<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>forest watch indonesia</title>
	<atom:link href="http://fwi.or.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fwi.or.id</link>
	<description>good forest governance needs good forest information</description>
	<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 09:00:08 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>KPK Harus Bongkar Praktik Mafia Kehutanan</title>
		<link>http://fwi.or.id/?p=284</link>
		<comments>http://fwi.or.id/?p=284#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 05:28:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leodigna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwi.or.id/?p=284</guid>
		<description><![CDATA[
Pernyataan Pers Bersama
PPNS Dephut,  Polisi, dan Kejaksaan terbukti gagal menangkap para dalang terorganisir (masterminds) perusakan hutan Indonesia. PPATK pun sama saja. Karenanya, KPK menjadi harapan terakhir.
 
Perusakan hutan Indonesia berlangsung secara sistematis, massif, dan terorganisir. Illegal logging dikendalikan oleh para penjahat kelas kakap dan antarnegara (trans-national crime). Perusakan yang lebih parah terjadi oleh konversi hutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-top: 0in; margin-right: .75in; margin-bottom: .0001pt; margin-left: 31.5pt; text-align: center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="IN">Pernyataan Pers Bersama</span></p>
<p><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">PPNS Dephut, <span style="mso-spacerun: yes;"> </span>Polisi, dan Kejaksaan terbukti gagal menangkap para dalang terorganisir (masterminds) perusakan hutan Indonesia. PPATK pun sama saja. </span></em><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Karenanya, KPK menjadi harapan terakhir.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Perusakan hutan Indonesia berlangsung secara sistematis, massif, dan terorganisir. <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Illegal logging</em> dikendalikan oleh para penjahat kelas kakap dan antarnegara (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">trans-national crime</em>). Perusakan yang lebih parah terjadi oleh konversi hutan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">illegal</em> yang digerakkan oleh para investor nakal dengan dibantu para pejabat. Konversi ini dilakukan dengan merubah hutan menjadi perkebunan dan pertambangan. </span></p>
<p><span id="more-284"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Konversi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">illegal</em> ini terjadi di seluruh propinsi di Indonesia. Di Kalimantan Tengah, 7,8 juta hektar hutan telah berubah menjadi kebun sawit, areal tambang, dan bentang alam lainnya yang bukan hutan (Laporan Tim Terpadu Revisi RTRWP Kalteng, 2009). Di propinsi ini, seluruh bupati terdata memfasilitasi perusakan hutan oleh perusahaan-perusahaan jahat perusak hutan dengan menerbitkan ijin usaha perkebunan dan atau kuasa pertambangan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Balai Pemantapan Kawasan Hutan Departemen Kehutanan menyebutkan bahwa dalam 6 tahun terakhir 5,8 juta hektar hutan Papua rusak (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">www.bpkhpapua.org</em>). Bahkan, diperkirakan hutan Papua akan habis pada tahun 2020. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Ironisnya, para dalang (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">masterminds</em>) perusakan hutan tersebut kebal hukum. Dalang ini terdiri atas pengusaha-pengusaha besar yang ber-kongkalikong dengan para pejabat penerbit ijin dan penegak hukum. Hal inilah yang mengakibatkan sejarah penegakan hukum pelestarian hutan sama dengan riwayat panjang kegagalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Abdul Rasyid yang pernah merajalela merusak Taman Nasional Tanjung Puting bahkan tidak pernah menjadi tersangka polisi. Ali Jambi melenggang bebas di Singapura (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">EIA/Telapak, 2007</em>). Komisaris Polisi </span><span style="font-size: 11.0pt; mso-ansi-language: EN-US;">MR</span><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> yang menerima milyaran rupiah dari pengusaha yang diduga pelaku <em style="mso-bidi-font-style: normal;">illegal logging</em> divonis bebas pengadilan karena pembuktian jaksa yang lemah. Bahkan, putusan yang menusuk rasa keadilan publik ini menjadi semakin kukuh hanya karena jaksa terlambat mengajukan banding.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Investor perkebunan dan pertambangan perusak hutan skala besar pun sama merajalela. Pejabat Penyidik Departemen Kehutanan (PPNS Dephut) sama sekali tidak pernah mengajukan perusahaan pengkonversi hutan illegal ke persidangan. </span><span style="font-size: 11.0pt; mso-ansi-language: EN-US;">Kasus yang terkait dengan</span><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> PT. RAPP di Riau hingga kini tidak jelas penangangannya. Bahkan, dugaan </span><span style="font-size: 11.0pt; mso-ansi-language: EN-US;">pembalakan liar<em style="mso-bidi-font-style: normal;"> </em></span><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">perusahaan ini justru di-SP3 oleh polisi. </span><span style="font-size: 11.0pt; mso-ansi-language: EN-US;">Demikian juga dengan </span><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">pelanggaran RKT oleh HPH Austral Byna di Kalimantan Tengah pun tidak pernah disidik sama sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Pencaplokan wilayah HPH oleh PT. Antang Ganda Utama (MAKIN Group) di Kalimantan Tengah tidak diusut sama sekali. Puluhan ijin pertambangan yang dikeluarkan Bupati Barito Utara di atas lahan konsesi HPH Austral Byna pun bebas melenggang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Sementara itu, kerap disebut bahwa para perusak hutan ini akan bisa disidik dengan menggunakan undang-undang anti pencucian uang yang telah mencantumkan kejahatan kehutanan sebagai salah satu kejahatan asal (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">proceeds of crime</em>) pencucian uang. Akan tetapi, hingga saat ini tidak satu pun perusak hutan yang dihukum dengan menggunakan undang-undang ini. Malah, polisi justru dengan sengaja memisahkan penggunaan pasal ini saat menyidik Adelin Lis yang merusak hutan secara massif di Sumatera Utara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Maka, kini harapan satu-satunya yang bisa mendobrak keleluasaan para <em style="mso-bidi-font-style: normal;">masterminds </em>perusak hutan tinggal KPK. Menggunakan undang-undang tindak pidana korupsi dengan sendirinya memungkinkan menghukum sekaligus pejabat, investor, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam perusakan hutan. Inilah yang sudah dibuktikan KPK dengan menindak Surya Dumai Group di Kalimantan Timur yang berdalih membangun perkebunan sawit untuk menghabiskan kayu di lahan konsesi illegalnya. Dalam kasus ini, Gubernur Kalimantan Timur Suwarna AF juga menjadi pihak yang turut bertanggung jawab. Hal sama juga dilakukan KPK saat menyidik Azmun Jafar, mantan Bupati Pelalawan, Riau yang juga menyeret para investor yang terlibat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Selain itu, pengembalian kerugian negara dari korupsi sektor kehutanan pun sangat signifikan. Hingga saat ini, pengembalian kerugian negara yang terbesar oleh KPK adalah dari sektor kehutanan, yakni Azmun Jafar, cs yang harus mengembalikan Rp 1,2 trilyun, dan Surya Dumai Group yang harus mengembalikan Rp 346,823 milyar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%;" lang="IN">Oleh karena itu, </span></strong><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;">Kami meninta KPK:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: .5in; text-align: justify; text-indent: -.25in; line-height: 150%; mso-list: l0 level1 lfo1;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%;" lang="IN"><span style="mso-list: Ignore;">1.<span style="font: 7.0pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;">Menjadikan kasus-kasus korupsi kehutanan sebagai salah satu prioritas penting;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: .5in; text-align: justify; text-indent: -.25in; line-height: 150%; mso-list: l0 level1 lfo1;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%;" lang="IN"><span style="mso-list: Ignore;">2.<span style="font: 7.0pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;">M</span><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%;" lang="IN">embentuk satu satuan tugas khusus yang fokus menyidik kasus-kasus perusakan hutan</span><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: .5in; text-align: justify; text-indent: -.25in; line-height: 150%; mso-list: l0 level1 lfo1;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%;" lang="IN"><span style="mso-list: Ignore;">3.<span style="font: 7.0pt &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN-US;">Menindaklanjuti sembilan kasus besar dengan estimasi kerugian negara Rp. 6,66 triliun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 105%;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 105%;" lang="IN">Jakarta, 4 Februari 2010</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 105%;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 105%;" lang="IN">Koalisi </span></strong><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 105%; mso-ansi-language: EN-US;">Anti</span></strong><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; line-height: 105%;" lang="IN"> Mafia Kehutanan</span></strong></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">WALHI, JIKALAHARI, JATAM, Save Our Borneo (SOB), Forest Watch Indonesia (FWI),</span></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Indonesia Corruption Watch (ICW), Sawit Watch, Kontak Rakyat Borneo, SILVAGAMA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 11.0pt; mso-ansi-language: EN-US;">Kontak koalisi:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Teguh Surya (WALHI) – <a href="mailto:teguh.surya@gmail.com"><span style="color: windowtext;">teguh.surya@gmail.com</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Susanto Kurniawan (JIKALAHARI) – <a href="mailto:santo@jikalahari.or.id"><span style="color: windowtext;">santo@jikalahari.or.id</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Luluk Uliyah (JATAM) – <a href="mailto:luluk@jatam.org"><span style="color: windowtext;">luluk@jatam.org</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Leonard Hasugian (FWI) – <a href="mailto:leodigna@fwi.or.id"><span style="color: windowtext;">leodigna@fwi.or.id</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Abetnego T (Sawit Watch) – <a href="mailto:nego@sawitwatch.or.id"><span style="color: windowtext;">nego@sawitwatch.or.id</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">M. Lutharif (Kontak Rakyat Borneo) – <a href="mailto:kontak_rakyatku@yahoo.com"><span style="color: windowtext;">kontak_rakyatku@yahoo.com</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN">Timer Manurung (SILVAGAMA) – <a href="mailto:timer@silvagama.org"><span style="color: windowtext;">timer@silvagama.org</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 11.0pt;" lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwi.or.id/?feed=rss2&amp;p=284</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>BONGKAR PRAKTEK MAFIA KEHUTANAN</title>
		<link>http://fwi.or.id/?p=280</link>
		<comments>http://fwi.or.id/?p=280#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 12:05:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leodigna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<category><![CDATA[Koalisi Pemantau Mafia Kehutanan]]></category>

