya hutan disana harus melewati perkampungan terlebih dahulu serta mereka membawa gergaji mesin.

    untuk saat ini warga di sekitar Hutan hanya diam dan acuh bila terjadi pencurian baik secara perorangan atau yang bergerombol sekalipun. karena memang pihak Perhutani sendiri juga tak peduli dengan Masyarakat sekitar hutan. thanks, kawan, lanjutkan berkreasi dan tetap semangat untuk menulis hal-hal yang terbaru agar tetap up to date.

Leave a Reply

You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>