Warga Dayak Benuaq Pun Mengadu Kepada Leluhur

Kotak kayu itu perlahan dibuka. Tampak dua tengkorak manusia di dalamnya, yang ditutupi kain berwarna merah. Andreas Sinko, warga Kampung Muara Tae, Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, segera membersihkan dua tengkorak itu. Kedua tengkorak berwarna kekuningan tersebut diperkirakan berumur 200 tahun. Itulah tengkorak Galoh dan Bulu, leluhur warga Dayak Benuaq di Kampung Muara Tae. Tengkorak itu, dan sejumlah sesaji, dibawa masuk ke dalam hutan adat, pekan lalu. Warga hendak mengadu kepada leluhur, melalui upacara sumpah adat, terkait masalah tata batas yang membuat warga terampas haknya atas tanah adat. Leluhur mereka, Galoh, adalah Raja Muara Tae yang bergelar Mangkuana 2. Bulu adalah seorang tukang mantra. Setelah dibersihkan, kedua tengkorak diletakkan … Continue reading →

Mempertahankan Jati Diri Dengan Upacara Adat Beliatn

Sebuah Cerita dari Suku Dayak Benuaq Ohokng Suku Dayak Benuaq Ohokng “Saat ini suku dayak benuaq ohokng merasa terpojok karena hutan hampir habis. Maka dari itu, mereka melaksanakan upacara adat belian sebagai upaya mempertahankan jati dirinya”. Muara Tae merupakan salah satu kampung yang terletak di Kecamatan Jempang, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Kampung ini memiliki masyarakat adat bernama suku Dayak Benuaq. Suku Dayak Benuaq sejak turun temurun hidup menetap di aliran Sungai Ohokng , sehingga dikenal sebagai suku Dayak Benuaq Ohokng. Sekian lama menjalani kehidupan, suku Dayak Benuaq Ohokng menjaga alam dan hutan sebagai sumber kehidupan mereka dengan kearifan lokal. Namun di tahun 2011, perjuangan menjaga alam menjadi berat … Continue reading →