		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwi.or.id/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[ 

Pernyataan Pers Bersama
 

Hutan Indonesia dirusak secara sistematis dan terorganisir oleh para pejabat dan investor nakal. Aksi mafia kehutanan ini terorganisir dan terjadi di seluruh Indonesia.
 
Praktek korupsi di sektor kehutanan terjadi di seluruh Indonesia. Praktek ini tidak hanya illegal logging, tapi juga korupsi perizinan yang mengakibatkan hilangnya hutan (deforestasi). Deforestasi terjadi terutama karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:UseFELayout /> </w:Compatibility> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><span lang="SV">Pernyataan Pers Bersama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:UseFELayout /> </w:Compatibility> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><em><span style="font-size: 12pt;" lang="SV">Hutan Indonesia dirusak secara sistematis dan terorganisir oleh para pejabat dan investor nakal. Aksi mafia kehutanan ini terorganisir dan terjadi di seluruh Indonesia.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT">Praktek korupsi di sektor kehutanan terjadi di seluruh Indonesia. Praktek ini tidak hanya <em>illegal logging</em>, tapi juga korupsi perizinan yang mengakibatkan hilangnya hutan (deforestasi). Deforestasi terjadi terutama karena praktek konversi dan alih fungsi kawasan hutan yang melanggar aturan (illegal). Konversi dilakukan dengan merubah hutan menjadi perkebunan dan pertambangan. Di Kalimantan Tengah, 7,8 juta hektar hutan telah berubah menjadi perkebunan sawit, areal tambang, dan bentang alam lainnya yang bukan hutan (<em>Laporan Tim Terpadu Revisi RTRWP Kalteng, 2009</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT"> <span id="more-280"></span></span><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:UseFELayout /> </w:Compatibility> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT">Bappeda Propinsi Lampung menyebutkan bahwa lebih dari 80 persen hutan lindung, 67,5 persen hutan produksi terbatas, dan 76 persen hutan produksi di propinsi tersebut telah rusak pada tahun 2007 (<em>www.koran-jakarta.com</em>). Secara keseluruhan, deforestasi terjadi seluas <span> </span>1.08 juta <span> </span>ha per tahun di Indonesia (Dephut, 2007). Selain perubahan hutan menjadi perkebunan dan pertambangan, ada juga alokasi hutan gambut menjadi hutan produksi (HP) yang memberikan dampak<span> </span>ekologis yang luar biasa. Pemberian izin HTI kepada PT RAPP (RGM group) yang berada di hutan rawa gambut semenanjung Kampar jelas dilakukan dengan praktek pengeluaran izin yang tidak prosedural.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT">Dampak dan kerugian akibat perusakan hutan sungguh luar biasa. Illegal logging mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp 30 triliun per tahun (data Dephut). Kerugian negara akibat korupsi perizinan Azmun Jafar, mantan Bupati Pelalawan Propinsi Riau, mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 1,2 trilyun. Praktek korupsi Surya Dumai Group dalam konversi hutan di Kalimantan Timur merugikan negara sebesar Rp 346,823 milyar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT">Banjir, kekeringan, dan bencara ekologis semakin kerap melanda daerah-daerah di Indonesia. Konversi hutan ini pun mengakibatkan hilangnya sumber mata pencaharian 48,8 juta penduduk yang tinggal di sekitar hutan Indonesia (Dephut,2004).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT">Terdapat sejumlah permasalahan penerapan hukum dan kebijakan</span><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT"> yang mengakibatkan praktek kejahatan kehutanan – alih fungsi hutan masih tetap berlangsung: </span></p>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="1">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT">Daya penegakan      kebijakan masih lemah (hukum dan penegak hukum)</span><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="IT"> </span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;">Lemahnya Komitmen Pemerintah dan Pengusaha</span><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;"> </span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;">Ketimpangan kepentingan dalam penerapan      kebijakan</span><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;"> </span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;">Kepentingan Pemerintah atas Kebijakan Pelepasan      Kawasan Hutan untuk Pengembangan Perkebunan Besar </span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI">Dominasi Kepentingan      Pengusaha atas Penerapan Kebijakan Pelepasan<span> </span>Kawasan Hutan </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI">Selain itu juga muncul tumpang tindih otoritas dan konversi hutan. Hal ini dibuktikan dengan tidak harmonis dan tidak sinkronnya hukum dan kebijakan. Disharmonis kebijakan perundang-undangan (perkebunan, kehutanan, Lingkungan, Tata Ruang, Otonomi Daerah) menghasilkan tumpang tindih otoritas.<span> </span>Sehingga pemerintah sulit untuk melakukan perlindungan, perencanaan, Pengelolaan, pengawasan, penegakan<span> </span>hukum dan Pemulihan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI">Euforia otonomi daerah mengakibatkan pemerintah daerah kebablasan mengeluarkan izin-izin perkebunan dan pertambangan. Data Save Our Borneo dan Silvagama menunjukkan adanya pelanggaran izin perkebunan dan atau pertambangan yang dikeluarkan oleh seluruh Bupati di Kalimantan Tengah. Bahkan di konsesi HPH Austral Byna di Barito Utara, Kalimantan Tengah juga diberikan 23 izin usaha perkebunan dan 47 kuasa pertambangan oleh Bupati setempat. Di Riau, 4 bupati mengeluarkan 37 izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan tanaman (dulu bernama HTI) yang melanggar ketentuan. