Pohon Harapan, “Hutan Indonesia Hanya Tinggal Cerita”

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Mufti Fathul Barri (FWI) Ratusan orang sibuk mendekorasi booth-booth pameran. Dekorasi dilakukan seindah mungkin untuk menarik perhatian para pengunjung nantinya. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk dekorasi yang indah dan megah tersebut. Semua ingin memamerkan hutan Indonesia yang terkenal kaya dan indah. Banyak booth dipersiapkan di acara tahunan ini. Peserta booth terdiri dari perusahaan swasta, pemerintah, LSM, sekolah, komunitas, universitas, dan lain sebagainya. Memasuki bagian dalam Assembly hall, terdapat booth berukuran 3m x 4m mengelilingi ruangan seluas 3921 meter persegi. Inilah booth gratis yang disediakan panitia untuk para peserta pameran. Pemandangan yang sangat kontras pun terlihat. Booth-booth megah terlihat di tengah-tengah ruangan. Luas … Continue reading →

Bertumpu pada Hutan di DAS Mahakam

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Anggi P. Prayoga (FWI) Sungai Mahakam memiliki sistem persungaian yang melintas di antara Kabupaten Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Kota Samarinda. Menjadi tumpuan kebutuhan aktivitas ekonomi di hulu hingga hilir. Stok pangan abadi bagi masyarakat yang memanfaatkannya dengan bijak. Tumpuan terakhir bagi satwa endemik yang tidak ada duanya. Sungai Mahakam, inilah kisah mu. Sungai Mahakam, memiliki hulu di Kutai Barat dan mengalir hingga delta Mahakam, yang terakumulasi di perairan Selat Makassar. Terletak di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki hutan sebagai pemasok oksigen bagi masyarakat di dalam dan sekitar hutan, bahkan se-Pulau Kalimantan sekalipun. Menjadi habitat bagi berbagai satwa terestrial dan akuatik, yang bergantung pada … Continue reading →

Kementerian Agraria dan Tata Ruang Tidak Mematuhi Undang Undang Keterbukaan Informasi Publik

Intip Hutan Edisi September 2016 Jakarta, 19 Agustus 2016 Organisasi masyarakat sipil Indonesia mempertanyakan komitmen Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (KemenATR/BPN) terkait keterbukaan informasi publik. Pernyataan ini dikeluarkan paska diterimanya pemberitahuan keberatan (banding) oleh KemenATR/BPN atas putusan Komisi Informasi Pusat (KIP) yang menyatakan dokumen Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan sawit yang dimohonkan Forest Watch Indonesia (FWI) adalah informasi terbuka. Surat Pemberitahuan dan Penyerahan Permohonan Keberatan yang dilayangkan oleh KemenATR/BPN kepada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta tertanggal 9 Agustus 2016, menandakan tidak ada kemauan terbuka untuk memberi ruang berpartisipasi bagi publik dalam pengawasan pembangunan di sektor perkebunan. Padahal pemerintah Indonesia sedang gencar-gencarnya melakukan evaluasi terhadap kinerja perkebunan kelapa … Continue reading →

Menyelamatkan Hutan, Menyelamatkan Bumi

“Menyelamatkan Hutan, Menyelamatkan Bumi”. Hutan adalah sumberdaya alam yang selama ini menyediakan sumber kehidupan. Hutan bukanlah sumberdaya alam yang harus di eksploitasi terus menerus. Tanpa hutan tidak ada binatang, tanpa hutan tidak ada air, tanpa hutan tidak ada oksigen, tanpa hutan tidak ada manusia. Pemanasan global terus terjadi. Suhu permukaan bumi terus meningkat, es-es abadi terus menerus hilang, muka air laut terus mengancam tenggelamnya pulau-pulau kecil. Hutan yang menjadi tumpuan utamapun terus berkurang. Ibarat pepatah bijak suku Indian: “Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.” Tahun 2013, Indonesia masih memiliki 82 juta Ha hutan alam … Continue reading →

Si Penjagal yang Melenggang: Ketika Hukum Mampu Dibeli, Tak Ada Lagi Tempat Berpijak Gajah Sumatera!

Intip Hutan Edisi Desember 2015 – Esai Favorit Pilihan Pembaca Pekanbaru (18/12). Masih ingatkah kita dengan tertangkapnya para pemburu gading gajah di Jembatan Leighton II Pekanbaru pada Februari 2015 lalu? Kini kasus tersebut tidak banyak mendapat perhatian dari kalangan media dan masyarakat. Media dan masyarakat seakan dibuai oleh Drama Politik yang terjadi di Negeri ini. Sungguh ironis! Ketika tidak ada lagi tempat berpijak bagi hewan bongsor Gajah Sumatera, bahkan di rumahnya sendiri. Perkara tersebut kini telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Propinsi Riau. Setelah sebelumnya ketujuh terdakwa yaitu Fadli (51), Ari (40), Mursid (52), Ruslan (40), Ishak (25), Anwar (40) dan Dani (19) telah divonis rata-rata 1 tahun … Continue reading →