Membangun Ekonomi Masyarakat Adat Kepulauan Aru Berbasiskan Sumber Daya Alam Di Pulau-Pulau Kecil

FOCUS GROUP DISCUSSION Sebagai Negara kepulauan terbesar, keberadaan Pulau-Pulau Kecil mempunyai nilai penting di wilayah Indonesia, secara ekologi, ekonomi, bahkan mampu menjadi pertaruhan kedaulatan bangsa. Terpisah dengan pulau besar (main islands) mencirikan bahwasanya pulau-pulau kecil sebagai sistem mandiri dan soliter, yang terbatas pada ketersediaan air tawar, tanah, vegetasi, satwa, termasuk sumber pangan dan papan yang dimiliki. Sifat-sifat tersebut membuat pulaupulau kecil rentan tenggelam dan hilang meskipun dengan sedikit intervensi perubahan biofisik, seperti adanya aktivitas pertambangan dan eksploitasi hutan alam. Seharusnya landasan pemikiran tersebut membedakan pengelolaan daerah pulau-pulau kecil dibandingkan dengan pulau besar. Lemahnya kapasitas kelembagaan dan regulasi pemanfaatan yang belum jelas merupakan salah satu penyebab banyaknya pulau-pulau kecil di Indonesia … Continue reading →

Sungai Urat Nadi Kehidupan

Pada hari ini, lima tahun yang lalu, pemerintah pada tahun 2011 telah menetapkan tanggal 27 Juli sebagai hari Sungai Nasional. Ketetapan ini termuat dalam Peraturan Pemerintah No 38 tahun 2011 tentang Sungai. Bunyi pasal 74 pada peraturan pemerintah tersebut adalah “Dalam rangka memberikan motivasi kepada masyarakat agar peduli terhadap sungai, tanggal ditetapkannya Peraturan Pemerintah ini ditetapkan sebagai Hari Sungai Nasional”. Entah apa yang menjadi latar belakang sebenarnya dari ditetapkannya tanggal tersebut sebagai Hari Sungai. Pastiya sebuah peraturan dibuat agar satu peraturan dan peraturan lainnya memiliki keterkaitan dan kerurutan dari tingkat undang-undang hingga ke peraturan desa. Dalam kasus PP tentang Sungai, setidaknya ada dua hal yang sebaiknya dicermati dengan keluarnya PP … Continue reading →

FGD – Pemantauan Deforestasi Akibat Ekspansi HTI dan Industri Pulp And Paper

Seri Diskusi Terbatas Deforestasi Perusakan hutan dan pengabaian hak masyarakat pada konsesi HTI khususnya pada rantai industri pulp and paper masih saja terus terjadi. Sementara komitmen untuk tidak lagi merusak hutan terus digembor-gemborkan oleh para pihak sebagai bentuk kampanye positif dalam pengelolaan HTI di Indonesia. Namun komitmen perusahan-perusahaan dalam perbaikan tatakelola hutan patut dipertanyakan dan dianggap jauh dari yang diharapkan. Hal tersebut tercermin dari ketidakmampuan Hutan Tanaman Industri (HTI) dalam memasok kebutuhan bahan baku industri pulp dan paper yang terindikasi masih menggunakan kayu dari hutan alam. Praktik ini menguatkan anggapan betapa lambatnya perkembangan pembangunan hutan tanaman, dilihat dari rendahnya tingkat produksi dan realisasi penanaman yang kecil sekali bila dibandingkan dengan … Continue reading →