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI">Seakan tak mau ketinggalan menabrak aturan, Menteri Kehutanan melegalkan izin yang telah dikeluarkan oleh Bupati tersebut termasuk memberikan dispensasi terhadap perusahaan di Riau tanpa melalui proses verifikasi yang dipersyaratkan dalam aturannya. Kasus lain, Menteri Kehutanan juga ikut melegalisasi perusakan hutan dengan menerbitkan izin hutan kemasyarakatan (HKm) seluas 12.000 hektar dalam hutan lindung di Kabupaten Tanggamus, Lampung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI">Paparan di atas menunjukkan bahwa komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi sebesar 26% yang diyakini berperan penting dalam menurunkan suhu bumi, telah di khianati setidaknya oleh Kementerian Kehutanan dan Kementerian ESDM . Terbukti, hingga 100 hari pertama periode SBY – Boediono, tidak ada satu pun perusahaan perusak hutan yang ditindak secara hukum. Padahal, sebagai negara peng-emisi (emiten) ke-3 terbesar di dunia, emisi tersebut berasal dari praktek konversi lahan baik hutan alam maupun hutan rawa gambut untuk kepentingan investasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI">Pada sisi lain disinyalir Kuat, bahwa lemahnya penerapan dan penegakan hukum erat kaitannya dengan pungutan liar (Korupsi). Data Sawit Watch menyebutkan bahwa biaya penerbitan izin lokasi<span> </span>untuk setiap hektarnya sebesar Rp. 500.000- Rp. 1 juta/ha (rata-rata Rp. 750 jt untuk izin lokasi seluas 1.000 ha). Bahkan dalam temuan lain, untuk menerbitkan izin lokasi seluas 1.000 ha berbiaya sampai Rp. 3 Milyar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI">Fakta lain, aparat penegak hukum yang lebih berpihak ke Perusahaan perkebunan sawit dalam menindak lanjuti laporan pengaduan. Kepolisian lebih melayani laporan Perusahaan sawit. Keberpihakan<span> </span>yang sama juga di perpraktekan oleh pengadilan yang dicerminkan melalui putusan-putusannya. Bahkan Laporan pemerintah atas kejahatan perusahaanpun dikalahkan oleh pengadilan. Selain aparat penegak hukum, aparatur negara yang lain juga terbukti melanggengakan pelanggaran yang ada. Ini dapat di buktikan salah satunya dengan ketelibatan oknum pegawai Badan Pertanahan Nasional yang merangkap sebagai Karyawan Perusahaan .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 105%;"><span style="font-size: 12pt; line-height: 105%;" lang="FI">Oleh karena itu, tidak ada pilihan selain menindak tegas <em>master mind</em> mafia kehutanan, yang diduga terdiri dari: Korporasi, pejabat yang mengeluarkan izin tingkat nasional dan daerah yang melakukan pensiasatan hukum untuk meloloskan izin/konsensi hutan tertentu, atau aktor penegak hukum yang bermain dengan koorporasi dan pejabat negara/daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><strong><span lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><strong><span lang="FI">Jakarta, 3 Februari 2010</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: 105%;" align="center"><strong><span lang="FI">Koalisi Pemantau Mafia Kehutanan</span></strong></p>
<p class="NoSpacing" style="text-align: center; line-height: 105%;" align="center">WALHI, JIKALAHARI, JATAM, Save Our Borneo (SOB), Forest Watch Indonesia (FWI),</p>
<p class="NoSpacing" style="text-align: center; line-height: 105%;" align="center">Indonesia Corruption Watch (ICW), Sawit Watch, Kontak Rakyat Borneo, SILVAGAMA</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;">c.p.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;">Teguh Surya (WALHI) – <a href="mailto:teguh.surya@gmail.com">teguh.surya@gmail.com</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span lang="FI">Susanto Kurniawan (JIKALAHARI) – </span><a href="mailto:santo@jikalahari.or.id"><span lang="FI">santo@jikalahari.or.id</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span lang="FI">Luluk Uliyah (JATAM) – </span><a href="mailto:luluk@jatam.org"><span lang="FI">luluk@jatam.org</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;">Leonard Hasugian (FWI) – <a href="mailto:leodigna@fwi.or.id">leodigna@fwi.or.id</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;">Emerson Yuntho (ICW) – <a href="mailto:emerson@antikorupsi.org">emerson@antikorupsi.org</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;">Abetnego T (Sawit Watch) – <a href="mailto:nego@sawitwatch.or.id">nego@sawitwatch.or.id</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;">M. Lutharif (Kontak Rakyat Borneo) – <a href="mailto:kontak_rakyatku@yahoo.com">kontak_rakyatku@yahoo.com</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span lang="SV">Timer Manurung (SILVAGAMA) – </span><a href="mailto:timer@silvagama.org"><span lang="SV">timer@silvagama.org</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span lang="SV"><span> </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwi.or.id/?feed=rss2&amp;p=280</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Terbuka Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia 	 Menyikapi Komitmen Indonesia Dalam Mereduksi Emisi Nasional</title>
		<link>http://fwi.or.id/?p=275</link>
		<comments>http://fwi.or.id/?p=275#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 03:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leodigna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<category><![CDATA[AMAN]]></category>

