Peran Kearifan Lokal Masyarakat Kepulauan Aru dalam Menjaga Keseimbangan Lingkungan Hidup

Mengenal kearifan lokal masyarakat adat merupakan suatu upaya untuk menghargai keragaman budaya yang telah berlaku di suatu wilayah di Indonesia. Memahami kearifan lokal dapat dimulai dari mengenal sejarah masyarakat adat itu sendiri. Masyarakat Kepulauan Aru merupakan salah satu contoh masyarakat adat yang masih memiliki eksistensinya hingga saat ini dan mempertahankan budayanya terutama dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Ruang eksplorasi dan pengkajian kearifan lokal menjadi nilai strategis untuk mengetahui budaya lokal. Sejarah yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat menyebutkan bahwa persebaran masyarakat berawal dari adanya bencana hebat dari pulau Eno Karang yang menyebabkan terpecah belahnya pulau utama menjadi pulau-pulau kecil. Adanya gempa diikuti oleh persebaran masyarakat ke pulau-pulau kecil dan … Continue reading →

Warga Dayak Benuaq Pun Mengadu Kepada Leluhur

Kotak kayu itu perlahan dibuka. Tampak dua tengkorak manusia di dalamnya, yang ditutupi kain berwarna merah. Andreas Sinko, warga Kampung Muara Tae, Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, segera membersihkan dua tengkorak itu. Kedua tengkorak berwarna kekuningan tersebut diperkirakan berumur 200 tahun. Itulah tengkorak Galoh dan Bulu, leluhur warga Dayak Benuaq di Kampung Muara Tae. Tengkorak itu, dan sejumlah sesaji, dibawa masuk ke dalam hutan adat, pekan lalu. Warga hendak mengadu kepada leluhur, melalui upacara sumpah adat, terkait masalah tata batas yang membuat warga terampas haknya atas tanah adat. Leluhur mereka, Galoh, adalah Raja Muara Tae yang bergelar Mangkuana 2. Bulu adalah seorang tukang mantra. Setelah dibersihkan, kedua tengkorak diletakkan … Continue reading →

Mempertahankan Jati Diri Dengan Upacara Adat Beliatn

Sebuah Cerita dari Suku Dayak Benuaq Ohokng Suku Dayak Benuaq Ohokng “Saat ini suku dayak benuaq ohokng merasa terpojok karena hutan hampir habis. Maka dari itu, mereka melaksanakan upacara adat belian sebagai upaya mempertahankan jati dirinya”. Muara Tae merupakan salah satu kampung yang terletak di Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Kampung ini memiliki masyarakat adat bernama suku Dayak Benuaq. Suku Dayak Benuaq sejak turun temurun hidup menetap di aliran Sungai Ohokng , sehingga dikenal sebagai suku Dayak Benuaq Ohokng. Sekian lama menjalani kehidupan, suku Dayak Benuaq Ohokng menjaga alam dan hutan sebagai sumber kehidupan mereka dengan kearifan lokal. Namun di tahun 2011, perjuangan menjaga alam menjadi berat … Continue reading →

Menyiapkan Diri untuk Melakukan Pemetaan

Pada tanggal 18 – 20 Mei 2012, FWI mengadakan pelatihan pemetaan yang berlokasi di Kampung Tapos, Bogor. Tujuan utama pelatihan ini agar para staf FWI memiliki pengetahuan dasar pemetaan dan cara penggunaan alat-alat yang digunakan saat pemetaan. Pada saat pelatihan, kami diajarkan untuk dapat membaca peta, karena saat nantinya berada di lapangan kami harus dapat memahami lokasi yang akan dituju. Saat kami akan melakukan pemetaan, maka kami harus membaca peta terlebih dahulu, menentukan lokasi yang akan dipetakan, dan jalur atau medan yang akan dilalui menuju lokasi tersebut. Dengan memperhatikan kontur yang ada di peta, maka kita dapat melihat terjal atau tidaknya jalur yang akan dilalui nanti. Selain itu kami juga … Continue reading →