Angin Segar dari Canguk

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Fachrudin Surahmat¹ Tahun 2015 bukan kali pertama El Nino hebat menyambangi Indonesia, menimbulkan kekeringan di berbagai penjuru negeri. Sembilan belas tahun lalu, di 1997, El Nino hebat memicu kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan yang hebat. Di wilayah Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung, 164 ha hutan hangus terbakar. Pohon-pohon berukuran besar terbakar, sumber-sumber air mengering, berbagai jenis satwa terjebak di dalam api dan mati. Areal yang sebelumnya penuh dengan pohon dan serasah daun yang menutupi lantai hutan, menjadi hitam dan dipenuhi abu. Seperti kita tahu, mengembalikan keberadaan hutan pasca kebakaran, secara alami membutuhkan proses yang panjang dan waktu yang … Continue reading →

Membebaskan Perempuan, Melestarikan Bumi

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Amalya R.O. (FWI) “Karena lelaki adalah laut adalah perahu, yang melindungi pulau. Sedang perempuan adalah gunung, yang membenahi pulau.” (Nukila Amal) Dua penggal kalimat yang dicuplik dari novel Nukila Amal—Cala Ibi—, bila ditafsir, sepertinya memang masih menjadi panutan pandangan kelompok konservatif terhadap peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan rumah tangga, dalam bermasyarakat. Indonesia, dan banyak negara lain di dunia, seperti Afrika dan negara-negara di Timur Tengah, masih menganut budaya patriarki, di mana laki-laki menjadi pemimpin dalam rumah tangga. Pemimpin rumah tangga, bila kita menurut pada stereotip, maka adalah seseorang yang menafkahi, yang mengambil keputusan dan yang harus diikuti dalam keluarga. Sementara letak perempuan terdapat … Continue reading →

Hutan, Masyarakat Kota, dan Alam Bawah Sadar

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Ardy Kresna Crenata¹ Bagi orang-orang yang tinggal di kota dan nyaris tak bersentuhan dengan hutan dalam kesehariannya, apa makna hutan? Kota menghadirkan kemajuan, yang termanifestasikan dalam teknologi dan kecepatan—yang mungkin mengingatkan kita pada futurismo Italia yang gagal itu. Kota juga menghadirkan perpindahan dan pergerakan yang intens, dengan segala kerumitan dan masalah yang menyertainya. Berada dan tinggal di kota, adalah sebuah aktivitas aktif, bukan pasif. Seseorang menjalani hidup di kota sederhananya adalah untuk bekerja, bukan untuk berleha-leha. Dengan hal-hal yang telah disebutkan itu, kota tak membiarkan orang-orang yang hidup di dalamnya mengalami “jeda”, yang dengan itu mereka bisa sedikit merasakan apa itu “alam”. Kota, dengan … Continue reading →

Hasil Hutan yang diabaikan : Sagu Nasibmu Kini

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Isnenti Apriani (FWI) Indonesia memiliki letak geografis yang strategis, selain memiliki tutupan hutan alam yang masih rapat yaitu seluas 82,5 juta ha.¹ Juga memiliki kekayaaan sumber daya alam mulai dari flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Dalam sejarahnya Indonesia selalu diperhitungkan dunia internasional karena sumber daya alamnya tersebut. Rempah-rempah nusantara pernah membuat para pelaut dan pengusaha dunia terutama EROPA ingin menguasai bumi pertiwi selama lebih dari tiga abad. Sampai saat ini negara kita masih diperhitungkan sebagai produsen terbesar hasil bumi. Diantaranya adalah kelapa sawit, kakao, rotan, kopi, dan karet yang masih mendominasi pasar dunia. Selain nama-nama itu, terselip nama … Continue reading →

Kekeliruan Praktek Pengelolaan Kawasan Konservasi Di Indonesia

Intip Hutan Edisi September 2016 Oleh: Andi Charil Ichsan Pengajar Fakultas Kehutanan, Universitas Mataram Secara konseptual konservasi merupakan manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980). Sedangkan Menurut UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, konservasi sumberdaya alam hayati didefinisikan sebagai pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya Namun demikian, beberapa literatur juga memberikan definisi yang memungkinkan terjadinya penyimpangan penafsiran makna konservasi dari makna sebenarnya seperti yang dimandatkan dalam World Conservation Strategy(1980). Salah satu paradigma … Continue reading →