		<category><![CDATA[emisi nasional]]></category>

		<category><![CDATA[FWI]]></category>

		<category><![CDATA[Greenpeace]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwi.or.id/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Perihal : Surat Terbuka Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia
  Menyikapi Komitmen Indonesia Dalam Mereduksi Emisi Nasional 
 
 
Kepada Yth, 
Bapak DR. H. Susilo  Bambang Yudhoyono 
Presiden Republik Indonesia
Sekretariat Negara R.I
Jl. Veteran No. 17-18 Jakarta 10110
Telp : (021)3845627, 3442327, 3451069
Fax : (021)3451069, 3849061
 
 
Dengan Hormat, 
 
Kami yang bertandatangan di bawah ini menyambut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt;">Perihal </span></strong><span style="font-size: 10pt;">: Surat Terbuka Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><span> </span><span> </span>Menyikapi Komitmen Indonesia Dalam Mereduksi Emisi Nasional </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Kepada Yth, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt;">Bapak DR. H. Susilo </span></strong><strong><span style="font-size: 10pt;"> Bambang</span></strong><strong><span style="font-size: 10pt;"> Yudhoyono </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt;">Presiden Republik Indonesia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;">Sekretariat Negara R.I</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;">Jl. Veteran No. 17-18 Jakarta 10110</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;">Telp<span> </span>: (021)3845627, 3442327, 3451069</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;">Fax<span> </span>: (021)3451069, 3849061</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;">Dengan Hormat, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Kami yang bertandatangan di bawah ini menyambut baik langkah kepemimpinan Bapak dalam upaya menghadapi perubahan iklim seperti yang disampaikan dalam pidato kenegaraan Bapak di forum G20 di Pittsburgh pada bulan September 2009. Kami mencatat Bapak menyatakan dengan tegas <em>“We are devising an energy mix policy including LULUCF (Land Use, Land Use Change and Forestry) that will reduce our emission by 26 percent by 2020 from BAU (Business As Usual). With international support, we are confident that we can reduce emissions by as much as 41 percent. This target is entirely achievable because most of our emissions come from forest-related issues, such as forest fires and deforestation.”<span id="more-275"></span></em></span><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!<br />
/* Style Definitions */<br />
table.MsoNormalTable<br />
{mso-style-name:"Table Normal";<br />
mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
mso-tstyle-colband-size:0;<br />
mso-style-noshow:yes;<br />
mso-style-parent:"";<br />
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;<br />
mso-para-margin:0in;<br />
mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
mso-pagination:widow-orphan;<br />
font-size:10.0pt;<br />
font-family:"Times New Roman";<br />
mso-ansi-language:#0400;<br />
mso-fareast-language:#0400;<br />
mso-bidi-language:#0400;}<br />
--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Sejak lama kami menjadi saksi bagaimana Indonesia menjadi negara penyedia bahan mentah industri dan penyedia bahan bakar fosil bagi negara industri yang boros energi. Dan hal tersebut membuat kondisi hutan Indonesia sudah sangat kritis akibat praktik-praktik BAU, yang sebagian besar karena konversi hutan alam untuk industri perkebunan kelapa sawit, bubur kertas, pertambangan dan migas. Eksploitasi di atas terjadi tanpa persetujuan dan sepengetahuan masyarakat adat dan masyarakat lokal. Praktik semacam ini seringkali menggusur dan membuat masyarakat terpuruk dalam kemiskinan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Tapi disaat yang sama, </span><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">sebagai negara kepulauan dan kelautan terbesar di dunia, Indonesia akan menjadi negara yang rentan oleh dampak perubahan iklim. Bapak bahkan percaya, bahwa, “<em>As to our vast marine resources, Indonesia will see to it that they contribute to climate stability through sustainable and integrated coastal and ocean management</em>” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN">Oleh karenanya, menjadi sangat wajar, Indonesia memimpin negara-negara kepulauan dan bersikap tegas dalam upaya penanganan dan antisipasi dampak perubahan iklim, yang berkeadilan dan berperspektif kepulauan. Sehingga kegentingan ekologis di kepulauan Indonesia dapat diminimalisasi, khususnya bagi nelayan dan masyarakat pesisir, petani, buruh, dan perempuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Oleh karenanya, komitmen Bapak menurunkan emisi di dalam negeri menjadi sangat penting. Tak kalah penting dari upaya terus menuntut negara-negara Annex 1 dalam Protokol Kyoto menurunkan emisi mereka secara signifikan. Indonesia perlu menyerukan upaya reformasi struktur perekonomian dunia yang sejak lama menempatkan negara-negara Selatan sebagai penyedia bahan mentah belaka dan bahkan pada perkembangan selanjutnya menjadi penyedia jasa pembersihan residu kemajuan negara-negara Annex 1. Oleh karenanya, penting dicatat bahwa penurunan emisi tidak boleh menjadi sarana <em>offset emisi.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Untuk bisa mencapai komitmen target tersebut dan menunjukkan keseriusan Bapak di dunia internasional perlu dilakukan langkah-langkah segera sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>1.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Memerintahkan Menteri<span> </span>Pertanian untuk mencabut Peraturan Menteri Pertanian No 14/Permentan/PL.110/2/2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit, karena konversi lahan gambut merupakan sumber emisi karbon terbesar di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>2.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Memerintahkan Menteri Kehutanan untuk mencabut sejumlah Kebijakan yang berkaitan dengan konversi hutan alam dan lahan gambut untuk keperluan industri skala besar. Hal ini karena konversi hutan alam dan lahan gambut merupakan sumber emisi karbon kedua terbesar di Indonesia. Pencabutan kebijakan konversi hutan alam dan lahan gambut ini akan menjaga cadangan karbon dan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>3.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Memerintahkan Menteri Kehutanan untuk mengkaji kembali kebijakan yang memberi peluang besar bagi <em>offset</em> negara industri melalui skema pasar di kawasan hutan Indonesia. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain: </span><span style="font-size: 10pt;" lang="AF">(1) P. 68/Menhut-II/2008 Penyelenggaran <em>Demonstration Activities</em> Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan, (2) Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No. 30/Menhut-II/2009 Tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan, (3) Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No. 36/Menhut-II/2009 Tentang Tata Cara Perizinan Usaha Pemanfaatan Penyerapan dan/atau Penyimpanan Karbon pada Hutan Produksi dan Hutan Lindung, karena memberi peluang besar bagi <em>offset</em> negara industri. </span></p>
