Kebijakan Kehutanan Dalam Perspektif Pengelolaan DAS

Intip Hutan Edisi September 2016 © Forest Watch Indonesia Masyarakat tentunya berhak mendapatkan kualitas lingkungan yang baik yang dapat mendukung sistem keberlanjutan kehidupan yang ditunjang dari keberadaan hutan. Hutan memberikan oksigen, keteduhan, kesegaran, serta kesejukan yang telah dinikmati manusia selama ini dan tidak pernah diperhitungkan nilainya secara ekonomi. Hutan dipandang sebagai sub sektor pertanian yang dimanfaatkan dalam bentuk produk hasil hutan kayu dan hasil hutan bukan kayu termasuk jasa lingkungan dan sumber daya air. Pada tahap saat ini, hutan yang menjadi tumpuan kualitas lingkungan telah terkikis secara kualitas dan kuantitasnya sehingga menimbulkan dampak seperti bencana alam banjir, kekeringan, longsor, dan pencemaran. Dalam undang-undang kehutanan menyebutkan bahwa selain hak, masyarakat juga … Continue reading →

Cerita Turun Gunung

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Nurika Manan © Forest Watch Indonesia Dua tangan dengan gurat otot itu menggenggam panjang selang air. Diikuti gerakan ke segala arah, air dari selang membasahi lahan yang luasnya kira-kira setengah lapangan bola. Sebuah petak di Desa Sarongge, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kala itu musim kemarau, petani harus rajin menyiram lahan kalau tak mau hasil panennya buruk. Tiba-tiba saya membayangkan tokoh Santiago dalam novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Santiago, nelayan tua yang masih berkeras melaut, mencari ikan. Kini saya seperti melihatnya lekat-lekat. Namun bukan di tengah arus Teluk Meksiko, ini kali di tengah lahan yang sekelilingnya ditumbuhi sayuran. … Continue reading →

Angin Segar dari Canguk

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Fachrudin Surahmat¹ Tahun 2015 bukan kali pertama El Nino hebat menyambangi Indonesia, menimbulkan kekeringan di berbagai penjuru negeri. Sembilan belas tahun lalu, di 1997, El Nino hebat memicu kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan yang hebat. Di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung, 164 ha hutan hangus terbakar. Pohon-pohon berukuran besar terbakar, sumber-sumber air mengering, berbagai jenis satwa terjebak di dalam api dan mati. Areal yang sebelumnya penuh dengan pohon dan serasah daun yang menutupi lantai hutan, menjadi hitam dan dipenuhi abu. Seperti kita tahu, mengembalikan keberadaan hutan pasca kebakaran, secara alami membutuhkan proses yang panjang dan waktu yang … Continue reading →

Membebaskan Perempuan, Melestarikan Bumi

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Amalya R.O. (FWI) “Karena lelaki adalah laut adalah perahu, yang melindungi pulau. Sedang perempuan adalah gunung, yang membenahi pulau.” (Nukila Amal) Dua penggal kalimat yang dicuplik dari novel Nukila Amal—Cala Ibi—, bila ditafsir, sepertinya memang masih menjadi panutan pandangan kelompok konservatif terhadap peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan rumah tangga, dalam bermasyarakat. Indonesia, dan banyak negara lain di dunia, seperti Afrika dan negara-negara di Timur Tengah, masih menganut budaya patriarki, di mana laki-laki menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Pemimpin rumah tangga, bila kita menurut pada stereotip, maka adalah seseorang yang menafkahi, yang mengambil keputusan dan yang harus diikuti dalam keluarga. Sementara letak perempuan terdapat … Continue reading →

Hutan, Masyarakat Kota, dan Alam Bawah Sadar

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Ardy Kresna Crenata¹ Bagi orang-orang yang tinggal di kota dan nyaris tak bersentuhan dengan hutan dalam kesehariannya, apa makna hutan? Kota menghadirkan kemajuan, yang termanifestasikan dalam teknologi dan kecepatan—yang mungkin mengingatkan kita pada futurismo Italia yang gagal itu. Kota juga menghadirkan perpindahan dan pergerakan yang intens, dengan segala kerumitan dan masalah yang menyertainya. Berada dan tinggal di kota, adalah sebuah aktivitas aktif, bukan pasif. Seseorang menjalani hidup di kota sederhananya adalah untuk bekerja, bukan untuk berleha-leha. Dengan hal-hal yang telah disebutkan itu, kota tak membiarkan orang-orang yang hidup di dalamnya mengalami “jeda”, yang dengan itu mereka bisa sedikit merasakan apa itu “alam”. Kota, dengan … Continue reading →