Pulau – Pulau Kecil dan Persoalan Ruang Hidup di Maluku Utara

INTIP HUTAN Edisi September – Desember 2015 Artikel 9 Oleh: Munadi Kilkoda (Ketua AMAN Maluku Utara) Maluku Utara merupakan Provinsi Kepulauan dengan 803 pulau besar dan kecil. 89 diantaranya sudah berpenghuni, sementara 714 tidak berpenghuni, hanya ada kegiatan ekonomi diatasnya yang dilakukan oleh masyarakat, (DKP; 2008). Provinsi ini memiliki luas mencapai ± 145.819,1 km2. Jika dibagi, luas lautan lebih besar karena mencapai ± 100.731,83 km2 dari luas daratan yang hanya ± 45.087,27 km2. Wilayah ini memiliki luas kawasan hutan mangrove kurang lebih 36 ribu hektar. Secara geografis Maluku Utara berada di bagian timur Indonesia, diapit oleh Pulau Sulawesi dan Pulau Papua. Berada di bibir Pacifik, secara geopolitik Maluku Utara memegang … Continue reading →

Status Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil di Nusa Tenggara Barat : Sudah Efektifkah Terkelola?

INTIP HUTAN Edisi September – Desember 2015 Artikel 8 Oleh Anggi Prayoga (Wildlife Conservation Society/WCS) Pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara Barat (NTB) secara keseluruhan terletak pada gugusan sunda kecil atau yang sering dikenal gugusan lesser sunda. Namun, sebelum jauh berbicara tentang kondisi dan efektivitas pengelolaan pulau-pulau kecil di NTB maka perlu mengenal status pengelolaannya, baik darat maupun perairannya. Pulau-pulau kecil di NTB secara pengelolaan terbagi ke dalam 2 tipe, yaitu pulau-pulau kecil yang berstatus kawasan dan berstatus non kawasan. Pulau-pulau kecil yang berstatus kawasan berada dibawah 2 lembaga pengelola pemerintahan, yaitu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tidak sedikit pulau-pulau kecil yang dikelola oleh … Continue reading →

Keterikatan Suku Mentawai dengan Hutan

INTIP HUTAN Edisi September – Desember 2015 Artikel 7 Oleh : Gerson Merari Saleleubaja (Yayasan Citra Mandiri Mentawai) Dalam kepercayaan masyarakat di Mentawai, merusak hutan sama saja dengan merusak kehidupan. Aturan tersebut ada dalam kehidupan adat istiadat mereka yang dikenal dengan kearifan lokal. Di masa lalu masyarakat Mentawai juga mengenal Panaki, suatu upacara yang dilakukan sebelum membuka hutan untuk keperluan ladang mereka. Upacara Panaki dilakukan dengan menggunakan guntingan kain kecil-kecil yang disangkutkan pada satu tiang kayu, upacara ini dimaksudkan untuk meminta izin kepada penguasa hutan agar penguasa tersebut tidak terkejut. Tanpa Panaki, pembukaan hutan menjadi ladang tidak mungkin dilakukan. Untuk sebagian orang, adat istiadat ini akan dinilai naif jika disandingkan … Continue reading →

“JANGAN USIK HUTANKU !,” dari Hati Sang Pemburu

“JANGAN USIK HUTANKU !,” dari Hati Sang Pemburu

INTIP HUTAN Edisi September – Desember 2015 Artikel 6 Oleh : Anggi Sanjaya Perawakan kekar dengan rambut gundul, Bapak Oce dengan gagah membawa busur panahnya. Terbuat dari batang pinang, dengan tali pegas terbuat dari bambu, serta anak panah terbuat dari rotan yang diujungnya direkatkan lempengan besi runcing yang telah dibumbui racun khas yang dapat melumpuhkan hewan yang naas nasibnya. Sore itu, kami mengikuti aktifitas Bapak Oce dan dua warga desa lainnya untuk berburu ke dalam hutan. Bapak Oce merupakan salah satu pemburu ulung di kampungnya.Desa Rebi, Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru. Senyumnya yang khas, dengan gigi berwarna merah di sela – selanya, akibat rutin mengunyah sirih pinang, dan cukup menenangkan … Continue reading →

Gagahnya Rimba Jargaria, Tempat Bermainnya Sang Pangeran Rimba

INTIP HUTAN Edisi September – Desember 2015 Artikel 5 Oleh : Mufti Fathul Barri (Forest Watch Indonesia) Mesin masih berbunyi dikala fajar tiba, Sang Raja Langit mulai menunjukkan cahayanya, puluhan pulau-pulau kecil diantara selat-selat kecil mulai tampak semakin jelas. Keperkasaan rimba di tengah-tengah samudera mulai terasasangat menakjubkan. Kicauan para bidadari udara mulai bernyanyi dan menunjukkan tariannya. Kabut tebal perlahan mulai hilang dan semakin memperjelas indahnya alam di Bumi Jargaria. Sebuah perjalanan yang sangat menakjubkan ini, baru gerbang Jargaria. Kami semakin tidak sabar untuk menyaksikan gagahnya isi rimba yang menjadi tempat tinggal burung-burung surga. Bumi Jargaria adalah sebuah bahasa lokal atau ungkapan yang berarti “Kepulauan Aru”. Sebuah tempat tersembunyi di negeritimur … Continue reading →