<p class="ListParagraph" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>4.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Memastikan bahwa Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang dapat menghasilkan Rencana Tata Ruang Pulau-pulau Besar pada tahun 2009 yang mampu memastikan pengurangan kerentanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim, perlindungan hak terhadap warga negara kebanyakan, dan pemulihan lingkungan yang telah rusak. RTRWN ini harus menjadi acuan bagi semua rencana pembangunan, program hingga penerbitan ijin sektoral.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>5.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Memerintahkan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM serta Menteri Kehutanan untuk melakukan optimalisasi penegakan hukum atas segala jenis kejahatan kehutanan dan kejahatan lingkungan lain yang terkait.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>6.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Mengeluarkan Keputusan Presiden untuk perlindungan dan rehabilitasi ekosistem gambut</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>7.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Melaksanakan rekomendasi Komite PBB Penghapusan Diskriminasi Rasial - CERD (CERD/C/IDN/CO/3, 15 Agustus 2007) 3</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>8.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Memulai suatu proses penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang hak-hak Masyarakat Adat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>9.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Memulai suatu proses kaji ulang kebijakan sektor kehutanan, perkebunan dan pertanian skala besar, pertambangan dan energi yang memiliki dampak terhadap emisi Gas Rumah Kaca, yang mempertinggi kerentanan lingkungan dan<span> </span>manusia terhadap dampak perubahan iklim secara transparan dan partisipatif</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>10.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Memastikan dilindunginya hak-hak perempuan seperti yang tertera dalam Konvensi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (CEDAW), bukan hanya karena perempuan dianggap sebagai kelompok rentan namun karena perempuan juga mempunyai peran penting dalam proses mitigasi maupun adaptasi. </span></p>
<p class="ListParagraph"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>11.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt;">Meninjau ulang kebijakan pembangunan PLTU Batubara. Indonesia harus mengurangi perannya sebagai penyedia bahan mentah industri dan kebutuhan bahan bakar fosil dunia, dengan mereformasi pola produksi dan konsumsi energinya. Dan segera mempertimbangkan pengembangan energi terbarukan yang terdesentralisasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;">Kami berharap langkah-langkah segera ini menjadi bagian dari program kerja 100 hari Bapak Presiden. Hal ini akan menjadi <em>historical moment</em> bagi Bapak untuk menyelamatkan masa depan bangsa Indonesia dan membawa Indonesia untuk kembali menjadi pemimpin dalam forum-forum internasional. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: 10pt;">Hormat kami, </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt;">Walhi - Greenpeace - Sawit watch - Down to Earth - IYFFCC (Indonesian Youth Forum for Climate Change) - Rainforest action network - People forest program - ICEL (Indonesian Center for Environmental Law) - AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) - FWI (Forest Watch Indonesia) - Solidaritas Perempuan - HuMa - Telapak - KpSHK (Kelompok pengelola Sistem Hutan Kemasyarakatan) - BIC (bank information center) - Sarekat Hijau Indonsia (SHI) - Jikalahari - Jatam, Kiara - JKPP - Save Our Borneo (SOB) - Scale Up – Pusaka</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-size: 10pt;">Catatan Kaki :</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 115%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"><span>1.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Intervention By H.E. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, President Of The Republic Of Indonesia (On Climate Change At The G-20 Leaders Summit, 25 September 2009, Pittsburgh)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 115%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"><span>2.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">Ekosistem gambut yang dimaksud mencakup keseluruhan ekosistem gambut. Keppres No 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung hanya melindungi lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter sehingga masih memungkinkan adanya konversi lahan gambut dengan kedalaman kurang dari 3 meter.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt 0.75in; text-indent: -0.25in; line-height: 115%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;"><span>3.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%;">International Convention On the Elimination Of all Forms of Racial Discrimination “CONSIDERATION OF REPORTS SUBMITTED BY STATES PARTIES UNDER ARTICLE 9 OF THE CONVENTION” 15 Agustus 2007 - The Committee encourages the State party to continue the review of its laws and regulations in order to ensure their full compliance with the Convention. It also encourages the State party to adopt a comprehensive law on the elimination of racial discrimination, taking into consideration all elements of the definition of racial discrimination provided in article 1 of the Convention, and guaranteeing the right of everyone not to be discriminated against in the enjoyment of all rights enumerated in article 5 of the Convention. The Committee also wishes to receive more detailed information on measures adopted to ensure that regional laws and regulations also comply with the Convention </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwi.or.id/?feed=rss2&amp;p=275</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lembaga Ekolabel Indonesia Harus Hentikan Sertifikasi Pengelolaan Hutan Tanaman Lestari Pada Konsesi Hutan Tanaman Industri</title>
		<link>http://fwi.or.id/?p=144</link>
		<comments>http://fwi.or.id/?p=144#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 09:15:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leodigna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<category><![CDATA[FWI]]></category>

		<category><![CDATA[IKPP]]></category>

		<category><![CDATA[RAPP]]></category>

		<category><![CDATA[Telapak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwi.or.id/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Bogor, 9 Pebruari 2009. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) harus berhenti mengeluarkan sertifikasi  Pengelolaan Hutan Tanaman Lestari (PHTL) bagi perusahaan HTI  yang melakukan konversi hutan alam atau membuka ekosistem gambut ketika membangun hutan tanamannya, demikian diserukan 2 LSM lingkungan, Forest Watch Indonesia (FWI) dan Telapak hari ini.
LEI yang baru saja menyelenggarakan kongres keduanya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bogor, 9 Pebruari 2009. Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) harus berhenti mengeluarkan sertifikasi  Pengelolaan Hutan Tanaman Lestari (PHTL) bagi perusahaan HTI  yang melakukan konversi hutan alam atau membuka ekosistem gambut ketika membangun hutan tanamannya, demikian diserukan 2 LSM lingkungan, Forest Watch Indonesia (FWI) dan Telapak hari ini.<br />
LEI yang baru saja menyelenggarakan kongres keduanya di Bogor telah mengeluarkan sertifikasi PHTL kepada dua perusahaan HTI.  Kedua perusahaan tersebut adalah PT. RAPP di Riau dan PT.WKS di Jambi yang dalam prakteknya melakukan konversi hutan alam menjadi hutan tanaman di areal konsesinya. Sebagian areal konsesi kedua perusahaan ini juga terbukti berada pada ekosistem gambut. <span id="more-144"></span><br />
Wirendro Sumargo, Direktur Eksekutif FWI mengatakan, “Selama ini sertifikasi PHTL LEI hanya melihat kelestarian pengelolaan setelah hutan tanaman terbangun, tetapi melupakan dampak ekologi ketika hutan alam dikonversi terlebih di areal bergambut. HTI yang dibangun dengan melakukan konversi hutan alam menjadi hutan tanaman monokultur jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari”.<br />
Pemerintah sendiri telah mengeluarkan kriteria areal untuk pembangunan HTI yaitu pada kawasan berupa areal kosong dan areal yang penutupan vegetasinya berupa non hutan (semak belukar, padang alang-alang, dan tanah kosong). Akan tetapi kenyataannya banyak HTI yang dibangun pada kawasan hutan bekas tebangan yang masih produktif (logged-over area) atau bahkan pada kawasan hutan perawan ( virgin forest).<br />
Sementara itu pada tahun 2008 pemerintah kembali mengeluarkan ijin baru untuk 18 perusahaan HTI, salah satu di antaranya adalah PT. Semesta Inti Selaras yang merupakan anak perusahaan Medco Group. Perusahaan ini memperoleh ijin konversi hutan alam asli di Papua seluas lebih dari seperempat juta hektar yang berdasarkan pemantauan Telapak sebagian besar di antaranya masih dalam kondisi baik.<br />
“Membuka areal HTI pada kawasan hutan alam dan ekosistem gambut sama artinya dengan mengabaikan resiko deforestasi, kebakaran hutan, konflik sosial, dan perubahan iklim.  Sertifikasi PHTL pada HTI harus segera dihentikan sampai ada jaminan areal HTI tidak dialokasikan pada kawasan hutan alam yang masih produktif dan pada lahan gambut!” demikian kembali ditegaskan Wirendro.</p>
<p>Sementara itu Husnaeni Nugroho, juru kampanye Telapak menambahkan, “Sertifikasi di Sumatera ini terlihat seperti sebuah label kelestarian yang menyesatkan.  LEI harus menghentikan skema ini, atau resiko kerusakan hutan yang sama akan menimpa hutan-hutan Papua.”<br />
# # #</p>
<p>Informasi lebih lanjut:<br />
Wirendro Sumargo, +62-815 9280 585,<br />
<a href="mailto:rendro@fwi.or.id">rendro@fwi.or.id</a><br />
Husnaeni Nugroho, +62-813 2884 1307,<br />
<a href="mailto:unang@telapak.org">unang@telapak.org</a></p>
<p>Catatan Editor:</p>
<p>1.	Forest Watch Indonesia merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan.<br />
2.	Telapak adalah organisasi lingkungan berbasis individu yang berkedudukan di Bogor.<br />
3.	Kongres II LEI diselenggarakan di Bogor pada 7-8 Februari 2009 dan diikuti oleh seluruh konstituen LEI dari berbagai stakeholder.  Keadilan dan kelestarian pengelolaan sumberdaya alam menjadi tema sentral dalam perhelatan empat tahunan ini.<br />
4.	PT RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam pembangunan HTI di bawah payung usaha Asia Pacific Resources International Holdings Ltd. (APRIL). Sedangkan PT WKS (Wira Karya Sakti) merupakan salah satu perusahaan di bawah payung usaha Asia Pulp and Paper Company Ltd. (APP) yang tergabung dalam grup Sinar Mas.<br />
5.	Forest Watch Indonesia melakukan analisis perubahan tutupan hutan antara tahun 1989 hingga 2006 di Provinsi Riau dan Jambi, di mana masing-masing mengalami kehilangan hutan sebesar 3,1 juta hektar dan 1,1 juta hektar. Secara khusus di areal konsesi HTI PT RAPP dan PT WKS, terjadi kehilangan hutan masing-masing sebesar 176 ribu hektar dan 75 ribu hektar, termasuk di dalamnya 71 ribu hektar dan 17 ribu hektar di atas lahan gambut.<br />
6.	Hutan alam dan ekosistem gambut merupakan kawasan yang khas dan memiliki keanekaragamanan hayati tinggi dan penting bagi kehidupan masyarakat adat/lokal yang mendiaminya. Ekosistem gambut juga menyimpan karbon dalam jumlah yang sangat besar.<br />
7.	PT.Selaras Inti Semesta adalah perusahaan  HTI dengan ijin luasan konsesi sebesar 259.000 ha, berlokasi di Distrik Muting, Kurik, Kaptel, dan Animha, kabupaten Merauke, Papua. Hasil analisis data dari dokumen analisis dampak lingkungan (Andal)  yang dilakukan Telapak menunjukkan bahwa 124.456 hektar (48%) dari areal konsesinya merupakan hutan alam dengan kondisi baik, dan hanya 84.247 hektar (33 %) saja yang bukan kawasan berhutan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwi.or.id/?feed=rss2&amp;p=144</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>STOP Penggunaan Kayu Dari Hutan Alam Untuk Industri Pulp</title>
		<link>http://fwi.or.id/?p=111</link>
		<comments>http://fwi.or.id/?p=111#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 09:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leodigna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<category><![CDATA[FWI]]></category>

		<category><![CDATA[HTI]]></category>

		<category><![CDATA[IKPP]]></category>

		<category><![CDATA[RAPP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwi.or.id/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Bogor, 6 Januari 2009. Defisit bahan baku dua raksasa pulp RAPP dan IKPP merupakan akar masalah penyebab kerusakan hutan di Riau. Kedua perusahaan ini sampai saat ini masih mengandalkan pasokan bahan baku dari hutan alam untuk menutup defisit bahan baku dari HTI. Oleh karena itu Forest Watch Indonesia (FWI) mendesak pemerintah segera mengeluarkan kebijakan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bogor, 6 Januari 2009. Defisit bahan baku dua raksasa pulp RAPP dan IKPP merupakan akar masalah penyebab kerusakan hutan di Riau. Kedua perusahaan ini sampai saat ini masih mengandalkan pasokan bahan baku dari hutan alam untuk menutup defisit bahan baku dari HTI. Oleh karena itu Forest Watch Indonesia (FWI) mendesak pemerintah segera mengeluarkan kebijakan yang tegas untuk menghentikan penggunaan bahan baku kayu dari hutan alam untuk industri pulp. Dan meminta kedua perusahaan tersebut melakukan rasionalisasi kapasitas pabrik sesuai dengan kemampuan pasokan bahan baku dari HTI-nya.<span id="more-111"></span><br />
Wirendro Sumargo, Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia (FWI) mengatakan, “Selama ini pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan sektoral yang semata-mata berorientasi pada peningkatan pendapatan, eksploitatif dan tidak berkelanjutan”. Wirendro menambahkan, “Pembangunan pabrik pulp IKPP dan RAPP merupakan salah satu contoh yang membuktikan kecerobohan pemerintah pada saat itu karena kedua pabrik ini mulai beroperasi disaat bahan baku dari HTI sama sekali belum tersedia. Kondisi kekurangan bahan baku pun terus berlanjut karena pembangunan HTI oleh kedua perusahaan ini dan mitranya tidak mampu mengimbangi kapasitas pabrik”.<br />
Operasi pemberantasan pembalakan liar pada tahun 2007 oleh Polda Riau dengan barang bukti berupa kayu bulat sitaan sebanyak kurang lebih 2 juta m3 kayu hutan alam sempat membuat RAPP dan IKPP kekurangan pasokan bahan baku. Kayu sitaan tersebut milik 14 perusahaan HTI yang merupakan mitra keduanya. Hal ini adalah salah satu bukti yang nyata-nyata menunjukkan bahwa kedua perusahaan ini masih sangat tergantung pada pasokan bahan baku dari hutan alam.<br />
Laporan FWI sebelumnya menunjukkan bahwa berdasarkan realisasi penanaman HTI kedua perusahaan tersebut beserta mitra-mitranya hingga saat ini maka dipastikan ketergantungan mereka terhadap pasokan bahan baku dari hutan alam akan terus berlanjut sampai tahun 2014.<br />
“Jadi tidak ada pilihan lain bagi pemerintah selain segera menghentikan pasokan bahan baku industri pulp dari hutan alam. Sedangkan kekurangan bahan bakunya bisa dipenuhi dari pembelian kayu hutan tanaman dalam negeri atau impor, sampai panen HTI-pulp mencukupi”, tegas Wirendro. </p>
<p>Catatan editor:<br />
1.	Forest Watch Indonesia merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan.<br />
2.	RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) merupakan salah satu perusahaan di bawah payung usaha Asia Pacific Resources International Holdings Ltd. (APRIL) saat ini memiliki kapasitas industri pulp sebesar 2 juta ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sedikitnya 9,5 juta ton setiap tahunnya. Selama ini RAPP mendapatkan pasokan bahan baku dari HTI yang dibangunnya ditambah melalui usaha patungan (joint venture) ataupun operasi bersama (joint operation) dan melalui program hutan tanaman rakyat (HTR).<br />
3.	IKPP (Indah Kiat Pulp and Paper) merupakan salah satu perusahaan di bawah payung usaha Asia Pulp and Paper Company Ltd. (APP) yang tergabung dalam grup Sinar Mas. Saat ini IKPP memiliki kapasitas industri pulp sebesar 2 juta ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sedikitnya 9,5 juta ton setiap tahunnya dan mengandalkan pasokan bahan baku dari HTI yang tergabung dalam grup Arara Abadi yang juga berada di bawah grup Sinar Mas, yaitu Sinar Mas Forestry.<br />
4.	RAPP dan IKPP sampai saat ini menguasai 62 persen kapasitas terpasang pulp nasional. <br />
5.	Laporan yang berjudul “Ekspansi Industri Pulp: Cara Optimis Penghancuran Hutan Alam” Contoh Kasus RAPP dan IKPP, dapat didownload di website FWI:<br />
http://fwi.or.id/publikasi/PULP_INDUSTRIES_EXPANSION.pdf</p>
<p>Informasi lebih lanjut, kontak:<br />
Wirendro Sumargo<br />
Direktur Eksekutif<br />
Forest Watch Indonesia,<br />
HP: +62 8159280585,<br />
email: rendro@fwi.or.id </p>
<p>Sekretariat Forest Watch Indonesia<br />
Jalan Sempur Kaler No.26 Bogor,<br />
Telp: +62 251 8323664, Fax: +62 251 8317926,<br />
email: fwibogor@fwi.or.id; fwi@indo.net.id<br />
website www.fwi.or.id </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwi.or.id/?feed=rss2&amp;p=111</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cabut Kebijakan Perpanjangan Batas Waktu Penggunaan Kayu Dari Hutan Alam Untuk Industri Pulp Sampai 2014</title>
		<link>http://fwi.or.id/?p=109</link>
		<comments>http://fwi.or.id/?p=109#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Mar 2009 05:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Leodigna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Press Release]]></category>

		<category><![CDATA[FWI]]></category>

		<category><![CDATA[IKPP]]></category>

		<category><![CDATA[RAPP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fwi.or.id/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Bogor, 13 Januari 2009. Kebijakan pemerintah terkait batas waktu penggunaan kayu dari hutan alam untuk industri pulp sampai tahun 2009 ternyata diperpanjang sampai tahun 2014. Industri pulp sampai saat ini masih mengandalkan pasokan bahan baku dari hutan alam untuk menutup defisit bahan baku dari HTI. Forest Watch Indonesia (FWI) melihat kebijakan ini akan semakin memperburuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bogor, 13 Januari 2009. Kebijakan pemerintah terkait batas waktu penggunaan kayu dari hutan alam untuk industri pulp sampai tahun 2009 ternyata diperpanjang sampai tahun 2014. Industri pulp sampai saat ini masih mengandalkan pasokan bahan baku dari hutan alam untuk menutup defisit bahan baku dari HTI. Forest Watch Indonesia (FWI) melihat kebijakan ini akan semakin memperburuk kondisi hutan. Oleh karena itu pemerintah harus mencabut kebijakan tersebut dan menetapkan kebijakan penghentian bahan baku kayu dari hutan alam untuk industri pulp serta merasionalisasi kapasitas industri pulp sesuai dengan kemampuan HTI-nya.<span id="more-109"></span><br />
Wirendro Sumargo, Direktur Eksekutif Forest Watch Indonesia (FWI) mengatakan, “Selama ini pemerintah banyak mengeluarkan kebijakan sektoral yang semata-mata berorientasi pada peningkatan pendapatan, eksploitatif dan tidak berkelanjutan”. Wirendro menambahkan, “Pembangunan pabrik pulp IKPP dan RAPP merupakan salah satu contoh yang membuktikan kecerobohan pemerintah pada saat itu karena kedua pabrik ini mulai beroperasi disaat bahan baku dari HTI sama sekali belum tersedia. Kondisi kekurangan bahan baku pun terus berlanjut karena pembangunan HTI oleh kedua perusahaan ini dan mitranya tidak mampu mengimbangi kapasitas pabrik”.</p>
<p>Laporan FWI sebelumnya menunjukkan bahwa berdasarkan realisasi penanaman HTI kedua perusahaan tersebut beserta mitra-mitranya hingga saat ini maka ketergantungan mereka terhadap pasokan bahan baku dari hutan alam akan terus berlanjut sampai tahun 2014. Diprediksikan hutan alam seluas 0,57 juta hektar terancam rusak jika kebijakan baru ini tetap diberlakukan.</p>
<p>“Jadi tidak ada pilihan lain bagi pemerintah selain segera menghentikan pasokan bahan baku industri pulp dari hutan alam. Bukan sebaliknya memperpanjang batas waktu penggunaan bahan baku kayu alam yang sudah ditetapkan tahun 2009. Ini sama saja dengan mempercepat kerusakan hutan dan membuktikan kegagalan pemerintah dalam menjalankan program percepatan pembangunan HTI”, tegas Wirendro.</p>
<p>Sementara itu kekurangan bahan baku industri pulp dapat dipenuhi dari pembelian kayu hutan tanaman dalam negeri atau impor, sampai panen HTI-pulp-nya mencukupi.</p>
<p>Catatan editor:</p>
<p>1.      Forest Watch Indonesia merupakan jaringan pemantau hutan independen yang terdiri dari individu-individu dan organisasi-organisasi yang memiliki komitmen untuk mewujudkan proses pengelolaan data dan informasi kehutanan di Indonesia yang terbuka sehingga dapat menjamin pengelolaan sumberdaya hutan yang adil dan berkelanjutan.</p>
<p>2.      RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) merupakan salah satu perusahaan di bawah payung usaha Asia Pacific Resources International Holdings Ltd. (APRIL) saat ini memiliki kapasitas industri pulp sebesar 2 juta ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sedikitnya 9,5 juta ton setiap tahunnya. Selama ini RAPP mendapatkan pasokan bahan baku dari HTI yang dibangunnya ditambah melalui usaha patungan (joint venture) ataupun operasi bersama (joint operation) dan melalui program hutan tanaman rakyat (HTR).</p>
<p>3.      IKPP (Indah Kiat Pulp and Paper) merupakan salah satu perusahaan di bawah payung usaha Asia Pulp and Paper Company Ltd. (APP) yang tergabung dalam grup Sinar Mas. Saat ini IKPP memiliki kapasitas industri pulp sebesar 2 juta ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku sedikitnya 9,5 juta ton setiap tahunnya dan mengandalkan pasokan bahan baku dari HTI yang tergabung dalam grup Arara Abadi yang juga berada di bawah grup Sinar Mas, yaitu Sinar Mas Forestry.</p>
<p>4.      RAPP dan IKPP sampai saat ini menguasai 62 persen kapasitas terpasang pulp nasional.</p>
<p>5.      Laporan yang berjudul “Ekspansi Industri Pulp: Cara Optimis Penghancuran Hutan Alam” Contoh Kasus RAPP dan IKPP, dapat didownload di website FWI:<br />
http://fwi.or.id/publikasi/PULP_INDUSTRIES_EXPANSION.pdf</p>
<p>Informasi lebih lanjut, kontak:<br />
Wirendro Sumargo<br />
Direktur Eksekutif<br />
Forest Watch Indonesia,<br />
HP: +62 8159280585,<br />
email: rendro@fwi.or.id</p>
<p>Sekretariat Forest Watch Indonesia<br />
Jalan Sempur Kaler No.26 Bogor,<br />
Telp: +62 251 8323664, Fax: +62 251 8317926,<br />
email: fwibogor@fwi.or.id; fwi@indo.net.id<br />
website www.fwi.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fwi.or.id/?feed=rss2&amp;p=109</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
